Ketika Tuhan Hanya dalam Omongan

00.17 bs 0 Comments

Pdt. Bigman Sirait

ADA orang berpikir dengan kemampuan manusiawinya, artinya murni pada diri dan hakekat dia. Ada pula yang berpikir dengan pertolongan Tuhan. Berpikir dengan kemampuan manusiawi, adalah bagaimana orang-orang berpikir dengan cara berpikirnya, baik dia beragama atau tidak beragama (rasional). Orang tidak beragama (ateis) berpikir: tidak ada Allah. Mazmur 14: 1 berkata, “Orang bebal berkata tidak ada Tuhan”. Itu menggambarkan bagaimana orang ateis itu membuat kesimpulan atas analisis dan pengertian bahwa Allah tidak ada. Hidup dia adalah dia. Bagaimana dia berjalan, itu adalah keputusan dia. Maka bagi orang ateis, Allah itu omong kosong. Bagi dia, apa yang ada dan kelihatan, itulah yang ada. Jadi Allah itu tidak ada masuk dalam kamusnya.

Orang-orang beragama sebagai satu institusi agama, mereka berpikir dengan cara yang mereka yakini juga. Mereka percaya ada Allah, tetapi tergantung bagai-mana mereka merumuskannya. Ini cara berpikir orang beragama, yang kemudian mengkudeta Allah itu sendiri. Itu sebab kalau agama sebagai institusi, yang muncul adalah radikalisme yang mengerikan. Ada yang bilang mereka itu beragama tapi tidak bertuhan. Tuhan itu cuma diomongkan tetapi tidak tampak di dalam kehidupannya. Sehingga atas nama agama orang-orang ini bisa membenarkan dirinya, menyakiti orang lain. Dia percaya Tuhan, seperti apa dia meyakininya. Anda pun bisa begitu. Anda bisa mengaku Kristen, membaca Alkitab. Tetapi siapa Yesus? Nanti dulu. Bisa jadi berbeda. Mungkin Anda mengenal Yesus berdasarkan pengalaman atau kemampuan memahami, atau yang cocok dengan selera. Sehingga menerjemahkan siapa Yesus itu bisa macam-macam.
Sementara orang yang berpikir rasional selalu menganggap bahwa apa yang masuk akal, itulah yang benar. Dia tidak berbicara soal ada Tuhan atau tidak. Tuhan, kalau masuk akal, oke-oke saja. Jadi ini seperti antara orang beragama dan tidak beragama. Jadi, dia bisa beragama, tapi juga bisa tidak beragama. Jika Tuhan masuk akal, berarti Tuhan ada. Mereka tidak bilang Tuhan tidak ada, tetapi tidak mau terima kalau yang dibicarakan itu supranatural. Bahwa Tuhan bisa membangkitkan orang mati, ada mukjizat, kuasa Tuhan, mereka tidak bisa terima, karena tidak masuk akal mereka.
Kita sering salah memahami kalau orang beragama berpikirnya sudah sesuai kehendak Tuhan. Yang tidak beragama itu kurang ajar. Belum tentu. Itu sebab sering kali kita melihat sesuatu yang chaos, rancu, kacau, karena melihat orang tak beragama kok malah lebih lurus pikirannya dibanding orang beragama. Artinya tingkah lakunya, pola hidupnya, perilakunya. Kita bingung, kok mutu orang tidak beragama lebih baik dibanding orang beragama. Kenapa bisa begini? Jadi jangan kaget menghadapi kenyataan kehidupan kekristenan yang tidak seperti Anda bayangkan. Harus hati-hati. Orang beragama pun bisa berpikir dengan kemampuan dirinya. Dia memperlakukan Alkitab, menerjemahkan seperti apa maunya. Jadi, bukan apa kata Alkitab terhadap saya, tetapi apa yang saya mau, yang harus didukung Alkitab. Baca selengkapnya..