Natal, Menjembatani Surga dan Dunia

22.55 bs 0 Comments

Pdt.Bigman Sirait

NATAL adalah sebuah perjalanan panjang, dan tidak akan pernah bisa kita ukur atau ketahui dengan tepat karena memang tidak terjangkau oleh kita. Natal adalah sebuah perjalanan luar biasa yang dilakukan oleh Yesus, anak Allah. Ia tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah, Ia mengosongkan diri, menjadi sama dengan manusia. Ia meninggalkan surga untuk datang ke dunia. Bisakah kita mengukur berapa panjang perjalanan surga-dunia? Bisakah kita menjangkau surga dengan alat yang dibuat manusia? Tentu tidak. Surga itu paradoks: terlalu jauh untuk dijangkau, tetapi sangat dekat untuk dipercayai. Iman.

Ketika Yesus melakukan perjalanan dari surga ke dunia, Ia menggunakan “alat” yang sangat luar biasa, yakni kerelaan kehendak-Nya. Itulah yang membuat perja-lanan panjang itu mungkin dilalui. Karena kerelaan Allah menjadi manusia maka perjalanan dari surga ke dunia itu terealisir. Kerelaan kehendak itu menjadi kendaraan yang membawa Dia dari surga mulia, turun ke dunia yang hina.

Natal adalah suatu peristiwa ajaib. Di mana dalam kerelaan kehendak-Nya Ia mau menjadi sama dengan manusia. Tidak ada persamaan antara Allah dengan manusia, tetapi Dia mau melakukan itu. Jadi, Natal membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin: surga dan dunia terjembatani oleh kerelaan Anak Allah, Yesus Kristus, Tuhan kita. Dan kerelaan kehendak ini seharusnya menjadi gambaran yang kuat dalam hidup kita. Seperti yang juga digambarkan Paulus kepada orang-orang di Filipi, bagaimana dengan kerelaan kehendak, kita mampu meniadakan nilai diri, menyangkali kemanusiaan kita (sangkal diri), supaya kita mampu menghargai orang lain.

Jadi, perjalanan Natal yang panjang akan tetap menjadi kekuatan yang tidak bisa diubah, karena surga bertemu dengan dunia hanya oleh karena kerelaan kehendak Yesus untuk menanggalkan keilahian-Nya. Maka di tengah kehidupan manusia, Natal mestinya menjadi sebuah perjalanan panjang yang bisa menjembatani permusuhan, yang seringkali membuat orang terpisah karena kebencian dan kedengkian. Natal harus mampu menjembatani berbagai pertikaian.

Sulit membayangkan bagaimana dunia bisa tersambung dengan surga, karena surga sangat kudus, sementara dunia penuh dosa, cacat dan cela. Alkitab mengatakan manusia tidak mampu melihat Allah yang suci. Keberdosaan kita tidak mungkin diperhadapkan dengan kesucian Allah. Artinya, kita tidak mungkin bertemu dengan Dia. Tidak mungkin kita berhadapan muka dengan Dia. Tidak mungkin kita bisa melihat Dia. Tetapi dalam perjalanan panjang-Nya, dalam kerelaan kehendak-Nya, Ia membatasi diri, melepas atribut keilahian-Nya. Ia menjadi Allah yang terbatas bukan karena terbatas, tetapi karena rela membatasi diri, sehingga Dia bisa ada di tengah-tengah manusia, tanpa kita terpisah atau terbakar di hadapan-Nya. Ia membuat diri-Nya menjadi sama dengan manusia. Betapa luar biasanya. Dalam kerelaan kehendak-Nya Dia telah menyambung surga dan dunia.

Betapa hebat perjalanan itu, karena dari kekekalan Dia meluncur menuju kesementaraan, masuk dan terkurung di dalam ruang dan waktu. Padahal Dia ada di tempat di mana Dia tidak bisa dikurung oleh apa pun juga. Ia melepaskan kekekalan yang menempel pada diri-Nya. Dan dalam kerelaan kehendak-Nya, Dia lepaskan kekekalan itu untuk masuk ke dalam ruang dan waktu, ke dalam kesementaraan.

Pernahkah kita berpikir semangat sama yang seharusnya kita kumandangkan demi memenangkan jiwa demi jiwa seperti Dia memenangkan jiwa dan hidup kita?

BACA SELENGKAPNYA