SI PENJILAT YANG HEBAT
Mendengar kata “penjilat” saja hati segera gelisah, dan, yang ini, malah penjilat yang hebat. Ya, mau tak mau, kata “hebat” harus direkatkan pada si penjilat, karena memang semakin hari mereka semakin hebat. Dia hebat karena memiliki posisi sebagai pemimpin. Kemudian dia juga seorang yang terbilang relegius yang serius, karena mengurus keagamaan. Tambahan lagi, jika bicara, bahasanya sangat santun, gaya diusahakan anggun, dan aneka atribut lain yang melekat pada diri. Pemimpin yang seharusnya berintegritas tampak jelas tak ada pada orang model seperti ini.
Lalu bagaimana dia bisa menjadi pemimpin? Semuanya dimulai dengan membuka sendiri organisasi bagi diri pribadi. Lalu memilih pengurus yang bisa dan suka dijilat tentunya. Dia mulai bergerak dengan berbagai presentasi yang penuh aksi, tapi seringkali tanpa bukti. Semua yang dikatakannya harus serba dicermati, dan lebih gila lagi, harus dikunjungi jika Anda ingin kepastian. Orang-orang kaya yang sarat dengan kesibukan sehingga tidak punya waktu untuk meneliti, seringkali diakalinya. Memanfaatkan kesibukan mereka sebagai kelemahan, di situ dia beraksi. Kata-kata suci terucap, dan kalimat “Anda sebagai orang yang sangat diberkati”, sangat mudah keluar dari mulutnya. Ya, dia terus menjilat dengan mengobral pujian, dan, juga, membangun kisah yang sangat memilukan dari proyek yang digarapnya. Apalagi tampilan foto yang ada sangat menantang.
Nah, banyak orang terbuai, bahkan terpaku, hingga terharu. Tak terasa pundi terbuka, rupiah pun meluncur. Ah, si penjilat sukses besar, dia meraup banyak rupiah, sebuah keuntungan yang menyenangkan. Maklum, tak semua uang untuk organisasi, karena yang pertama menikmati dan terjamin adalah pendapatan bagi diri sendiri. Semua bergulir dari hari ke hari, dan semakin hari dia semakin canggih dalam urusan jilat-menjilat. Dia tak pernah mau berbeda pendapat dengan siapa pun, karena semua pendapat diaminkan, sekalipun tak tentu dijalankan. Dia sangat mudah berjanji, namun tak pernah bertekad untuk menepati. Janji baginya adalah bagian dari proses sukses jilat-menjilat. Dia juga mudah mengubah pendapat bahkan prinsip sekalipun, asal mendapat keuntungan dari perubahan itu. Baginya yang pertama dan utama adalah keuntungan, dan jilat-menjilat adalah cara terampuh yang dimilikinya (band Yudas 16).
Berganti kawan itu bukan soal besar baginya, karena kawan adalah orang yang menguntungkan, dan bukan soal lama berteman, atau bahkan kesetiakawanan tak masuk hitungan yang dihargainya. Sangat jelas seleranya, tapi saat bersamaan sangat tak jelas arah kata-katanya untuk dibaca dengan tepat, karena semua penuh nuansa jilat. Pemimpin seperti ini tidak terlalu sulit untuk dicari karena ada banyak di sana sini. Di berbagai bidang selalu hadir penjilat yang gesit untuk merayap ke atas, dan dalam sekejap dia bisa berubah menjadi Brutus si pengkhianat. Untuk menjilat yang lain, yang lebih menguntungkan, seringkali dia tak segan untuk menusuk kawan seperjuangan dari belakang.
Pemimpin seperti ini sangat meresahkan, tapi sayang, tak pernah habis, karena selalu ada tersedia orang yang suka dijilat dalam barisan panjang. Tak ada jalan lain, selain menampilkan model kepemimpinan yang bisa jadi panutan dan tentu saja harus konsisten. Para penjilat ini harus dilawan dengan kontiniu mengumandangkan sikap patriotik, dan berintegritas tinggi.
