APAKAH MASIH ADA NATAL DI GEREJA ?

02.25 bs 0 Comments

Sekilas, judul di atas terasa sinis, dan sebagai pertanyaan tampak agak bodoh. Masak iya dipertanyakan tentang apakah di gereja masih ada Natal. Jika kepada majelis jemaat, pengurus gereja disuguhi pertanyaan ini, maka secara serentak mereka akan menjawab, “So pasti, Natal selalu ada di gereja”. Pak Pendeta, apalagi, dia akan menjawab lebih bersemangat, karena memang beliau yang bertugas menyampaikan khotbah Natal.

Sementara, jemaat yang sudah hafal tanggal dan waktu-waktu perayaan Natal di gereja, jauh-jauh hari sudah bersiap-siap menyambut Natal. Anak sekolah Minggu, remaja dan pemuda tak lupa dengan latihan-latihan seperti paduan suara, drama dan musik, dan sebagainya. Pokoknya semua tampak jelas banget, khususnya dengan adanya pohon natal dan aneka aksesorisnya. Yah, semua orang bergairah menyambut Natal. Yang lebih “manis” lagi adalah adanya bazaar Natal atau pasar murah hingga christmas carol.

Namun, di luar suasana yang semarak itu, selalu tersisa ruang besar, di mana tampak banyak orang yang terpojok dengan raut wajah bagai menanggung sejuta beban. Raut muka keras, miskin senyum, nyaris tanpa ekspresi. Tak jelas apa yang terpendam di dalam hati mereka, tapi yang pasti kemiskinan telah menjajah seluruh rasa kemanusiaannya. Kerasnya pertarungan dalam hidup semakin menyempurnakan kedukaan mereka. Ya, mereka terperangkap di sana.

Di sisi lain, di bawah gemerlapnya lampu kristal mahal, dan nuansa yang supermewah, tampak juga wajah layu dengan tatapan mata kosong. Entah apa yang terjadi dengan mereka, tapi yang pasti suasana hatinya sangat kontras dengan kegemerlapan yang ada di sekelilingnya. Para pemusik memainkan instrumen dengan lincah dan penuh semangat. Begitu pula para penyanyi yang membawakan lagu-lagu Natal dengan penuh penghayatan, sangat menggugah emosi. Sayang, dalam kegirangan itu, hati mereka sebenarnya dilanda kegersangan. Semua terpenjara oleh rasa yang berbeda, namun sama tak berdaya.

Lampu-lampu pohon natal serta aneka aksesoris yang menghiasi gereja tidak mengubah gundahnya perasaan. Orang miskin, orang kaya, para artis, pergi ke gereja dengan balutan hati yang sama: berduka. Senyum dan tawa bukan milik hati mereka. Orang lain melihatnya, mereka tak merasakannya.

Yang tampak unik adalah filsuf. Dia kelihatan gelisah di antara keramaian Natal. Kegelisahan dia bukan karena kekacauan hatinya, melainkan justru oleh tawa orang di sekitarnya. Filsuf bingung dengan makna tawa orang banyak. Filsuf gelisah dalam kebingungannya memikirkan Natal: Apakah betul Allah menjadi manusia? Apakah betul Yesus, bayi Natal itu, juru selamat manusia? Apakah betul DIA bakal menebus dosa manusia?

Ayunan pertanyaan itu datang silih berganti, mampir di hati sang filsuf. Lalu, mengapa filsuf harus gelisah? Kegelisahannya ternyata bermula dari rasa ingin tahu yang berujung pada kebingungan. Filsuf melangkah ke gereja dengan harapan mendapat secercah inspirasi untuk memecah misteri Natal. Namun, perilaku orang-orang yang ada di gereja itu justru menimbulkan kebingungan bagi sang filsuf. Sebab, tak ada seorang pun yang dia lihat merenung, mengingat dan memikirkan, mengapa Yesus, anak Allah itu mau meninggalkan surga dan lahir hina di dunia.

Di gereja, saat merayakan Natal, semua orang tertawa. Tapi di mata filsuf, tawa itu lahir karena “ekstasi” (perasaan senang yang berasal dari luar), bukan lahir dari dari proses katarsis (perenungan yang memberi pembaharuan). Dengan kata lain, sang filsuf melihat tawa peserta Natal itu didominasi suasana ekstasi. Bagi sang filsuf, seharusnya tawa itu lahir melewati proses katarsis, yang timbul dari perenungan yang dalam.read more...
Ditulis untuk Tabloid Reformata/www.reformata.com