SELAMAT TAHUN BARU YANG LAMA

02.26 bs 0 Comments

Tahun Baru (1 Januari), sebagai perayaan terus melesat maju memimpin Natal (25 Desember). Apa maksudnya? Apakah ini sebuah persaingan sehingga ada yang maju dan ada pula yang tertinggal? Yang pasti, Alkitab tidak pernah menganjurkan, apalagi memerintahkan umat kristiani berbondong-bondong bertahun baru. Natal (25 Desember), memang memiliki makna teologis dan historis bagi iman Kristen. Momen ini penting sebagai perhentian bagi umat, untuk merenung kesediaan Juru Selamat, melawat umat yang bejat karena dosa.

Berabad-abad, peringatan itu bergerak dinamis dalam pasang surut kesadaran umat. Hanya saja, kecenderungan akhir-akhir ini tampak agak menjebak, yakni lumuran kemewahan atas Natal dengan alasan perayaan besar. Padahal, sejatinya kebesaran Natal tidak pernah digambarkan Alkitab dalam perayaan, melainkan dalam kerelaan Sang Juru Selamat, untuk bertemu umat (sekalipun berlangsung dalam nuansa penolakan, dan tidak ada tempat yang tersedia bagi DIA).

Nah, dalam kebesaran perayaan Natal inilah tahun baru mendompleng. Dari semula hanya sekadar menempel, kini Tahun Baru telah menjadi bagian yang “sejajar” dengan Natal. Namanya selalu tertera bersama Natal (Selamat Hari Natal dan Tahun Baru—Merry Christmas and Happy New Year). Lalu, dalam perjalanan menuju era modern hingga ke pangkuan postmo, kini, perayaan ini didominasi oleh tahun baru. Ajang populernya disebut Old & New. Ditunggu orang di seantero dunia, dirayakan semua komunitas, mulai dari yang bermoral hingga amoral.

Yah, Tahun Baru memang telah menjadi peristiwa besar, dan akan terus semakin besar, seturut dengan gairah manusia akan perayaan-perayaan yang besar. Malam Natal (24 Desember) tidak lagi semegah malam Tahun Baru (31 Desember). Dan, ironisnya, dalam kesyahduan pun, Natal kehilangan gregetnya. Natal hanya syahdu dalam lagu “Malam Kudus”, selebihnya tidak. Untuk ukuran “mewah”, Natal kalah dari Tahun Baru. Ringkasnya, Natal telah krisis identitas akibat ulah umat yang kurang hikmat. Padahal sejatinya, semangat Natal harus tetap pada nuansa Natal pertama: syahdu, sarat renungan, tapi penuh sukacita karena DIA telah datang di dalam hidup orang yang percaya.

Sementara itu, Tahun Baru semakin megah dan pongah, sepongah semangat manusia yang selalu merasa paling hebat. Mereka yang tidak berpunya tersingkir ke pinggir, tidak ada yang mau berbagi dengan mereka. Dan yang paling menyedihkan adalah, semakin mewahnya perayaan Tahun Baru, Natal seakan tidak mau kalah, ia terpancing ikut bertanding. Dan ini membuat Natal semakin jauh dari jati dirinya, kekhusukan malam yang kudus itu tiada lagi. Kebersahajaan Maria dan Yusuf saat menjaga Bayi Kudus, makin sulit diimajinasikan, apalagi pribadi Sang Bayi Kudus. Kesukacitaan para gembala tak lagi kita punya, karena itu hanya tinggal kisah saja. Natal telah berubah menjadi hingar bingar tanpa arah.read more...
Ditulis untuk Tabloid Reformata/www.reformata.com