Munculnya pemimpin sejati menjadi kebutuhan wajib yang harus dipenuhi. Kebutuhan akan pemimpin berintegritas menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda jika negara atau agama ingin menciptakan perubahan yang nyata. Sekadar slogan tidak lagi diperlukan, tindakan itu yang dinantikan. Slogan yang menyenangkan tanpa tindakan, tak lebih dari jilatan untuk menyenangkan telinga saja. Coba lihat juga di gereja yang terbilang rohani. Ternyata khotbah tak lagi untuk mengoreksi umat. Tak lagi memiliki bobot kuat sebagai kebenaran yang sejati. Khotbah masa kini, kebanyakan hanyalah untuk menyenangkan telinga pemberi kolekte, agar mereka puas terjilat, dan memberi materi lebih banyak lagi. Karena itu, tidaklah mengherankan jika suara Injil mengalami “discount” kebenaran secara besar-besaran. Keadaan gereja yang sangat mencemaskan.
Tapi, kembali lagi, si penjilat hebat dan orang yang suka dijilat bertemu, dan terjadilah transaksi jual-beli kebenaran. Sejatinya ini sebuah ironi, tapi di sisi lain kegemaran pada kebenaran imitasi semakin hari semakin tinggi. Si penjilat semakin diminati, menyenangkan telinga ke sana kemari tanpa henti, bagaikan bus Metro Mini mencari rejeki. Hati nurani disangkali, Alkitab tak lagi digali, dan kebenaran telah dimanipulasi. Manusia modern yang banyak hidup dalam berbagai topeng, merasa aman bersama si penjilat, karena tak ada yang mengusik dosa yang dilakukannya. Semuanya “asal Anda senang”, dan sipenjilat juga senang dengan rate khusus yang diperolehnya. Sementara itu, si pengelola organisasi juga tak pernah henti. Bersaksi, ke sana kemari, mengajak orang untuk berbagi rejeki. Dengan lihai dia menciptakan korporasi menarik dengan si pengkhotbah penjilat. Dua penjilat hebat bertemu, menggagas rencana hebat untuk mempertebal pundi-pundi.
Cobalah bayangkan sebuah kesaksian yang sangat mengharukan (penuh rekayasa), karena menjual penderitaan, kesedihan, kemiskinan di pedesaan, lalu dibalut dengan khotbah berapi-api yang menantang tiap pribadi untuk memberi. Surga diobral akan menjadi milik mereka yang memberi. Mereka akan limpah diberkati, bahkan ketika mereka sedang tertidur pulas sekalipun, dan larut dalam sejuta mimpi. Motif memberi tak pernah dipertanyakan, yang ada hanya motivasi imitasi pada tiap pribadi untuk memberi, atau mereka akan kehilangan kesempatan mendapatkan berkat berkali lipat. Dosa tak disinggung, yang ada hanya janji anugerah yang limpah. Penampilan dua penjilat hebat dengan segera menyihir mereka yang hadir, tak segan merogoh pundi-pundi dan memberi, tapi dengan motivasi yang salah. Tapi itu tak pernah mereka mengerti, bukan karena tidak mampu, tapi lebih karena tidak mau. Dengan mengerti kebenaran sejati, mereka merasa terbatas, kurang berarti, karena kebenaran mengajarkan semua: dari, oleh, dan untuk Tuhan saja. Dengan tidak mau tahu, mereka merasa bebas dan bisa memanfaatkan khotbah si penjilat yang membela dan membenarkan tindakan mereka.
Sipenjilat dan yang dijilat sama menikmati keuntungan yang hebat, istilah kerennya simbiosis mutualis. Situasi yang ironis, pemimpin dan yang dipimpin bermental sama rusaknya. Dan lebih ironis lagi, ini bahkan terjadi di institusi suci yang seharusnya mampu mengoreksi jaman ini. Tambah ironis, karena koreksi justru datang dari para budayawan yang tak terlalu pusing dengan urusan suci keagamaan, tapi selalu terpanggil untuk menegakkan kebenaran. Penjilat yang hebat akan terus menjadi keprihatinan yang hebat. Jika institusi suci seperti gereja saja terkontaminasi, terlebih lagi para politisi yang sering memolitisasi situasi untuk keuntungan diri. Akhirnya si pengkhotbah penjilat, pengelolal organisasi penjilat, bertemu dan sehati dengan politisi penjilat. Di belakang mereka, berbaris panjang umat yang menyukai kebenaran imitasi. Mau ke mana mereka pergi? Kekehancuran, itulah tujuan akhir mereka. Ah, belum tentu, itu menghakimi?
Nah, ketika kebenaran dicurigai, diajak kompromi, nyatalah ucapan itu ternyata datang dari para penjilat lainnya. Mereka selalu ingin tampil heroik, membela, seakan menegakkan kebenaran, padahal sejatinya justru mengaburkan nilainya dengan selubung kasih imitasi.
