PUASA PENUH TIPU DAYA
PUASA dalam bahasa Ibrani adalah tsum, tsom dan inna nafsyo yang secara harafiah berarti merendahkan diri. Dalam prakteknya, puasa bisa berarti tidak makan dan minum, atau hanya tidak makan saja, seperti Yesus yang berpuasa 40 hari (Matius 4: 2). Dari segi waktu, juga ada tercatat keanekaan, yakni 40 hari tidak makan dan tidak minum, seperti Elia (1 Raja-raja 19: 8), Daud 7 hari (2 Samuel 12: 16-18), Ester 3 hari (Ester 4: 16), atau yang seharian sebagaimana umumnya. Jadi tidak ada patokan khusus berapa lama harus berpuasa.
Di sisi lain ternyata umat seringkali berpuasa dengan konsep yang salah. Berharap mereka akan diperhatikan Allah. Atau bahkan berpikir bisa menggerakkan Allah, sehingga Allah tergerak melakukan apa yang menjadi keinginan mereka. Ironis memang, tapi itulah kenyataan umat beragama. Segala bentuk ritual ditonjolkan, sementara kesejatian yang berkaitan dengan sikap hati malah mengalami pengabaian. Itu sebab nabi Yesaya mencatat dengan jelas, rasa muak Allah terhadap puasa umat Israel. Kemunafikan yang penuh tipu daya di balik ritual puasa sangat terasa. Padahal jelas kehendak Allah, bukan puasanya, melainkan sikap hidup yang seharusnya. Merendahkan diri di hadapan Allah, menegakkan keadilan, hidup dalam kebenaran.
Di era Perjajnjian Baru, sikap munafik itu dilakonkan oleh Farisi, yang selalu mencari perhatian atas apa yang dilakukannya. Tampil prihatin, bermuka muram, seakan penuh penderitaan, menjadi tipu daya yang mudah ditemukan (Matius 6: 16-18). Puasa mereka jadikan demonstrasi dan ukuran keimanan. Itu pula yang membuat mereka sanggup berpongah diri, meremehkan kejujuran pemungut cukai yang justru disukai Allah. Kemunafikan Farisi, tak kenal henti, dan puasa menjadi salah satu topeng ampuh mereka. Melakukan ritual dengan penuh gairah, seminggu dua kali, tapi mengabaikan hidup benar yang justru menjadi tuntutan Tuhan.
Kehidupan yang penuh tipu daya tampaknya terus berlanjut dalam konstelasi kehidupan umat beragama di masa kini. Dalam era Postmo ini, puasa kembali dijadikan model primadona dalam demo kerohanian. Di era yang sinkretisme ini puasa seringkali dikaitkan dengan peningkat keampuhan doa. Dengan puasa doa akan menjadi luar biasa, kilah sekelompok orang. Mirip dengan praktek dalam perdukunan, yang untuk mendapatkan aji kekebalan harus puasa 41 hari. Matius 17: 21, selalu dijadikan alasan pembenaran. Membaca ayat ini tidak boleh lepas dari ayat sebelumnya yang dengan tegas menekankan peranan iman dan bukan puasa. Namun ini seringkali dipelintir lepas dari konteksnya.
Belum lagi aneka puasa dikumandangkan, seperti puasa Ester, puasa Daniel, dan lain-lain. Seakan-akan ada berbagai jenis puasa. Padahal sejatinya adalah Ester, Daniel atau siapa saja, berpuasa. Artinya, Daniel berpuasa bukan puasa model Daniel, ini pemelintiran. Mereka berpuasa karena berbagai hal yang berbeda, namun dalam sikap hati yang sama, agar kuat dan setia melayani Tuhan. Begitulah seharusnya sikap setiap anak Tuhan, berpuasa bukan sebagai demonstrasi keimanan, melainkan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
Paulus menyebut puasa sebagai latihan badani (ritual), dibedakan dengan ibadah (spiritual). Hal ini dituliskannya dalam surat kepada Timotius dalam 1 Timotius 4: 8. Paulus tak ingin Timotius terjebak pada kebiasaan-kebiasaan buruk orang Yahudi yang berbaju rohani, yang disebutnya sebagai dongeng nenek-nenek. Menelusuri pemahaman Alkitab diperlukan keberanian untuk jujur, dan penggalian yang tuntas. Hal ini perlu demi keutuhan kebenaran, supaya tak mudah diputarbalikkan arah. Semua orang berkata, “kata Alkitab”, padahal yang ada adalah, kata Alkitab menurut dia, bukan menurut Alkitab itu sendiri.
