Undangan bagi Orang yang Berbeban Berat

23.46 bs 0 Comments

Undangan bagi Orang yang Berbeban Berat.jpg
REFORMATA --Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu…” Demikian undangan Yesus dalam Matius 11: 28-30. Undangan yang luar biasa, simpatik, dan pasti menjadi impian setiap orang. Undangan Yesus ini jelas beda dengan undangan kita, karena ditujukan kepada orang-orang yang punya masalah. Sementara yang kita undang biasanya orang yang tidak berbeban berat, yang dinilai layak memberikan nilai bagi pengundang.
Mari kita pikirkan. Siapa yang mengundang? Yesus Sang Juru Selamat. Siapa yang diundang? Mereka yang letih, lesu, berbeban berat, tertimpa berbagai kesulitan, dan ingin mengalami kelepasan dan kelegaan. Apa syarat undangan-nya? Sederhana saja, yakni mau percaya kepada Sang Pengun-dang, dan percaya bahwa Sang Pengundang mampu mengaktuali-sasi undangannya.
Jika undangan ini datang dari orang yang hanya mengambil keuntungan, yang kita dapat adalah kekecewaan. Tetapi menjadi berbeda ketika undangan itu dari Yesus Kristus, yang tak mengambil untung, bahkan “rugi”, karena Dia harus mengorbankan diri, disalibkan, memberikan nyawa-Nya untuk orang yang diundang-Nya. Secara hitungan manusia Dia rugi, tetapi cinta kasih-Nya membuat itu semua bisa terjadi.
Cinta kasih yang luar biasa.
Mari kita berhenti sejenak untuk merenung: Sudah berapa pan-jang langkah kita untuk melewati hari-hari untuk menemukan ketenangan? Sudah berapa variasi atau usaha yang kita kerjakan untuk menuai damai sejahtera atau kebahagiaan? Mungkin kita mencoba meraihnya dengan banyak cara, termasuk “usaha keagamaan”. Tetapi secara jujur kita harus berkata bahwa kita tidak pernah menemukan ketenangan. Kita tidak pernah mene-mukan kelegaan karena yang ada justru hanya beban, pindah dari satu beban ke beban lain.
Kita terjebak, tampak sangat agamawi, seperti mengalami ketenangan kepuasan dan kelegaan, tetapi dalam batin yang paling dalam kita letih, lesu, menanggung beban berat. Jangan memperpanjang persoalan hidup, jangan menambah beban, entah karena sakit, kesulitan, entah karena pekerjaan, masalah keluarga atau apa pun. Belajar untuk datang kepada Tuhan. Mungkin kau merasa sudah lama berdoa. Entah sudah berapa pendeta yang menumpangkan tangan di atas kepalamu. Entah sudah berapa banyak khotbah yang kau dengar, dari yang biasa-biasa sampai yang menjanjikan kasih karunia, tetapi kau tetap letih lesu dan berbeban berat. Tentu saja kau letih lesu dan berbeban berat karena sejatinya kau tak pernah mencari Dia, Sang Juru Selamat. Kau hanya mau yang enak dari Dia, dari karya-Nya, tetapi kau tidak pernah mencari Tuhan yang sejati itu.
Kelepasan itu tidak tergantung pada pendeta, pengkhotbah. Mereka cuma alat. Belajarlah dari ayat 29: “Pikullah kuk yang dipasang-Nya...” Apa itu kuk? Kuk adalah kayu lengkung yang ditaruh di leher sapi atau kerbau, untuk menarik bajak atau gerobak. Ketika Dia berkata, “Pikullah kuk yang Ku-pasang, belajarlah daripada-Ku…”, artinya kita belajar apa yang menjadi kehendak-Nya, dan menaatinya. Dan jangan lupa, kuk itu menempel pada diri kita. Jadi, kita tak boleh melepasnya.
baca selengkapnya,...