ANTARA NUBUATAN DAN BUAT BUATAN
SANGATLAH menyenangkan menelusuri dan menggali tiap sisi Alkitab, semakin hari kita semakin diperkaya oleh kebenaran, sekaligus penelanjangan terhadap kepalsuan. Kebahayaan penyesatan semakin menggila, karena kita mengabaikan penggalian dan penyelidikan isi Alkitab. Padahal, Alkitab dengan jelas memperingatkan umat agar tak sekadar menerima apa yang dikatakan pengkhotbah, atau nubuatannya, tapi juga harus mengujinya (1 Tesalonika 5: 19-22).
Ada terlalu banyak ajaran sesat, begitu juga nubuatan palsu. Nubuatan atau “buat-buatan”, adalah istilah dalam mengugat nubuatan palsu. Nubuatan demi nubuatan, yang menampilkan banyak pengkhotbah lebih mirip peramal ketimbang penyampai kebenaran. Mereka tak lagi menggali kebenaran Alkitab, tapi bergantung pada suara, yang distempel sebagai suara Allah. Ironisnya, tak sedikit dari nubuat yang terucap justru bertolak belakang dengan semangat Alkitab. Kini, di kegendenganjaman ini, pendeta lebih dipercaya daripada Alkitab itu sendiri. Ribuan alasan diluncurkan, khususnya bersembunyi di balik kata karunia. Memang Pak Anu, Bu Anu, karunianya nubuatan atau penglihatan, bukan pengajaran.
Akhirnya, jika si penubuat tak banyak mengerti Alkitab, umat tetap menerimanya. Aneh bukan? Hamba Allah, kok tidak menguasai Firman Sang Allah. Di sisi lain, bagaimana menguji itu benar atau tidak, jika tidak mengerti ajaran yang benar? Tapi era postmodernisme ini, perasaan menjadi dewa, sementara kebenaran tergantung pemahaman diri. Apa yang kau pahami, apa yang kau yakini, itulah yang benar, adalah motto postmodernisme. Kebenaran Alkitab dipinggirkan, pengkhotbahnya yang ditonjolkan. Sungguh mengerikan, tapi itulah jaman edan yang harus dilawan. Kebenaran Alkitab harus ditegakkan dan umat Allah harus menaklukkan diri pada kebenaran sejati, yaitu Firman Allah.
Adalah kisah menarik dalam Perjanjian Lama, tentang nabi yang doyan “buat-buatan”. Dalam 1 Raja Raja 22, tercatat jelas peran nabi-nabi bayaran. Ketika Ahab menjadi raja Israel, di istananya, dia memiliki tidak kurang dari 400 nabi yang bernubuat baginya (1 Raja Raja 22: 6). Sebagai raja, Ahab tampak “sangat rohani”, dengan keberadaan para nabi itu. Lihat saja jumlahnya yang banyak, 400 nabi. Ahab dikisahkan berminat merebut Ramot Gilead dari tangan Raja Aram. Sebagai raja Israel, dia mengajak Yosafat raja Yehuda untuk bersatu padu menggempur Aram (waktu itu Israel telah terpecah menjadi dua kerajaan, di selatan: Yehuda, di utara: Israel). Yosafat tak serta-merta mengiyakan ajakan Ahab, dia mau tahu apakah rencana ini kehendak Allah.
Menarik, dan sangat rohani sekali bukan? Ahab ternyata telah siap dengan 400 nabinya yang sepakat bernubuat (istilah kerennya konfirmasi). Sudah dikonfirmasikan (ingat 400 nabi), Ahab akan menang berperang, dan mereka berkata, ”Majulah! Tuhan akan menyerahkannya ke dalam tangan raja”. Namun Raja Yosafat ternyata merasa masih belum merasa pasti, dan berharap masih ada nabi yang lainnya. Ternyata memang masih ada, yakni Mikha. Namun Mikha adalah nabi yang tidak disukai oleh Ahab sang raja, karena terkenal lurus, bernubuat sesuai kehendak Allah, bukan untuk menyenangkan telinga raja.
