Yesus Mati, Atau Hanya Pingsan?
Bapak Pengasuh yan kami hormati.
Berdasarkan Khotbah Populer tentang Pengakuan Iman Rasuli (edisi ke-83 tahun VI, 16-31 Mei 2008). Yang menjadi pokok diskusi yaitu Dia bangkit karena mau-Nya sendiri bukan dibangkitkan… Jadi, apakah Yesus membangkitkan diri-Nya sendiri atau dibangkitkan pihak lain dalam hal ini adalah Allah?Jika Kristus mau-Nya sendiri bangkit, kapan saja Ia mau. Maka kematian-Nya dipertanyakan, apakah Yesus benar-benar mati atau hanya mati suri?. Jika mau-Nya sendiri bangkit berarti mau-Nya sendiri mati, dan itu bertolak belakang dengan Firman Tuhan. Jika mau-Nya sendiri, maka benarlah apa yang diyakini oleh sebagian orang bahwa Yesus tidak mati, hanya pingsan, di mana setelah sadar, Ia pergi memberitakan Injil di berbagai tempat.
Tolong berikan penjelasannya.
Hermanus Tenda
Palu
YANG terkasih, Saudara Hermanus di Palu. Menyenangkan sekali jika semakin banyak orang menanggapi dengan kritis tiap apa yang patut untuk ditanggapi. Ini akan menjadi pembelajaran bersama bagi semua umat Tuhan di mana saja. Sekarang mari kita bahas apa yang menjadi inti pertanyaan di atas. Kita mulai dengan kata, “Jika mau-Nya (Yesus Kristus) sendiri bangkit berarti mau-Nya sendiri mati, itu berarti bertolak belakang dengan Firman Tuhan”. Tentu saja tidak, bahkan sebaliknya. Tentang kematian-Nya bukankah Yesus sendiri berkata dalam keempat Injil: Kepada-Mu, Bapa Kuserahkan nyawa-KU (Matius 27:50, Markus 15:37, Lukas 23:46, Yohanes 19:30).
Dari keempat Injil dengan segera kita menemukan gambaran yang sangat jelas betapa Yesus rela untuk mati, rela menyerahkan nyawa-Nya, untuk menebus dosa manusia. Apakah ada manusia yang sanggup meniadakan, membinasakan, Yesus yang Allah? Jika ada, maka itu berarti Dia bukan Allah. Tetapi sekalipun Dia Allah, Dia rela menjadi manusia dengan mengosongkan diri-Nya (Filip 2:6-8). Yesus telah membatasi diri sebagai Allah (baca juga REFORMATA Edisi 85, rubrik Konsultasi Teologi), sekalipun Dia adalah Allah yang tidak terbatas.
Nah, di sinilah kunci memahami kasih Kristus yang melintasi, melebihi apa pun. Kasih yang tak mengenal batas, yaitu ketika Dia rela untuk mati demi penebusan dosa, sekalipun Dia adalah penguasa atas hidup ini. Dia adalah Yesus Tuhan yang telah menghidupkan putri Yairus, anak janda dari Nain, dan Lazarus. Memang Dia mati melewati proses yang Dia rela ada di dalamnya, yaitu pengkhianatan Yudas, para imam, hingga Pilatus, dan eksekusi di kayu salib oleh militer Roma. Tetapi ingat, Dia rela mati, dan karena itu Dia menyerahkan nyawa-Nya, bukan mempertahankan-Nya, sekalipun Dia amat sangat bisa untuk itu.
Semua yang berkomplot untuk membunuh Yesus telah dipakai iblis, tapi bukan berarti mereka sukses dan Yesus kalah, tapi justru sebaliknya. Kerelaan-Nya untuk mati, memang adalah mau-Nya Dia, kehebatan Dia, bukan kehebatan setan. Sementara tentang kebangkitan-Nya, Yesus sendiri telah mengatakan hal itu jauh sebelum kematian-Nya (Matius 16:21, Markus 8:31, Lukas 9:22, Yohanes 8:20). Di Injil Yohanes dengan tegas diingatkan bahwa Yesus telah mengatakan akan kebangkitan-Nya, jauh sebelum kematian-Nya, tetapi murid-murid tidak memahaminya hingga hari kebangkitan Yesus itu sendiri.
Yesus bangkit tidak seperti Lazarus atau yang lainnya yang dihidupkan oleh Yesus. Mereka hidup kembali, mendiami tubuh yang lama, memori, dan kehidupan sebelumnya. Yesus Kristus bangkit sebagai yang sulung, yang menjadi pengharapan kebangkitan bagi setiap orang percaya. “Yesus dibangkitkan oleh Allah”, bukanlah ucapan yang salah, karena memang dicatat dalam Kisah Rasul dan surat Rasul Paulus. Tapi, itu bukan dalam konteks Yesus Kristus tidak bisa bangkit sendiri. Ingat Yesus Kristus telah beperang dan telah menang, dan mengalahkan maut. Yesus dibangkitkan oleh Allah menunjukkan kemanunggalan karya kebangkitan, dan bukan pemisahan karya.
...BACA SELANJUTNYA

