Orang yang Tidak Bekerja, Jangan Makan!

23.22 bs 0 Comments

Pdt. Bigman Sirait

PEKERJAAN di dalam kekristenan merupakan bagian yang “menempel” pada diri manusia karena memang manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk pekerja. Manusia sebagai makhluk pekerja harus bekerja.

Ada orang yang sejak lahir sudah mengalami cacat dan lain hal sehingga tidak bisa bekerja, tentu ini sebuah pengecualian. Jadi tidak ada alasan untuk tidak bekerja. Karena itu setiap orang jangan menghina dirinya dengan tidak bekerja, melainkan menghargai diri dengan membekali diri untuk bisa bekerja.

Kita harus melakukan pekerjaan sungguh-sungguh. Kita tidak boleh tidak bekerja dengan berbagai alasan yang tidak pas. Rasul Paulus dalam II Tessalonika 3: 10-12, antara lain berkata, “Kalau tidak bekerja, jangan makan!” Ini teguran yang sangat telak terhadap orang-orang di Tessalonika karena mereka diwarnai konsep kekacauan soal kedatangan Yesus, sampai ada beberapa orang dengan kemalasannya, tidak mau bekerja. Paulus menegur mereka dengan keras, “Kalau tidak mau bekerja, jangan makan!” Karena itu pekerja Kristen harus menjadi pekerja yang bertanggung jawab penuh. “Orang yang bekerja berhak untuk makan, yang tidak bekerja jangan makan!” Kalimat ini juga perlu diperhatikan serius oleh kita yang hidup di jaman ini.

Pertarungan di dalam dunia kerja begitu luar biasa. Orang begitu gesit menggunakan waktunya. Bahkan dengan dalih lembur kadang kala orang bekerja lebih 12 jam setiap hari. Untuk meningkatkan harta, orang tidak lagi mengenal hari Minggu sebagai hari libur. Tapi bukan model kerja seperti itu yang dimaksud Tuhan. Kita tidak perlu menjadi workholic, menganggap pekerjaan adalah segalanya, bahkan menjadikan pekerjaan itu tuhan (berhala). Tuhan tidak mau kita seperti itu, dan bukan itu yang dimaksud Alkitab. Kita juga tidak bisa berdalih karena Tuhan Yesus mau datang maka tidak bekerja. Justru Tuhan Yesus mau datang kita harus bekerja baik-baik.

Kesalahan orang Kristen, karena membuat split antara pekerjaan dan pelayanan. Martin Luther berkata, “Ketika engkau bekerja engkau sedang berdoa”. Nah orang membuat split, memisahkan pekerjaan dengan pelayanan, sehingga kadang-kadang pelayanan diberi konotasi sebagai sesuatu yang suci, sakral, lalu kerja itu sekuler. Pemisahan ini kurang bisa dipertanggungjawabkan, karena sebenarnya seluruh aktivitas kita kan untuk Tuhan. Oleh karena itu kita tidak boleh memilah-milah, memisahkan hal itu, sehingga nanti dengan dalih rohani justru tidak bekerja. Nah justru yang tidak kerja itu yang tidak rohani.

Kalau hanya pendeta yang disebut pekerja rohani, dan yang lain sekuler, berarti sorga kosong melompong, karena hanya pendeta yang masuk sorga. Semua orang bertanggung jawab pada prinsip yang sama, tugas yang sama. Kita mengemban tugas untuk bersaksi tentang Tuhan dalam bidang yang berbeda. Karena itu, bekerjalah dengan penuh tanggung jawab.

Baca Selengkapnya