Kelola Sampah, Itu Tanggung Jawab Iman

23.01 bs 0 Comments


Oleh Pdt. Bigman Sirait

Semak duri dan rumput duri menjadi penghalang bagi manusia untuk mencapai kebutuhan hidupnya. Artinya ada tantangan dalam alam. Bukankah sebelumnya seluruh tumbuhan menjadi kenikmatan dan makanan bagi manusia? Bukankah sebelumnya manusia bersahabat dengan alam? Tetapi dosa telah merusak seluruh struktur sistem nilai sehingga terjadilah peristiwa-peristiwa yang akhirnya lari dari desain awal.

Tuhan menciptakan alam ini untuk menjadi tempat tinggal manusia, menikmatinya, dan manusia diberi kepercayaan mengelolanya. Tetapi dosa mengakibatkan alam menjadi lawan manusia. Alam tidak lagi menjadi tempat tinggal yang meneduhkan dan menenangkan. Alam menjadi problem dalam kehidupan manusia. Akhirnya kita melihat pertumbuhan dan perkembangan di dalam hidup manusia justru menunjukkan grafik menurun, bukan menuju kema-panan atau kebaikan. Yang terjadi adalah kerusakan-kerusakan yang tak terhidarkan. Alam semesta tak lagi menjadi sahabat manusia tetapi menjadi ancaman.

Para ahli berpendapat, jutaan ta-hun ke depan bumi akan meledak. Panas bumi makin meninggi akibat efek rumah kaca. Lapisan ozon makin bolong karena bumi makin panas akibat penggun-dulan hutan, asap ken-daraan, dan sebagainya. Maka apa pun yang kita ciptakan menjadi masalah. Contoh sederhana, ma-nusia tidak bisa lagi terlepas dari plastik. Plastik menjadi suatu kebu-tuhan. Tas belanja dari plastik. Kita makan minum dari plastik. Alat-alat rumah tangga didominasi plastik. Plastik digunakan karena memang memiliki keung-gulan, mudah dirawat, murah harga, kuat daya tahan.

Masalahnya, plastik terbuang di mana saja. Di dalam tanah, plastik tidak hancur. Dibutuhkan ratus-an tahun supaya plastik hancur. Jadi, dalam jang-ka waktu pendek saja plastik sudah menimbulkan masalah bagi manusia. Alam rusak karena gaya hidup manusia. Kita membuat polusi, udara tak lagi sehat. Udara yang kita hirup membuat daya tahan hidup kita menurun. Hidup tak lagi menarik karena muncul problem, seperti berbagai penyakit. Karena populasi manusia bertambah, kebutuhan akan air terus meningkat, perse-diaan air menipis, sama seperti persediaan minyak bumi yang terus menipis karena kebutuhan hidup. Kita memakai sumber alam serba over, sementara peme-liharaan, pengendalian kurang. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti air akan mahal luar biasa. Sangat mengerikan jika air menjadi barang langka.

Gaya hidup dan pola hidup yang tidak karuan terus menciptakan kekisruhan pada alam. Pohon-pohon ditebang mengakibatkan berkurangnya daya serap, akibatnya banjir. Ketika banjir melanda, kita berkata kalau Tuhan marah. Padahal kita yang bikin masalah. Toh Tuhan sudah mem-buat ketentuan bahwa kita harus mengelola alam, tetapi kita meru-sak sistemnya. Jika muncul banjir, seharusnya kita tidak berkata, “Tuhan tolong!” Seharusnya kita berdoa, “Ampunilah kami yang menimbulkan baniir ini…”. Tetapi rasa tanggung jawab tak muncul karena kesadaran tidak ada. Padahal kita seharusnya mengelola alam sebagai wujud respon tanggung jawab iman, karena tugas kita adalah mengelola alam yang Tuhan berikan, bukan merusaknya.

BACA SELENGKAPNYA