Ya, Mikha nabi yang bernubuat, bukan nabi “buat-buatan”. Akhirnya, atas permintaan Yosafat maka Mikha pun diundang ke istana untuk didengarkan pendapatnya. Dasar raja yang mau-maunya sendiri, maka utusan pun dipesan agar menyampaikan kemauan raja kepada sang nabi. Dengan entengnya, sang utusan meminta Nabi Mikha ke istana agar benubuat sesuai keinginan raja. Tiba di istana, dengan nada mengejek Mikha bernubuat sesuai pesanan. Ahab menyadari hal ini, tersinggung dan menegur Mikha agar berbicara benar. Segera Mikha mengucapkan kata-kata yang benar dan keras kepada raja, bahwa raja akan kalah berperang dan pasukannya akan tercerai-berai. Kebenaran diungkapkan, raja berang. Di sisi lain, Zedekia, nabi istana, juga tak kurang marahnya. Zedekia menampar Mikha dan mengklaim diri sebagai yang dipenuhi Roh Allah. Aneh tapi nyata, dipenuhi Roh Allah, tapi tindakan preman. Kisah ini dengan segera mementaskan nabi Mikha yang dipenuhi Roh Allah, dan bernubuat dengan benar, sementara di sisi lain ada Zedekia nabi yang ”buat-buatan”. Zedekia bernubuat demi telinga raja, dan demi kenikmatan istana.
Zaman terus bergerak, melahirkan banyak perubahan, namun yang satu ini tetap sama, yakni ”buat-buatan”. Nabi model Zedekia tetap eksis, dagangannya pun sama, yaitu ”buat-buatan”. Mereka mengucap kata ”buat-buatan”, seakan tahu apa yang akan terjadi di depan. Bak peramal, mereka membual, tentang bencana alam, politik, ekonomi, dan isu lainnya. Yang celaka gayung bersambut, ”buat-buatan” ternyata memiliki banyak peminat. Semakin hari barisan semakin panjang. Seperti Zedekia, nabi ”buat-buatan” yang berjumlah 400 orang, kini bukan hanya sang ”nabi”, tapi pengikutnya juga luar biasa jumlahnya. Barang palsu selalu lebih laku, dan menguntungkan, ternyata juga berlaku dalam dunia rohani. Mudah diterima, memenuhi emosi, dan minat mistik yang tinggi, dengan baju yang rohani, maka semua tampak ”sempurna”.
Nabi ”buat-buatan” semakin merajalela, dan atas nama jumlah banyak, menetapkan diri sebagai yang diberkati. Mereka lupa ayat suci, banyak yang dipanggil sedikit yang dipilih. Kualitas diabaikan, kuantitas dipuji-puji. Di sisi lain, nabi ”buat-buatan”, sama seperti era Zedekia, dekat dengan gaya hidup istana dan penuh fasilitas mewah. Sangat berbeda dengan Mikha, nabi yang berjalan lurus justru terpojok di penjara. Yang sekarang, kemewahan menjadi ciri-ciri utama nabi ”buatbuatan”. Mereka seperti selebritis, dengan fasilitas berkelas. Tak terlihat sebagaimana layaknya gembala yang melayani, maka mereka selalu menuntut pelayanan.
Nubuat yang ”buat-buatan” meluncur dari mulut yang terlatih, semua mengalir dengan fasih. Tumpangan tangan tampak ringan, mengarah kepada mereka yang beruang. Sesekali orang susah diperhatikan, yang miskin dipedulikan, tapi ini tak murni, tak lebih hanya iklan, yang memang mampu memanipulasi banyak orang. Di sisi lain, demonstrasi karunia persis seperti pesulap, pesugesti, peilusi, mampu menebak tanggal lahir, nama, bahkan isi dompet Anda. Gilanya, semuanya tepat, dan lebih gila lagi umat menikmati. Sekalipun tak ada ajaran, atau kasus para nabi, atau rasul, dengan semangat seperti ini, alias tak cocok dengan pesan Alkitab. Tapi daya tarik nabi ”buat-buatan” memang fenomenal, seperti kata Alkitab, nabi-nabi palsu itu akan membuat banyak mukjizat dan menyesatkan banyak orang (2 Tesalonika 2: 9-12). Sebuah peringatan yang sangat jelas, tapi tetap saja ada umat yang terjebak pada perangkap mukjizat mereka.
Iblis memang selalu sukses melakukan manipulasi mukjizat, namun tak pernah bisa menduplikasi kasih yang sejati. Nabi ”buat-buatan”, selalu mengklaim diri dekat dengan Allah, mendengar bisikan Allah, dan hal supranatural lainnya. Semua sering diucapkan sebagai indoktrinasi terhadap umat. Dan, hebatnya mereka sukses besar, lagi-lagi seperti kata Alkitab. Dan Alkitab memang benar. Walaupun dengan kasat mata, segera terlihat nyata, moral yang kurang terpuji, mata duitan, gila fasilitas, bahkan lengkap dengan tukang pukul (sekalipun khotbahnya selalu tentang Allah yang mahakuasa, pelindung yang luar biasa). Haruskah Anda terkesima dengan yang mengaku nabi, dan suka ”buat-buatan”? Sehingga Anda gelap mata, dan mengabaikan Firman Alah yang sejati? Sebuah pertanyaan yang membutuhkan perenungan. Semoga Anda menemukan jawaban yang benar.q

