Manusia, Makhluk yang Dipercaya Allah
APAKAH Allah tahu bahwa manusia akan jatuh ke dalam dosa? Jawabnya “ya”, kalau Dia tidak tahu, bukan Allah namanya. Dia mahatahu melintasi segala apa yang ada. Lalu kenapa Allah membuat pohon di tengah taman, yang gara-gara pohon itu manusia jadi berdosa, terpisah dari Allah? Apakah Allah patut dipersalahkan karena sengaja menaruh pohon itu? Tentu tidak!
Karena melanggar perintah Allah. Itulah yang membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Bebal, tidak taat pada firman. Manusia melanggar firman Allah karena kurang percaya kepada Allah. Godaan ular, bahwa mereka akan menjadi sama dengan Allah kalau memakan buah di tengah taman itu, sangat simpatik luar biasa. Tawaran itu seakan-akan sebuah misteri yang ditutup-tutupi Allah, dan sekarang tersingkap bagi manusia, dan kesempatan besar untuk menjadi sama dengan Allah. Suatu godaan yang sangat luar biasa.
Maka Hawa mengambil keputusan dan Adam menyetujui. Ketika Hawa menawarkan Adam tak menolak. Dan mereka sepakat memakan buah pohon itu dengan harapan supaya menjadi sama dengan Allah. Mereka lebih percaya kepada iblis daripada Allah. Maka inti keberdosaan manusia adalah: kurang percaya pada Allah. Manusia lebih percaya kepada setan, mendengarkan kata setan, dan itu membuat manusia hancur.
Ini sering terjadi dalam hidup kita sehari-hari. Kita lebih “percaya” kepada para pengkhotbah yang mengkhotbahkan hal-hal yang mungkin menyenangkan kuping, sekalipun itu tidak ada di Alkitab. Maklum, mental kebanyakan orang Kristen adalah mental mendengar khotbah, bukan mental membaca Alkitab. Padahal seharusnya mental kita terbentuk membaca Alkitab berhubungan pribadi dengan Allah. Khotbah menjadi penumbuhan, penambahan atau semacam penyaringan terhadap seluruh pemikiran kita. Tetapi kita memanjakan diri dengan berbagai khotbah. Dan celakanya khotbah itu bisa jadi datang seperti tawaran setan yang membawa pada kehancuran.

