SI ULAR BELUDAK YANG MEMBELUDAK
ADALAH orang Farisi dan Saduki yang disebut Yohanes Pembaptis sebagai keturunan ular beludak (Matius 3: 7). Ular beludak adalah sejenis ular yang sangat berbisa, yang secara umum dapat disamakan dengan ular kobra. Ular yang mematikan, demikian dia digambarkan. Tapi, mengapa Yohanes sampai menyebut mereka sebagai ular beludak? Sebuah pertanyaan yang sangat serius. Farisi sebagai kelompok fundamental di masa itu sangat bangga dengan legalisme keagamaannya, dan kepemimpinannya yang mencolok di sinagoge. Sementara Saduki si liberal, sangat bangga dengan ritualismenya, dan kedekatannya dengan kalangan istana.
Banyak dari antara mereka yang tertarik, dan berminat menerima baptisan Yohanes Pembaptis. Baptisan Yohanes Pembaptis yang dikenal sebagai baptisan air (Matius 3:11), menjadi simbol penting bagi nilai kerohanian. Dengan menerima baptisan Yohanes Pembaptis, orang merasa telah memenuhi dan menduduki kriteria tertinggi dalam keagamaan. Status penting dalam keagamaan selalu menjadi impian, baik oleh Farisi, maupun Saduki. Karena itu, ketika Yohanes sebagai guru yang terkenal, dan memiliki pengikut yang banyak, mengadakan baptisan di sungai Yordan, Farisi dan Saduki mendaftarkan diri. Sebuah niat yang baik dan simpatik bukan? Namun sayangnya, Farisi dan Saduki tak berkaca diri. Merasa yang terbaik dalam keagamaan, maka mereka merasa cukup, atau bahkan mungkin sangat layak, untuk menerima baptisan Yohanes Pembaptis. Membuat barisan yang cukup panjang, dan tampil dominan, membuat mereka kecele besar, karena digugat oleh Yohanes Pembaptis di muka umum. Merasa hidup dalam kebenaran, mereka malah dipermalukan.
Apakah tindakan Yohanes ini berlebihan, radikal, dan tak bijak? Mungkin itulah yang ada di benak kita manusia masa kini, yang sangat terkontaminasi dengan semangat kompromi. Andaikata peristiwa itu terjadi di depan kita, dengan segera kita pasti akan berucap, “Itu menghakimi”. Di jaman ini, manusia tak pernah cukup siap untuk menerima kebenaran yang diungkapkan sejujurnya. Hidup masa kini penuh dengan aksesoris kepalsuan. Topeng demi topeng dikenakan untuk menyembunyikan keaslian hidup. Relativisme, cukup sukses menggagahi kemutlakan, dan melahirkan wajah baru kompromi yang semakin merajalela. Celakanya, virus ini juga merasuk kehidupan bergereja, sehingga tak sedikit umat yang terjangkit dan menjadi super sensitif terhadap hardikan kebenaran. Kebenaran yang disampaikan apa adanya dianggap sebagai kurang sopan, vulgar, tidak ada kasih. Padahal, amat sangat jelas, apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis ketika menghardik orang Farisi dan Saduki.
Sebutan ular beludak, menggambarkan dengan sangat gamblang betapa berbisanya kemunafikan hidup keagamaan orang Farisi dan Saduki. Sebutan yang sangat menyakitkan, terbuka, di depan banyak orang, tentu saja sangat memalukan. Terkesan tak bijak, karena mempermalukan orang di depan umum. Tapi, itulah kebenaran, tak perlu disembunyikan, tidak meminta simpati orang banyak. Kebenaran harus diungkapkan apa adanya, jangan dikurangi atau ditambahi. Pengungkapan kebenaran memang tidak menyenangkan bagi yang merasa ditelanjangi, namun jangan dilupakan, justru itu yang diperlukan demi keselamatan si pembuat salah.
