Apakah Setiap Opportunity Harus Ditangkap?

23.37 bs 0 Comments

Pdt. Bigman Sirait

DALAM Kejadian 13: 1-13, Abraham dan keponakannya, Lot, menghadapi masalah. Tidak memadainya lahan di Negeb yang mereka tempati setelah keluar dari Mesir, menimbulkan pertikaian. Untuk menghindari pertikaian berlanjut, Abraham menyarankan mereka berpisah. Abraham memberi kesempatan kepada Lot untuk memilih wilayah yang dia sukai. Dan Lot memilih Lembah Yordan yang subur.
Kita sudah melihat bagaimana Abraham dibentuk menjadi bapak orang beriman. Dia pernah gagal tetapi bangun kembali dan membuat hal-hal yang luar biasa khususnya di bagian ini. Perkembangan harta benda mereka sangat luar biasa. Harta Abraham berkembang, harta Lot juga berkembang. Tapi yang perlu kita pikirkan adalah, Lot itu keponakannya yang waktu kecil dibawanya. Artinya, Abraham memberi peluang yang baik bagi keponakannya untuk bertumbuh dan berkembang bersama. Dia tidak memonopoli semua untuk dirinya. Ini bisnis yang sangat kristiani.
Hanya saja kemudian muncul masalah karena lahan. Terjadi perkelahian antara gembala Lot dan gembala Abraham. Tetapi Abraham yang justru mengambil sikap dan berkata: Kita ini sudah diberkati Tuhan dengan harta benda yang luar biasa. Kita ini saudara, kenapa mesti ribut? Janganlah ada perkelahian antara aku dengan engkau, antara gembalamu dan gembalaku sebab kita ini kerabat (ay. 8). Abraham punya sikap dan membuktikan kedewasaannya, sekaligus kepe-kaannya sebagai seorang pe-mimpin. Dia mengambil inisiatif menciptakan damai, bukan pertikaian. Dia tidak meman-faatkan kesempatan sebagai paman, untuk menekan bisnis keponakannya.
0pportunity atau kesempatan, itu yang akan kita pikirkan. Dalam persoalan ini Abraham punya kedudukan tinggi, dan sebenar-nya keputusan ada di tangannya. Menarik ketika Abraham berkata, “Kita baiknya berpisah, karena lahan yang tidak memadai, karena itu pilihlah dan lihatlah, kau mau ke utara aku ke selatan, kau mau ke barat aku ke timur” (ay. 9). Artinya, Abraham memberi kesempatan kepada Lot untuk memilih. Abraham mengambil posisi rugi. Karena kalau Lot mengambil yang terbaik, Abaraham mendapat sisanya.
Di sisi lain kita melihat Lot yang tidak merasa sungkan meman-faatkan kesempatan. Lot tidak memiliki lagi kepekaan hati nurani. Seharusnya Lot mempunyai itu karena sejak kecil ikut Abraham. Tetapi kuatnya dorongan untuk memiliki harta benda yang lebih banyak lagi, membuat Lot menekan suara hati. Bagi Lot ini kesempatan emas yang tidak akan datang dua kali. Bahwa itu kelihatan tidak etis, menyalip paman sendiri, bodoh amat, yang penting dapat.
Secara logika sederhana, Lot betul, tetapi secara etika di mana rasa sungkannya sebagai kepo-nakan. Di mana penghargaannya? Lot menggunakan kesempatan itu untuk memperkaya diri, bukan untuk hormat diri. Mestinya dia mempersilakan Abraham mengam-bil lebih dulu. Itu sebenarnya kesempatan bagi Lot untuk menyatakan sikap yang baik. Tetapi Lot tidak melihat kesem-patan itu, dia mengambil kesem-patan untuk memperoleh materi. Lot ambil kesempatan untuk keuntungan diri, bukan hormat diri. Lot mengambil kesempatan memperkaya diri, bukan mendemonstrasikan harga diri., baca selanjutnya,..