Melayani Atau Dilayani?

10.42 bs 0 Comments

Bersama:Pdt.Bigman Sirait

SAYA kira kita sebagai umat telah melakukan suatu kesalahan dalam menerjemahkan kata-kata Yesus. Misalnya, selama ini kita terbiasa memakai istilah atau mengatakan: “melayani Tuhan”.

Kebanyakan dari kita bangga dan senang bila disebut sebagai pelayan Tuhan. Kita senang dan bangga bila melayani Tuhan. Ya, kita semua seolah berlomba untuk melayani Dia. Padahal Yesus sendiri pernah mengatakan bahwa Dia datang ke dunia ini untuk melayani, bukan untuk dilayani. Bagaimana kita mengaktualisasikan ucapan Yesus tersebut di atas?

Sahat Halomoan

Sahat di Depok yang dikasihi Tuhan, bicara soal melayani memang memerlukan perspektif yang komprehensip, agar kita tak salah menilai dan pada akhirnya salah menjalani. Mari kita mulai dengan ucapan Yesus Kristus sendiri, yang berkata: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20: 28; Markus 10: 45). Kata yang dipakai di sini untuk pengertian “melayani” adalah “diakonein”, yang meluksikan pelayanan di meja makan. Sehingga gambarannya adalah bagaimana Yesus melayani setiap mereka yang membutuhkan, dengan penuh kasih dan tanggung jawab penuh. Hal ini juga mengingatkan kita akan apa yang dilakukan Yesus ketika membasuh kaki para murid-Nya.

Guru membasuh kaki murid, sungguh tak lazim, dan sangat merendahkan diri guru iru sendiri. Ucapan Yesus Kristus ini sangat tepat sasaran untuk mengoreksi sikap para murid yang justru berlomba untuk menjadi yang terbesar. Sikap yang justru mewarnai kebanyakan para pelayan masa kini, yang memakai pakaian serba wah, mobil mewah, bahkan bodyguard, dengan berbagai alasan diberkati dan lain-lain.

Apakah Yesus tidak diberkati hanya karena Dia tidak naik kereta kuda, atau berbaju mewah seperti para ahli taurat, bahkan menghardik murid-murid-Nya ketika berlaku bagai bodyguard dengan menghalangi anak-anak dibawa pada-Nya? (Sebuah perenungan!) Dengan segera kita bisa mengerti apa yang dimaksud Yesus dengan melayani, yakni bukan melayani diri melainkan memberi diri. Yesus Kristus yang melayani, dengan mencari orang berdosa, menebus dosa mereka, bahkan dengan memberikan nyawa-Nya sendiri di salib. Dia yang tidak berdosa, harus menanggung banyak dosa manusia berdosa, sehingga dalam kematian-Nya manusia dibebaskan, dan dalam kebangkitan-Nya manusia dimenangkan.

Yesus Kristus telah tampil seutuhnya sebagai seorang pelayan yang tidak pernah memikirkan kepentingan diri-Nya sendiri. Hanya saja, awas, jangan sampai salah mengerti, karena Yesus sudah melakukan itu semasa pelayanan-Nya di bumi. Nanti pada kedatangan-Nya yang kedua kali, tentu Dia tidak akan berkata sama, karena Dia akan datang bukan lagi sebagai pelayan melainkan Hakim Agung yang akan menghakimi manusia (Yohanes 5: 22; Ibrani 10: 30; 1 Petrus 2: 23). Jadi, harus dilihat konteksnya.

BACA SELANJUTNYA