Allah Itu Roh, Tapi Nyata

22.51 bs 0 Comments


Pdt. Bigman Sirait

Kita akan berangkat dari kitab Keluaran 3: 13-14—Lalu Musa berkata kepada Allah: “Lalu apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya, apakah yang harus kujawab kepada mereka? Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”

Bagaimana memahami secara utuh makna pernyataan Allah kepada Musa ini? Bagian pertama yang perlu kita ketahui, sekarang ada dua istilah: teistik dan ateistik. Teistik adalah percaya akan adanya Allah. Lalu ateistik adalah orang yang tidak percaya Allah itu ada. Kelompok yang percaya Allah itu ada disebut orang beragama. Sedangkan kelompok kedua, katakanlah, diwakili oleh komunisme. Sebetulnya komunisme itu berangkat dari paham materialisme, yang menganggap segala sesuatu itu berasal dari materi. (Tapi ingat, materialisme beda dengan materialistis!)

Materialisme percaya bahwa segala sesuatu itu berasal dari materi. Karena itu tidak ada roh, dan tidak ada yang tak kelihatan. Semua pasti kelihatan, karena materi. Jadi, mereka tidak percaya Allah itu ada. Kemudian pandangan ini masuk ke dalam paham komunisme, sehingga komunisme tampil ateis, tidak percaya Allah itu ada. Tetapi waktu kita bicara teistik (orang yang percaya Allah), muncul lagi persoalan: “Allah yang mana?” Allah setiap agama kan beda. Keyakinan tentang Allah juga beda rumusannya. Tapi kita tidak akan membahas masalah perbandingan agama, tapi memikir-kan tentang Allah yang kita sembah itu seperti apa dan bagaimana?

BACA SELANJUTNYA