MUDA KAYA, TERTUNDA KE SURGA

16.45 bs 0 Comments




KISAH si muda yang kaya raya dalam kitab Injil sinoptik (Matius 19: 16-26, Markus 10: 17-27, Lukas 18: 18-27), sangat menarik minat. Tercatat di sana, sebuah perpaduan yang luar biasa, yakni seorang muda usia namun sudah memiliki banyak harta. Ya, dia muda dan kaya, bahkan Alkitab menyebutnya sebagai orang yang punya banyak sekali harta, sangat kaya. Dalam kemudaan usia, dan kekayaan yang melimpah, ternyata dia juga tertarik soal-soal rohani. Dia menemui Yesus, dan mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat krusial. Menyebut Yesus sebagai guru yang baik, si muda kaya bertanya, “Apakah yang harus kuperbuat agar mendapatkan hidup yang kekal?”  
Masih muda sudah berpikir tentang hidup kekal, seakan memberikan gambaran tentang si muda yang ternyata tak hanya kaya tapi juga cukup bijaksana. Ya, dia bijaksana, karena tak hanya memikirkan perkara dunia, tetapi juga memikirkan perkara surga yang jarang terlintas di pikiran kebanyakan orang muda. Orang muda pada umumnya sangat yakin akan berumur panjang, dan hanya berminat pada diskusi kekinian saja. Kematian bagi mereka bukan hal yang perlu diperhatikan, sementara soal kekekalan seringkali dianggap hanya sebagai diskusi orang lanjut usia, atau orang yang terlalu serius beragama. Karier, menggapai kekayaan, pasangan hidup, itulah yang ada di benak banyak orang muda. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan menggambarkan orang muda ini sebagai manusia dalam perpaduan langka.
Diskusi dengan Yesus berlangsung singkat, namun berakhir dengan sangat berat. Ketika Yesus menjawab dengan mengingatkan tentang prinsip hukum Taurat, khususnya yang dalam relasi dengan sesama manusia, maka dia menjawab tegas, “Semua itu telah kuturuti”. Wow, luar biasa sekali! Muda, kaya, melakukan perintah Taurat, dan berminat atas nilai hidup kekal, ah, ini benar-benar hebat. Diskusi itu terasa semakin luar biasa, sampai Yesus berkata, “Juallah segala milikmu, dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta yang di sorga, kemudian datanglah kemari, dan ikutlah aku”.
Tiba-tiba saja diskusi itu terhenti, suasana terasa hening, bahkan sangat mencekam. Si muda yang kaya, tak lagi berucap, pandangannya tak lagi ke depan, dia tertuduk tanpa daya, bagaikan pasukan yang kalah perang. Dia mengayunkan langkah meninggalkan Yesus, dengan kepala menunduk, dia berusaha cepat untuk menjauh. Hatinya sangat terpukul dengan ucapan Yesus yang memintanya menjual segala miliknya, dan membagikannya pada yang miskin. Ya, sangat berat sekali, karena dia memiliki harta yang sangat banyak sekali. Tindakannya pergi, dan memilih tak menujual harta, menunjukkan bahwa dia tak pernah sungguh-sungguh berminat soal hidup kekal.
Ucapan di awal pertanyaan, di mana dia menyebut Yesus sebagai guru yang baik, ternyata tak lebih dari basa-basi. Tak heran jika Yesus menjawab, “mengapa engkau katakan Aku baik”, karena toh, pada kenyataannya dia tak mempedulikan jawaban Yesus. Dia tak suka jawaban yang berbeda dengan keinginan hatinya, itu berarti Yesus tak baik buat dia. Ironi keagamaan. Tampak sangat berminat tinggi pada kebenaran, bahkan sangat merindukan kekekalan, namun sejatinya dia jauh dari sana. Dia suka jika kekekalan itu menyangkut aktivitas keagamaan yang telah dia lakukan, bukan yang Yesus perintahkan. Dalam benaknya melakukan hukum Taurat itu sudah dia jalankan, namun hanya legalismenya. Dia lupa bahwa semangat dari Taurat itu sendiri telah dia abaikan, yaitu kasihilah sesamamu sendiri, seperti dirimu sendiri (Matius 22: 39).