Anda harus memilih, memperpanjang jalan penggemar imitasi, atau sebaliknya, rindu menegakkan kebenaran, sekalipun karena hal itu Anda bisa jadi mengalami kesepian. Maklum di sana tak ada hiruk-pikuk jilat-menjilat. Selamat memilih dengan hati nurani yang bersih, dan semoga Anda membuat pilihan tepat.
Lalu bagaimana dia bisa menjadi pemimpin? Semuanya dimulai dengan membuka sendiri organisasi bagi diri pribadi. Lalu memilih pengurus yang bisa dan suka dijilat tentunya. Dia mulai bergerak dengan berbagai presentasi yang penuh aksi, tapi seringkali tanpa bukti. Semua yang dikatakannya harus serba dicermati, dan lebih gila lagi, harus dikunjungi jika Anda ingin kepastian. Orang-orang kaya yang sarat dengan kesibukan sehingga tidak punya waktu untuk meneliti, seringkali diakalinya. Memanfaatkan kesibukan mereka sebagai kelemahan, di situ dia beraksi. Kata-kata suci terucap, dan kalimat “Anda sebagai orang yang sangat diberkati”, sangat mudah keluar dari mulutnya. Ya, dia terus menjilat dengan mengobral pujian, dan, juga, membangun kisah yang sangat memilukan dari proyek yang digarapnya. Apalagi tampilan foto yang ada sangat menantang.
Nah, banyak orang terbuai, bahkan terpaku, hingga terharu. Tak terasa pundi terbuka, rupiah pun meluncur. Ah, si penjilat sukses besar, dia meraup banyak rupiah, sebuah keuntungan yang menyenangkan. Maklum, tak semua uang untuk organisasi, karena yang pertama menikmati dan terjamin adalah pendapatan bagi diri sendiri. Semua bergulir dari hari ke hari, dan semakin hari dia semakin canggih dalam urusan jilat-menjilat. Dia tak pernah mau berbeda pendapat dengan siapa pun, karena semua pendapat diaminkan, sekalipun tak tentu dijalankan. Dia sangat mudah berjanji, namun tak pernah bertekad untuk menepati. Janji baginya adalah bagian dari proses sukses jilat-menjilat. Dia juga mudah mengubah pendapat bahkan prinsip sekalipun, asal mendapat keuntungan dari perubahan itu. Baginya yang pertama dan utama adalah keuntungan, dan jilat-menjilat adalah cara terampuh yang dimilikinya (band Yudas 16).
Berganti kawan itu bukan soal besar baginya, karena kawan adalah orang yang menguntungkan, dan bukan soal lama berteman, atau bahkan kesetiakawanan tak masuk hitungan yang dihargainya. Sangat jelas seleranya, tapi saat bersamaan sangat tak jelas arah kata-katanya untuk dibaca dengan tepat, karena semua penuh nuansa jilat. Pemimpin seperti ini tidak terlalu sulit untuk dicari karena ada banyak di sana sini. Di berbagai bidang selalu hadir penjilat yang gesit untuk merayap ke atas, dan dalam sekejap dia bisa berubah menjadi Brutus si pengkhianat. Untuk menjilat yang lain, yang lebih menguntungkan, seringkali dia tak segan untuk menusuk kawan seperjuangan dari belakang.
Pemimpin seperti ini sangat meresahkan, tapi sayang, tak pernah habis, karena selalu ada tersedia orang yang suka dijilat dalam barisan panjang. Tak ada jalan lain, selain menampilkan model kepemimpinan yang bisa jadi panutan dan tentu saja harus konsisten. Para penjilat ini harus dilawan dengan kontiniu mengumandangkan sikap patriotik, dan berintegritas tinggi.
Munculnya pemimpin sejati menjadi kebutuhan wajib yang harus dipenuhi. Kebutuhan akan pemimpin berintegritas menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda jika negara atau agama ingin menciptakan perubahan yang nyata. Sekadar slogan tidak lagi diperlukan, tindakan itu yang dinantikan. Slogan yang menyenangkan tanpa tindakan, tak lebih dari jilatan untuk menyenangkan telinga saja. Coba lihat juga di gereja yang terbilang rohani. Ternyata khotbah tak lagi untuk mengoreksi umat. Tak lagi memiliki bobot kuat sebagai kebenaran yang sejati. Khotbah masa kini, kebanyakan hanyalah untuk menyenangkan telinga pemberi kolekte, agar mereka puas terjilat, dan memberi materi lebih banyak lagi. Karena itu, tidaklah mengherankan jika suara Injil mengalami “discount” kebenaran secara besar-besaran. Keadaan gereja yang sangat mencemaskan.
