23.44 bs 0 Comments

Hidup Bahagia bila Dekat 'Sumber Hidup' Itu

Pdt. Bigman Sirait

Saudara terkasih, Mazmur
36: 6-10 dengan begitu
indahnya memaparkan bagaimana kasih setia Tuhan dinyatakan dalam kehidupan orang-orang benar. Sang pemazmur melihat bahwa kasih Tuhan itu sampai ke langit. Istilah “kasih Tuhan itu sampai ke langit” untuk menunjukkan betapa tidak terbatasnya kasih itu bagi orang-orang yang dikasihi-Nya, betapa kasih itu melintasi segala ukuran (unlimited), tidak bisa dikurung. Manusia tidak pernah mampu melukiskan kasih Allah. “Dia setia sampai ke awan”, ini untuk menunjukkan ketidakterbatasan kesetiaan Tuhan. Alkitab berkata, “Sekalipun kita tidak setia Dia akan tetap setia”. Ini suatu hal yang luar biasa yang dikerjakan-Nya di tengah kehidupan manusia.
Keadilan-Nya bagai gunung. Satu keadilan yang mengatasi apa pun juga, keadilan yang nyata terlihat, tidak tersembunyi. Sebuah keadil-an yang begitu sederhana untuk dipahami. Dan hukum-Nya seperti samudra menguasai segalanya, menjangkau seluruh tepi, dan tidak bisa dipermainkan. Di sini kita melihat Tuhan itu penuh cinta ka-sih, penuh dengan kesetiaan, pe-nuh dengan keadilan. Maka dalam kehidupan orang-orang percaya, dan mengandalkan Tuhan, pasti ada gairah luar biasa.
Mungkin kita sering berkata,

bahwa mudah mengatakan Tuhan itu penuh kasih, setia dan adil, menegakkan hukum, tetapi dalam kenyataannya kita menga-lami kepahitan dan kegetiran. Habakuk saja, seorang nabi, ber-seru kebingungan atas realita hidup. Ia berteriak, “Mengapa hukum datang terbalik, keadilan dijungkirbalikkan ya Tuhan!” Tetapi justru Tuhan menjawab, “Engkau akan melihat hal yang tidak pernah terbayangkan. Engkau akan melihat hal-hal yang lebih mengerikan!” Gugatan Habakuk bukan dijawab Allah, justru Allah mendemonstrasikan kenyataan yang sangat menakutkan dan tidak terbayangkan (Habakuk 1).
Tetapi yang luar biasa adalah ketika pada bagian akhir Habakuk berkata, “Sekalipun gandum itu tidak panen, tidak akan jadi masalah. Sekalipun tidak berbunga tidak menjadi masalah”. Kenapa dia berkata demikian? Karena Habakuk bukan lagi melihat apa yang dilihat mata, tetapi apa yang hanya bisa ditangkap oleh iman yang dalam dan kuat. Dia menemukan kesejatian bahwa Allah adalah Allah yang penuh cinta kasih, setia, adil, dan menegakkan hukum.
Jika ingin mengenal Allah sebagai sumber hidup, maka kita tidak dapat mengukur Dia dengan logika atau apa yang dilihat oleh mata, tetapi mesti melihat jauh ke dalam, menggali dan mene-mukan kesejatian Allah yang hidup itu, karena Dia memang sumber hidup sejati yang menghidupi kita yang percaya kepada-Nya. Oleh karena itu, sudah pada tempatnya jika kita menaruh pengharapan kepada Tuhan. Sudah seharusnyalah jika kita meletakkan seluruh kehidupan kita di bawah kaki-Nya, dan memasrahkan diri ke dalam pemeliharaan-Nya.
Jadi, setiap orang percaya tidak perlu gentar, melainkan memainkan peran yang diberikan Tuhan sehingga sungguh mengalami kegairahan dalam hidup, beroleh kemenangan karena ketaatan, karena orang-orang yang percaya kepada Tuhan tidak akan pernah ditinggalkan. Mereka akan menemukan kesejatian dalam pengalaman-pengalaman indah, dan berkata, “Tak menjadi penting apakah aku sehat atau sakit, kaya atau miskin, karena bukan itu yang menjadi pemikiranku, tetapi kekuatan keteguhanku berpegang dan beriman kepada Dia, Allah yang hidup itu”. baca selanjutnya,...