Tuhan Kok Bisa Menyesal?
Pak Pendeta, di dalam kitab Kejadian 6: 5-6 tertulis, “Ketika dilihat Tuhan bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah Tuhan bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya”.
Pertanyaan saya, Tuhan kok menyesal? Sebagai Allah yang Mahatahu tentu DIA sudah tahu sebelumnya bahwa manusia itu akan jatuh ke dalam dosa, lalu kenapa DIA tetap menciptakan manusia itu kalau di kemudian hari DIA menyesal?
Alexander Gulo
Sibolga, Sumatera Utara
Alexander yang dikasihi Tuhan, memang sangat tak lazim jika sampai Tuhan menyesal, mengingat bahwa Dia adalah Tuhan yang mahatahu. Kata-kata “menyesallah Tuhan” tidak muncul hanya sekali saja, bahkan ada beberapa kali, antara lain pada Keluaran 32:14, 1 Samuel 15:11, 2 Samuel 24:16, Amos 7:3,6. Dengan segera pertanyaan seperti yang kamu ajukan muncul ke permukaan: Kok Tuhan yang mahatahu bisa menyesal, dan bukan hanya satu kali? Bukankah penyesalan hanya bisa ada pada manusia yang memang serba terbatas, sehingga sangat mungkin salah dalam membuat keputusan yang berakibat pada penyesalan. Apakah memang Tuhan sama dengan kita manusia, sehingga Dia bisa menyesal juga? Mari kita selusuri arti kata “menyesal” ini dengan seksama, dan dari beberapa aspek, sebagai berikut:
1--Biblikal. Dalam Bilangan 23:19, dengan jelas dan tegas dikatakan bahwa Tuhan bukanlah manusia sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia sehingga Dia menyesal. Jadi, dengan segera kita mengetahui bahwa kata “menyesal” yang dipakai pada Tuhan yang mahatahu, tidak sama dengan menyesal dalam konteks manusia yang tidak mahatahu. Bahkan dalam 1 Samuel 15:11, ketika Tuhan berfirman kepada Samuel, dikatakan Tuhan menyesal menjadikan Saul sebagai raja. Namun, di ayat berikutnya (29), Samuel sendiri dengan tegas berkata bahwa Tuhan tidak tahu menyesal, sebab Ia bukanlah manusia yang harus menyesal. Jelas sekali, bahwa Samuel sebagai nabi, sangat mengerti bahwa perkataan menyesal yang diucapkan Tuhan yang mahatahu, tidak sama artinya dan kualitasnya dengan penyesalan manusia yang tidak mahatahu.
Cukup jelas ya Alexander, di mana Alkitab menjelaskan maksud Alkitab itu sendiri, sehingga kita tidak terjebak pada tafsir sendiri. “Allah menyesal” harus, dipahami dalam terminologi yang tepat, dan konteks kata itu dipakai penulis Alkitab. Allah yang mahatahu, tidak akan pernah menyesal pada apa yang direncanakan dan dilakukan-Nya. Lalu mengapa harus kata “menyesal” yang dipakai? Aspek berikut kita perhatikan.
2--Figuratif: Kata yang bersifat kiasan atau penggambaran perasaan Tuhan. Tuhan yang tidak mungkin menyesal, digambarkan menyesal, hendak menunjukkan kedukaan Tuhan yang sangat mendalam atas ketidaktaatan umat-Nya, namun juga sekaligus kemurkaan Tuhan atas pemberontakan mereka. Pemakaian kata ini dalam konteks kedukaan, memberikan makna, di mana Tuhan yang mahakasih melihat kesalahan umat yang dikasihi-Nya sebagai hal yang memprihatinkan. Tapi di sisi lain Dia juga adalah Tuhan yang suci, yang menuntut kesucian umat-Nya. Di sini, pemberontakan sebagai wujud keberdosaan medatangkan murka Tuhan yang harus menghukum umat-Nya yang bebal.
Sifat Allah dalam kemahaan-Nya, membuat Dia tidak dapat mengobral kasih sehingga tidak menghukum, tapi juga tidak mengobral murka sehingga tidak mengasihi. Sebuah kondisi yang sangat yang luar biasa, yang dengan sempurna menggambarkan kemahaan sifat Allah. Kasih Allah yang menebus bersifat adil, karena juga menuntut kesetiaan. Penyelamatan dan penghukuman adalah dua sisi yang tidak terpisahkan dari diri Allah. Kesucian-Nya menuntut pengabdian satu arah, kepada yang satu, yaitu hanya Dia, tidak boleh ada yang lain. Jadi, wajar sekali kata “menyesal” dipakai untuk menunjukkan kasih Allah yang direspon dengan pemberontakan manusia. Tapi ingat, ini figuratif, menggambarkan kesedihan mendalam dari kesucian Allah dalam memandang keberdosaan umat-Nya, bukan karena ketidaktahuan-Nya. Ini bukan penyesalan karena keterbatasan-Nya, tapi sebaliknya, karena tak ada kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan kedalaman duka Tuhan karena dosa manusia.