Menerima teguran sekeras apa pun atas kesalahan diri, adalah tindakan bijak yang menolong orang menemukan kesejatiaan dirinya dan dihidupi oleh kebenaran. Sebaliknya, basa-basi, demi harga diri yang kosong, hanyalah penyuburan kepalsuan dalam kehidupan. Umat harus belajar mencintai kebenaran, dan senantiasa rela ditelanjangi oleh kebenaran. Kecintaan mendalam kepada kebenaran akan memberi kepekaan atas kesalahan langkah dalam menjalani kehidupan ini. Kebenaran akan membawa umat kepada kesejatian iman, dan tentu saja kepada kekekalan. Namun kemunafikan ala Farisi dan Saduki akan mematikan kesadaran diri sebagai orang berdosa yang membutuhkan pembenaran dalam penebusan Kristus. Kemunafikan menenggelamkan umat ke dalam kepalsuan yang dianggap sebagai tempat persembunyian yang teraman.
Kemunafikan demi kemunafikan akan membunuh suara batin, dan membuat seseorang semakin tegar hidup dalam kepalsuan. Inilah yang terjadi pada orang Farisi dan Saduki. Terlatih setiap hari hidup dalam kepalsuan, membuat mereka terlena dalam kesombongan keagamaan. Kok bisa? Ya, inilah yang terjadi pada kebanyakan rohaniawan yang tak menjaga hati. Setiap hari membicarakan kebenaran namun tak melakukan, membuat mereka terbiasa berbicara kebenaran tanpa tersentuh oleh kebenaran yang mereka bicarakan. Waktu yang berjalan, membuat mereka semakin bebal, tebal muka, dan berkulit badak terhadap kebenaran. Kebenaran yang mereka ketahui tak lebih dari alat kesombongan keagamaan saja. Kebenaran yang dijadikan topeng untuk mengeduk keuntungan bagi diri.
Farisi dan Saduki mendapatkan gengsi tertinggi dengan posisi mereka sebagai rohaniawan. Belum lagi keuntungan materi karena berbagai aturan keagamaan yang mereka ciptakan untuk memperkaya diri. Lihat saja bagaimana mereka menarik keuntungan dari perdagangan di halaman bait Allah. Fasilitas mereka yang terbilang wah, membuat mereka disindir Tuhan Yesus Kristus sebagai gembala upahan. Gembala pemerah domba, bukan menggembalakan domba. Apalagi Saduki yang dekat dengan lingkungan istana, tentu tak sedikit fasilitas yang digelontorkan kepada mereka. Hidup nikmat sebagai rohaniawan tentu saja sangat nikmat, membuat mereka rentan terhadap teguran, palagi di depan umum. Memang tak semua Farisi dan Saduki serta merta menjadi imam, tapi kebanyakan dari anggota kelompok ini menduduki posisi penting di jaman itu. Dan, semua anggota kelompok mendapatkan bagian gengsi yang luar biasa. Karena itu tak heran jika Yohanes Pembaptis menyebut mereka sebagai ular beludak. Dan, tentu saja sulit membayangkan akibatnya bagi keagamaan Yahudi pada waktu itu jika kebanyakan orang yang merasa penting dalam keagamaan adalah beludak.
Ular beludak yang membeludak, sangat pas menggambarkan situasi dan posisi Farisi dan Saduki saat itu. Mereka ular beludak yang cukup membeludak alias banyak jumlahnya. Itu sebab, tak mengherankan jika pengaruh mereka sangat terasa ketika memobilisasi umat untuk menyalibkan Yesus Kristus. Celakanya, dalam perjalanan sejarah gereja, sekalipun nama Farisi dan Saduki tak terdengar, namun kehadiran semangat mereka sangat nyata. Di tiap jaman selalu muncul Farisi dan Saduki dengan nama baru. Kelompok yang selalu doyan materi dan mengeruk umat atas nama persembahan yang sangat rohani. Mereka selalu menyebut diri dekat bahkan sangat akrab dengan Tuhan. Mengaku sering bertemu pribadi dengan Tuhan, dan mendapat informasi penting dari Tuhan. Namun dalam kehidupan mereka sangat glamour, penuh dengan pernik kemewahan, sangat tidak cocok dengan semangat Yesus Kristus yang meninggalkan sorga dan turun ke bumi. Perjalanan rohaniawan masa kini seperti tak membumi, bahkan sangat men-”sorga”. Kekayaan bukan dosa, tapi seorang rohaniawan yang hidup berlebihan tentu patut dipertanyakan. Bukankah kita dipanggil untuk hidup berbagi?
