Jika Berbuat Dosa, Jangan Lari dari Tuhan

00.10 bs 0 Comments

Pdt. Bigman Sirait
KETIKA seseorang melakukan dosa, biasanya dia dihinggapi rasa takut terhadap Tuhan. Rasa takut pada Tuhan ini ada dalam dua perspektif: negatif dan positif. Tentang rasa takut dalam perspektif yang negatif, ada dalam Kitab Kejadian 3: 10. “Ia menjawab: ‘Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada di dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”
Itu perikop tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa. Dikatakan, manusia itu menjadi takut karena telanjang. Ini alasan yang kurang relevan. Apa hubungannya takut dengan telanjang? Telanjang itu biasa kok. Orang kalau mandi, kan telanjang. Tetapi, apa yang menyebabkan Adam menjadi takut kepada Tuhan sehingga dia harus bersembunyi? Ini takut yang negatif. Takut yang positif adalah takut yang membawa orang datang kepada Tuhan, bersujud di hadapan-Nya. Sementara Adam menghindari pertemuan dengan Tuhan. Di sini kita melihat bahwa rupanya kejatuhan ke dalam dosa itu adalah sumber pertama yang membuat manusia takut berhadapan dengan Tuhan. Sebaliknya, dalam ketidakberdosaan, sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, tidak ada rasa takut, karena pertemuan dengan Tuhan adalah sebuah kegembiraan, dan selalu dinantikan.
Takut karena dosa yang membuat orang melarikan diri dari Tuhan, itu tidak benar. Takut akan Tuhan yang membuat orang merusak dirinya, merusak lingkungan, mempersalahkan sekitarnya, itu tidak benar. Mari mencermati, apakah kita, saudara kita, atau teman kita ada pada posisi itu? Jika Anda merasa takut akan Tuhan sehingga takut untuk berdoa, lalu mencoba membunuh rasa takut itu dengan bersikap masa bodoh, lalu tidak mau tahu lagi akan kebenaran Tuhan, hati-hatilah. Ini bahaya yang perlu disikapi serius, karena bisa membawa kita hanyut makin dalam. Karena akan ada waktunya manusia tidak takut lagi kepada Tuhan sekalipun berbuat dosa, dan ini sangat mengerikan.
Ketika ada teman mengatakan kalau dirinya takut Tuhan karena berbuat dosa,
kita harus memperingatkan dia supaya jangan larut,membuat dia semakin lari jauh dari Tuhan. Kita harus mendorong dia berhenti sejenak menunduk malu dan mengakui dosa-dosanya, bukan lari dari Tuhan. Dalam kenyataan, banyak orang berbuat dosa, bukannya berhenti. Ada anak yang tadinya baik, berubah menjadi jahat. Dosa bisa mengubah sifat yang baik itu dalam sekejap. Karena tidak pernah cukup kebaikan seseorang untuk mengatasi dirinya dari benturan atau kehancuran dosa. Pimpinan Tuhanlah satu-satunya yang bisa membuat orang kuat, memproteksi dirinya dari godaan atau pengaruh dosa. Kalau hanya sekadar kebaikan perilaku, kedewasaan moral, itu tidak akan cukup kuat, dan akan jebol.
read more »