Tapi, kembali lagi, si penjilat hebat dan orang yang suka dijilat bertemu, dan terjadilah transaksi jual-beli kebenaran. Sejatinya ini sebuah ironi, tapi di sisi lain kegemaran pada kebenaran imitasi semakin hari semakin tinggi. Si penjilat semakin diminati, menyenangkan telinga ke sana kemari tanpa henti, bagaikan bus Metro Mini mencari rejeki. Hati nurani disangkali, Alkitab tak lagi digali, dan kebenaran telah dimanipulasi. Manusia modern yang banyak hidup dalam berbagai topeng, merasa aman bersama si penjilat, karena tak ada yang mengusik dosa yang dilakukannya. Semuanya “asal Anda senang”, dan sipenjilat juga senang dengan rate khusus yang diperolehnya. Sementara itu, si pengelola organisasi juga tak pernah henti. Bersaksi, ke sana kemari, mengajak orang untuk berbagi rejeki. Dengan lihai dia menciptakan korporasi menarik dengan si pengkhotbah penjilat. Dua penjilat hebat bertemu, menggagas rencana hebat untuk mempertebal pundi-pundi.
Cobalah bayangkan sebuah kesaksian yang sangat mengharukan (penuh rekayasa), karena menjual penderitaan, kesedihan, kemiskinan di pedesaan, lalu dibalut dengan khotbah berapi-api yang menantang tiap pribadi untuk memberi. Surga diobral akan menjadi milik mereka yang memberi. Mereka akan limpah diberkati, bahkan ketika mereka sedang tertidur pulas sekalipun, dan larut dalam sejuta mimpi. Motif memberi tak pernah dipertanyakan, yang ada hanya motivasi imitasi pada tiap pribadi untuk memberi, atau mereka akan kehilangan kesempatan mendapatkan berkat berkali lipat. Dosa tak disinggung, yang ada hanya janji anugerah yang limpah. Penampilan dua penjilat hebat dengan segera menyihir mereka yang hadir, tak segan merogoh pundi-pundi dan memberi, tapi dengan motivasi yang salah. Tapi itu tak pernah mereka mengerti, bukan karena tidak mampu, tapi lebih karena tidak mau. Dengan mengerti kebenaran sejati, mereka merasa terbatas, kurang berarti, karena kebenaran mengajarkan semua: dari, oleh, dan untuk Tuhan saja. Dengan tidak mau tahu, mereka merasa bebas dan bisa memanfaatkan khotbah si penjilat yang membela dan membenarkan tindakan mereka.
Sipenjilat dan yang dijilat sama menikmati keuntungan yang hebat, istilah kerennya simbiosis mutualis. Situasi yang ironis, pemimpin dan yang dipimpin bermental sama rusaknya. Dan lebih ironis lagi, ini bahkan terjadi di institusi suci yang seharusnya mampu mengoreksi jaman ini. Tambah ironis, karena koreksi justru datang dari para budayawan yang tak terlalu pusing dengan urusan suci keagamaan, tapi selalu terpanggil untuk menegakkan kebenaran. Penjilat yang hebat akan terus menjadi keprihatinan yang hebat. Jika institusi suci seperti gereja saja terkontaminasi, terlebih lagi para politisi yang sering memolitisasi situasi untuk keuntungan diri. Akhirnya si pengkhotbah penjilat, pengelolal organisasi penjilat, bertemu dan sehati dengan politisi penjilat. Di belakang mereka, berbaris panjang umat yang menyukai kebenaran imitasi. Mau ke mana mereka pergi? Kekehancuran, itulah tujuan akhir mereka. Ah, belum tentu, itu menghakimi?
Nah, ketika kebenaran dicurigai, diajak kompromi, nyatalah ucapan itu ternyata datang dari para penjilat lainnya. Mereka selalu ingin tampil heroik, membela, seakan menegakkan kebenaran, padahal sejatinya justru mengaburkan nilainya dengan selubung kasih imitasi.
Anda harus memilih, memperpanjang jalan penggemar imitasi, atau sebaliknya, rindu menegakkan kebenaran, sekalipun karena hal itu Anda bisa jadi mengalami kesepian. Maklum di sana tak ada hiruk-pikuk jilat-menjilat. Selamat memilih dengan hati nurani yang bersih, dan semoga Anda membuat pilihan tepat.