Jika memang dia sejati anak Taurat, sejati untuk taat, sejati merindukan kekekalan, maka bukanlah masalah menjual seluruh harta bendanya demi orang miskin yang membutuhkannya. Bukankah itu adalah ekspresi kasih yang besar? Menjual seluruh harta, bukanlah serta merta bukti mengasihi Allah dan sesama. Dalam kasus ini Yesus hanya ingin menunjukkan kekurangseriusan, atau bahkan ketidaktahuan si orang muda akan apa yang dia bicarakan. Si orang muda ini menjadi representasi kebanyakan orang dalam percaya kepada Yesus. Kebanyakan umat dalam percaya kepada Yesus hanyalah untuk mengharapakan dan menerima apa yang mereka inginkan. Tak banyak umat yang rindu dan bertanya apa yang harus kulakukan ya Allah. Pertanyaan yang seharusnya diajukan oleh manusia yang telah menerima kasih karunia. Manusia tetap pada keserakahan duniawi, kecintaan pada harta yang mengikat diri, sehingga dalam doa, selalu, dan selalu hanya meminta tambahan harta.
Si muda kaya, sangat terkejut, Yesus memintanya menjual harta, sekalipun menujual harta itu berarti menaati perintah guru yang dia sendiri sebut baik, dan yang mengajak dia mengikut sang Guru yang baik. Bagi dia harta lebih utama dibandingkan dengan mengikut Yesus. Dia memilih pergi sehingga tetap kaya, namun saat bersamaan dia melepas peluang mendapat kekekalan.
Ah, ironis sekali bukan? Namun, harus diingat, di kekinian masa kita, ternyata harta tetap menjadi pilihan utama. Itu sebab, dalam mengikut Yesus umat tetap saja lebih menyukai khotbah mengikut Yesus yang berarti, tambahan harta, tambahan kuasa. Semua diajar hanya tahu meminta, tanpa pernah belajar memberi diri untuk kehendak Ilahi. Kini sulit mendengarkan tekad seperti Yesaya yang memberi diri untuk diutus (Yesaya 6: 8). Seperti Sthepanus yang rela dirajam batu, atau Paulus yang rela terpenjara, atau juga Petrus yang rela tersalib dalam posisi terbalik. Begitu juga dengan Nikodemus, yang masuk dalam majelis keagamaan, namun demi menyuarakan kebenaran rela tersisihkan. Atau, semangat Zakeus yang begitu bertemu Kristus rela mempersembahkan separuh dari hartanya untuk orang miskin.
Ya, semua itu sinyal penting tanda keberimanan. Awas, jebakan hidup model si orang muda, sangat kaya (pasti dia disebut orang yang diberkati), dan sangat beribadah (pasti dia disebut orang saleh), dan melakukan hukum Taurat (pasti dia disebut orang baik), sayangnya, semua legalisme belaka. Sebuah fenomena keagamaan yang disukai manusia masa kini, yang suka aksesoris kasat mata, tapi krisis nilai batiniah. Semangat sejati beriman semakin sulit ditemukan. Beriman, yang berarti percaya kepada Kristus dan mempercayakan diri kepada-Nya. Beriman, yang berarti tahu bersyukur atas anugerah kesalamatan yang bukan, akan tapi sudah diberikan. Beriman, yang membuat orang beriman tak bertanya, apalagi menggugat Allah untuk memberkati dirinya, karena dia sadar, sesadar-sadarnya, bahwa dia penuh dengan berkat Allah.
Beriman benar, membuat dia bertanya, “Ya Allahku ajari aku melakukan kehendak-Mu. Atau seperti doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga. Sehingga, apa pun yang Allah perintahkan akan dia lakukan, karena dia tak terikat pada harta miliknya yang disadarinya sepenuhnya, bahwa itu mutlak milik Allah juga. Dia tak seperti orang muda yang terikat pada hartanya. Hati-hatilah, terhadap khotbah yang meracuni iman sejati. Hati-hatilah, terhadap pengkhotbah yang hanya berkhotbah seputar harta. Harta sejati orang percaya adalah kebenaran Allah dan pengabdian diri. Bukankah Alkitab berkata, “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya (bukan harta benda, atas nama berkat-Nya), maka semuanya akan ditambahkannya kepadamu” (Matius 6: 33). Semoga Anda bebas dari polusi jaman yang bengkok ini. Selamat beriman sejati dan melangkah pasti kesurga mulia.q