Hati-hatilah, karena pola semacam ini semakin menjamur, apalagi jika sudah mengatasnamakan, “Tuhan berkata pada saya”. Maka semakin kaburlah apa kehendak Tuhan yang sesungguhnya, kecuali, kehendak Tuhan menurut orang yang mengatasnamakan Tuhan. Karena itu setiap umat dituntut untuk memahami dengan baik dari segala arah apa kata Alkitab. Untuk itu, tidak ada jalan lain, kecuali menggali Alkitab itu sendiri, agar umat menemukan pesan yang sejati dan tidak mudah tertipu.
Puasa itu sendiri tidak salah, namun yang salah adalah pemaknaan dan sikap terhadap puasa. Puasa yang dimistiskan tentu sangat mengerikan, karena dengan segera menghadirkan Kristen yang mirip perdukunan. Semua tergantung ritual puasanya, bukan lagi murni kuasa Allah. Di sisi lain puasa juga ampuh menjadi tempat persembunyian dari tanggung jawab hidup berbuah. Orang bangga berpuasa, tapi mengabaikan keadilan dan cinta kasih. Melakukan yang terakhir ini tentu saja sulit, sementara berpuasa hanyalah memerlukan daya tahan untuk sejenak menahan lapar.
Berpuasalah, namun jangan mengabaikan cinta kasih. Berpuasalah, namun tak perlu orang lain mengetahui, apalagi sengaja membuatnya menjadi demonstrasi rohani, dan merasa lebih dari mereka yang tidak puasa. Berpuasalah, tapi jangan berpikir itu akan membuat Allah tergerak. Allah adalah Allah yang hidup, yang melihat hati bukan ritual keagamaan. Cukuplah tipu daya puasa di era Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Lihatlah hardikan Allah di Yesaya 58, atau kritikan Yesus Kristus di Matius 6. Belajarlah dengan baik dan jangan sampai terjebak pada perangkap tipu daya mereka yang selalu mendengungkan puasa, tapi mengabaikan panggilan Kasih.
Puasa adalah latihan badani, untuk merendahkan diri, dengan menahan diri dari berbagai keinginan. Puasa baik jika merupakan bagian pelengkap dari sikap hati yang sejati. Puasa tidak menambah kekuatan doa, karena kekuatan doa bukan karena orang berpuasa, melainkan karena orang benar (Yakobus 5: 16). Doa orang benar besar kuasanya, itu jelas ayatnya, tapi doa orang puasa besar kuasanya, adalah versi oknum, sebuah kesimpulan tafsir yang kurang bertanggung jawab. Dalam kaitannya dengan new age movement, gejala kebangkitan mistis perdukunan memang tampak sangat nyata.
Di era ini peramal dan hamba Tuhan yang bernubuat hanya beda tipis saja. Pengkhotbah yang bernubuat menjadi penting dan dicari, bukan lagi Alkitab, Firman hidup itu. Sama dengan paranormal yang mampu meramal mendekati kebenaran. Jika Firman Tuhan tentu pas, bukan mendekati, dan membawa orang dekat dengan Tuhan bukan “hamba Tuhannya”.
Nah, jadi tidak mengherankan jika puasa di era ini memiliki peranan penting, dalam kaitan untuk dekat dengan Tuhan. Dan, sudah pasti, lanjutannya adalah, untuk mendengar suara Tuhan. Betapa berbahayanya situasi ini, sehingga berpuasa yang diselewengkan akan memberi efek yang sangat memprihatinkan bagi kekristenan. Itu sebab, orang percaya perlu mawas diri, menyeleksi ajaran, bersikap kritis. Tak mudah mengiyakan, apalagi mengikuti dan menjadikan diri terasa sangat rohani. Puasa penuh tipu daya, harus bisa dibedakan dengan puasa sebagai latihan badani. Jangan samapai Anda merasa rohani justru diketidaktahuan, bahkan kesesatan. Selamat berhati-hati terhadap tipu daya.