Semoga, andaikata, episode Yohanes Pembabtis diulang rohaniawan masa kini tak dihardik sebagai ular beludak. Atau memang, hardikan yang sama akan terulang kembali. Jawabannya hanya ada pada kejujuran batin saja. Nikmatilah berkatnya, tapi jangan menjadi alasan hidup berlebihan, sehingga domba bisa belajar mengenal apa yang benar, dan tidak menjadi beludak.
Banyak dari antara mereka yang tertarik, dan berminat menerima baptisan Yohanes Pembaptis. Baptisan Yohanes Pembaptis yang dikenal sebagai baptisan air (Matius 3:11), menjadi simbol penting bagi nilai kerohanian. Dengan menerima baptisan Yohanes Pembaptis, orang merasa telah memenuhi dan menduduki kriteria tertinggi dalam keagamaan. Status penting dalam keagamaan selalu menjadi impian, baik oleh Farisi, maupun Saduki. Karena itu, ketika Yohanes sebagai guru yang terkenal, dan memiliki pengikut yang banyak, mengadakan baptisan di sungai Yordan, Farisi dan Saduki mendaftarkan diri. Sebuah niat yang baik dan simpatik bukan? Namun sayangnya, Farisi dan Saduki tak berkaca diri. Merasa yang terbaik dalam keagamaan, maka mereka merasa cukup, atau bahkan mungkin sangat layak, untuk menerima baptisan Yohanes Pembaptis. Membuat barisan yang cukup panjang, dan tampil dominan, membuat mereka kecele besar, karena digugat oleh Yohanes Pembaptis di muka umum. Merasa hidup dalam kebenaran, mereka malah dipermalukan.
Apakah tindakan Yohanes ini berlebihan, radikal, dan tak bijak? Mungkin itulah yang ada di benak kita manusia masa kini, yang sangat terkontaminasi dengan semangat kompromi. Andaikata peristiwa itu terjadi di depan kita, dengan segera kita pasti akan berucap, “Itu menghakimi”. Di jaman ini, manusia tak pernah cukup siap untuk menerima kebenaran yang diungkapkan sejujurnya. Hidup masa kini penuh dengan aksesoris kepalsuan. Topeng demi topeng dikenakan untuk menyembunyikan keaslian hidup. Relativisme, cukup sukses menggagahi kemutlakan, dan melahirkan wajah baru kompromi yang semakin merajalela. Celakanya, virus ini juga merasuk kehidupan bergereja, sehingga tak sedikit umat yang terjangkit dan menjadi super sensitif terhadap hardikan kebenaran. Kebenaran yang disampaikan apa adanya dianggap sebagai kurang sopan, vulgar, tidak ada kasih. Padahal, amat sangat jelas, apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis ketika menghardik orang Farisi dan Saduki.
Sebutan ular beludak, menggambarkan dengan sangat gamblang betapa berbisanya kemunafikan hidup keagamaan orang Farisi dan Saduki. Sebutan yang sangat menyakitkan, terbuka, di depan banyak orang, tentu saja sangat memalukan. Terkesan tak bijak, karena mempermalukan orang di depan umum. Tapi, itulah kebenaran, tak perlu disembunyikan, tidak meminta simpati orang banyak. Kebenaran harus diungkapkan apa adanya, jangan dikurangi atau ditambahi. Pengungkapan kebenaran memang tidak menyenangkan bagi yang merasa ditelanjangi, namun jangan dilupakan, justru itu yang diperlukan demi keselamatan si pembuat salah.
Menerima teguran sekeras apa pun atas kesalahan diri, adalah tindakan bijak yang menolong orang menemukan kesejatiaan dirinya dan dihidupi oleh kebenaran. Sebaliknya, basa-basi, demi harga diri yang kosong, hanyalah penyuburan kepalsuan dalam kehidupan. Umat harus belajar mencintai kebenaran, dan senantiasa rela ditelanjangi oleh kebenaran. Kecintaan mendalam kepada kebenaran akan memberi kepekaan atas kesalahan langkah dalam menjalani kehidupan ini. Kebenaran akan membawa umat kepada kesejatian iman, dan tentu saja kepada kekekalan. Namun kemunafikan ala Farisi dan Saduki akan mematikan kesadaran diri sebagai orang berdosa yang membutuhkan pembenaran dalam penebusan Kristus. Kemunafikan menenggelamkan umat ke dalam kepalsuan yang dianggap sebagai tempat persembunyian yang teraman.
