Masalah Bertubi-tubi, Adakah Solusi Teologis?

10.07 bs 0 Comments

Bapak Pengasuh.

Ketika persoalan bertubi-bertubi, kemampuan untuk datang kepada Tuhan melalui doa terasa begitu sulit. Apa yang menyebabkan hal ini? Saya mulai membatasi diri untuk tidak terlalu terlibat di luar, sebaliknya lebih banyak mendiamkan diri dan bergumul sendiri. Apakah ini baik?

Menurut Bapak Pengasuh, mengapa kesadaran seseorang membutuhkan Tuhan tidak mampu membuat dia datang kepada Tuhan, dan tenang menghadapi hidup ini? Sebaliknya dia malah lebih sering menjauh, menyalahkan diri, menutupi diri dan sulit bangkit dari keterpurukan rohani serta relasi baik dengan Tuhan maupun sesama? Pernah terpikir dengan datang pada seorang psikolog untuk mencurahkan semua yang sedang terjadi, namun ternyata itu pun tidak menyelesaikan persoalan saya. Bagaimana peranan teologi bisa menyelesaikan persoalan manusia di dunia ini?

Fenstev, Menteng

Fenstev yang dikasihi Tuhan, memahami hidup ini sepenuhnya bukanlah hal yang mudah. Memang ada bagian yang terbuka untuk kita pahami, namun juga ada area yang tertutup bagi kita sebagai manusia yang terbatas (Ulangan 29: 29). Hal ini seringkali menimbulkan konflik di dalam diri sendiri. Namun jika kita mampu berserah secara aktif kepada Tuhan, maka itu akan menjadi kekuatan utama dalam melewati berbagai hadangan dalam menjalani kehidupan ini. Ini sebuah paradoks, cobalah pikirkan, kita tidak tahu akan hari esok, tapi kita pasti tahu bahwa esok Tuhan pelihara kita. Jika kita ngotot dan merasa harus tahu secara detil, apa bentuk pemeliharaan Tuhan untuk hari esok, maka kita akan frustrasi dan bisa menjadi seorang atheis (Yesaya 55:8-9).

Manusia diciptakan dalam keterbatasan, namun jangan lupa keterbatasan itu justru menjadi ciri kesempurnaan manusia. Kita terbatas mengetahui secara pasti hari esok, khususnya kematian kita. Tapi itulah sebabanya kita dapat menjalani hidup dalam canda dan tawa, karena kita tidak tahu, bahwa mungkin setelah itu kita akan mati. Andai kita tahu pasti, bahwa kita akan mati, betapa sengsaranya detik-detik hidup ini. Di sisi lain kejatuhan ke dalam dosa telah membawa manusia ke dalam konflik yang tak kunjung usai, sebuah pertarungan yang terus-menerus di dalam diri, antara berserah kepada Allah dan menyerah kepada dunia. Rasa kecewa dan senang, khawatir dan tenang, kesendirian dan penyertaan, datang silih berganti menghampiri diri ini. Seakan-akan kita dikurung pada dikotomi yang tak pasti. Itulah sebab, dalam iman kepada Yesus Kristus Tuhan, orang percaya diteguhkan, sehingga di penderitaan tetap saja ada kebahagiaan. Luar biasa ya.

Baiklah, sekarang coba kita pahami apa yang menjadi pergumulan kamu. Kita mulai dari persoalan datang bertubi-tubi. Sebuah definisi yang tentu saja relatif, karena sangat tergantung pada perspektif teologi kita. Cobalah lihat kasus Ayub. Bagi istrinya, itu sebuah ketidakadilan Allah yang membiarkan harta mereka hilang, dan anak-anak mereka binasa. Namun bagi Ayub tidak ada yang salah pada Allah. Ayub sangat menyadari kedaulatan Allah yang melintasi apapun, dan juga sadar sepenuhnya apapun miliknya, itu mutlak berasal dari, dan milik Allah sepenuhnya. Perbedaan sikap Ayub dan istrinya menunjukkan perbedaan perspektif teologi mereka.

...BACA SELANJUTNYA