Sikap Radikal terhadap Budaya

22.48 bs 0 Comments


Pdt. Bigman Sirait

Sekarang kita menyoroti tentang sikap konfrontatif atau radikal yang menolak budaya. Penolakan terhadap budaya menjadi sikap yang sangat eksklusif, karena mempertentangkan antara Kristus dan budaya, antara Allah dan dunia. Ada beberapa alasan orang-orang yang secara radikal menolak budaya. Pertama, dunia ini sudah berdosa, jatuh ke dalam dosa, budaya pun demikian. Maka, menurut mereka, budaya itu harus dibumihanguskan. Yang kedua, karena budaya itu berdosa, maka lingkungan atau struktural pun sudah berdosa.

Kita harus jeli dan hati-hati dalam memahami sikap ini. Sebab jika kita mengatakan dunia berdosa, budaya juga berdosa, lalu bagaimana dengan diri kita yang berhubungan dengan dunia dan budaya? Karena lingkungan, budaya, dan struktural sudah berdosa, kita mau tinggal di mana? Kita mau hidup dengan siapa? Kita hidup bagaimana? Apa kita mau hancur leburkan itu semua? Dalam budaya orang Batak misalnya, antar-marga itu bersaudara. Apakah semua ini mau dihancurkan? Dalam lingkungan budaya ada arisan, paguyuban antar-agama, apa itu semua mau dihancurkan juga?

Nah, oleh karena itu, sikap yang ekstrim pada budaya, harus pada tempatnya. Kalau budaya itu mau dihancurkan, bagaimana dengan kita? Apakah kita bisa disebut manusia kalau tidak berbudaya? Manusia yang tidak berbudaya, sama dengan biadab. Tidak bisa dipungkiri kalau ada sisi-sisi budaya, lingkungan, atau struktural yang berdosa. Lalu, apakah semuanya hendak dibumihanguskan? Bahwa dosa harus dihancurkan, itu betul. Tetapi menyangkut budaya, kita harus membedakan antara budaya yang berdosa dan dosa itu sendiri. Yesus benci pada dosa. Tetapi jangan lupa, Yesus cinta orang berdosa. Karena itulah Yesus turun dari surga untuk menyelamatkan orang berdosa. Jadi, kita harus bisa membedakan antara orang berdosa dengan dosa. Dalam kaitan ini, jika ada budaya yang dirusak oleh dosa, maka budaya tersebut perlu diperbaiki, bukan dibuang atau dihancurkan. Budaya yang perlu dikembalikan kepada proporsinya. Dosanya yang harus dihancurkan, bukan budayanya.

Ekstrimis

Orang-orang berpandangan radikal, biasanya tegas dan kukuh pada pendirian. Tapi sikap seperti ini sering malah merepotkan. Bayangkan, mereka tidak segan melakukan tindakan ekstrim demi “membersihkan” sesuatu hal yang dianggap sebagai dosa. Tidak bisa dibayangkan bagaimana wajah dunia ini kalau penghuninya terdiri atas kelompok-kelompok radikal. Jika di Indonesia ini ada kolompok radikal, maka negara ini tidak akan pernah bisa aman. Negeri kita tidak akan damai, kalau rakyatnya adalah kelompok radikal yang selalu memaksakan kehendak. Jika masing-masing pihak bersikukuh bahwa kelompoknyalah yang benar, timbullah bentrokan. Meski merasa diri “hebat”, pada dasarnya mereka pengecut karena hanya berani membenarkan diri sendiri, tidak berani menerima kebenaran orang lain. Sikap seperti ini sama sekali tidak benar.

BACA SELANJUTNYA