Kemunafikan demi kemunafikan akan membunuh suara batin, dan membuat seseorang semakin tegar hidup dalam kepalsuan. Inilah yang terjadi pada orang Farisi dan Saduki. Terlatih setiap hari hidup dalam kepalsuan, membuat mereka terlena dalam kesombongan keagamaan. Kok bisa? Ya, inilah yang terjadi pada kebanyakan rohaniawan yang tak menjaga hati. Setiap hari membicarakan kebenaran namun tak melakukan, membuat mereka terbiasa berbicara kebenaran tanpa tersentuh oleh kebenaran yang mereka bicarakan. Waktu yang berjalan, membuat mereka semakin bebal, tebal muka, dan berkulit badak terhadap kebenaran. Kebenaran yang mereka ketahui tak lebih dari alat kesombongan keagamaan saja. Kebenaran yang dijadikan topeng untuk mengeduk keuntungan bagi diri.
Farisi dan Saduki mendapatkan gengsi tertinggi dengan posisi mereka sebagai rohaniawan. Belum lagi keuntungan materi karena berbagai aturan keagamaan yang mereka ciptakan untuk memperkaya diri. Lihat saja bagaimana mereka menarik keuntungan dari perdagangan di halaman bait Allah. Fasilitas mereka yang terbilang wah, membuat mereka disindir Tuhan Yesus Kristus sebagai gembala upahan. Gembala pemerah domba, bukan menggembalakan domba. Apalagi Saduki yang dekat dengan lingkungan istana, tentu tak sedikit fasilitas yang digelontorkan kepada mereka. Hidup nikmat sebagai rohaniawan tentu saja sangat nikmat, membuat mereka rentan terhadap teguran, palagi di depan umum. Memang tak semua Farisi dan Saduki serta merta menjadi imam, tapi kebanyakan dari anggota kelompok ini menduduki posisi penting di jaman itu. Dan, semua anggota kelompok mendapatkan bagian gengsi yang luar biasa. Karena itu tak heran jika Yohanes Pembaptis menyebut mereka sebagai ular beludak. Dan, tentu saja sulit membayangkan akibatnya bagi keagamaan Yahudi pada waktu itu jika kebanyakan orang yang merasa penting dalam keagamaan adalah beludak.
Ular beludak yang membeludak, sangat pas menggambarkan situasi dan posisi Farisi dan Saduki saat itu. Mereka ular beludak yang cukup membeludak alias banyak jumlahnya. Itu sebab, tak mengherankan jika pengaruh mereka sangat terasa ketika memobilisasi umat untuk menyalibkan Yesus Kristus. Celakanya, dalam perjalanan sejarah gereja, sekalipun nama Farisi dan Saduki tak terdengar, namun kehadiran semangat mereka sangat nyata. Di tiap jaman selalu muncul Farisi dan Saduki dengan nama baru. Kelompok yang selalu doyan materi dan mengeruk umat atas nama persembahan yang sangat rohani. Mereka selalu menyebut diri dekat bahkan sangat akrab dengan Tuhan. Mengaku sering bertemu pribadi dengan Tuhan, dan mendapat informasi penting dari Tuhan. Namun dalam kehidupan mereka sangat glamour, penuh dengan pernik kemewahan, sangat tidak cocok dengan semangat Yesus Kristus yang meninggalkan sorga dan turun ke bumi. Perjalanan rohaniawan masa kini seperti tak membumi, bahkan sangat men-”sorga”. Kekayaan bukan dosa, tapi seorang rohaniawan yang hidup berlebihan tentu patut dipertanyakan. Bukankah kita dipanggil untuk hidup berbagi?
Semoga, andaikata, episode Yohanes Pembabtis diulang rohaniawan masa kini tak dihardik sebagai ular beludak. Atau memang, hardikan yang sama akan terulang kembali. Jawabannya hanya ada pada kejujuran batin saja. Nikmatilah berkatnya, tapi jangan menjadi alasan hidup berlebihan, sehingga domba bisa belajar mengenal apa yang benar, dan tidak menjadi beludak.

