MINORITAS BISA TERATAS

15.31 bs 0 Comments

Isu mayoritas dan minoritas selalu hadir jika sudah berbicara seputar arena kekuasaan. Apalagi soal benar atau tidaknya sebuah tindakan akan diukur oleh selera mayoritas. Tak penting apakah itu benar atau salah, yang penting itu yang paling banyak. Atas nama mayoritas, sebuah kekerasan bahkan bisa jadi kebenaran yang sah. Sementara kebanyakan para pemimpin adalah bunglon yang selalu mencari keuntungan dari mayoritas, tanpa peduli pada minoritas yang tertindas. Permainan kata, bahwa tidak ada perbedaan di antara kita, sudah menjadi makanan sehari-hari. Apalagi supremasi hukum, yakni semua sama di depan hukum, nyaris tak bersuara jika sudah bicara soal mayoritas. Bahkan hukum pun diperalat untuk kepentingan sesaat. Dibutuhkan sebuah kedewasaan yang memadai untuk menghargai perbedaan mayoritas dan minoritas.

Perbedaan mayoritas dan minoritas sejatinya hanyalah soal angka, bukan harga. Kebenaran tetap kebenaran sekalipun pendukunganya minoritas, dan hukum adalah tetap hukum yang harus ditegakkan, tanpa memilah mayoritas ataupun minoritas. Tapi lagi-lagi diperlukan kedewasaan sikap di sini.

Amerika Serikat (AS) telah membuktikan diri sebagai negara yang dewasa setelah melewati berbagai tindakan bodoh dan tidak manusiawi di waktu lampau. Pemburuan terhadap etnis Indian, ataupun politik apartheid yang meminggirkan warga kulit hitam yang minoritas, merupakan catatan hitam, kesalahan masa silam mereka. Kini Amerika, telah kembali ke jalur yang benar seturut dengan semangat founding fathers yang dengan tegas menggoreskan semangat itu dalam mata uang dolar mereka: With God we trust. Ya, semangat yang harus berakar pada kebenaran Alkitab, bahwa Tuhan menciptakan manusia segambar dan serupa dengan diri-Nya (baik laki-laki maupun perempuan semua sama di mata Tuhan).

Kegagalan agama dan budayalah yang telah menciptakan kekacauan dalam sistem nilai relasi laki-laki dan perempuan. Diskriminasi menjadi simbol abadi kegagalan itu, lalu diikuti dengan perlawanan emansipasi yang justru semakin memudarkan wajah asli relasi manusia dalam perbedaan gendernya. Alkitab mengajarkan partisipasi, di mana laki-laki dan perempuan terlibat bersama dalam kekayaan perbedaannya. Sebuah relasi yang sangat unik, yang sangat sempurna menggambarkan perbedaan, namun sekaligus penghargaan tertinggi di mana laki-laki dan perempuan saling melengkapi. Taka ada diskriminasi di sana, juga tidak ada benturan emansipasi yang membenturkan perbedaan menjadi kompetisi yang liar.

Kekristenan telah menginspirasi perjalanan panjang Amerika, membawa Amerika memperbaiki diri, dan menemukan diri yang mampu menghargai sesamanya manusia. Perbedaan agama, perbedaan warna kulit, bukan lagi sesuatu isu yang menakutkan. Semua orang Amerika sama haknya, apapun agama dan warna kulitnya. Manusia bukan binatang yang membantai apa yang berbeda dengan dirinya. Manusia adalah makhluk berakal budi yang mampu menempatkan diri dalam perbedaannya, dan hidup bersama dalam damai. Amerika, bahkan secara khusus di tahun ini telah menempatkan seorang Barack Obama yang berkulit hitam, untuk menjadi orang nomor satu di negaranya. Obama dipilih oleh mayoritas rakyat Amerika yang kulit putih. Sekalipun isu kebangkitan Klux Klux Klan (gerakan antikulit hitam, oleh kulit putih) sempat ditiupkan untuk menggembosi Obama, ternyata terbukti tak ampuh lagi.

Amerika bukan lagi kanak-kanak yang selalu ribut memperebutkan hak mayoritas. Amerika bukan lagi soal “kamu agama apa”, atau “apa warna kulitmu”. Jika bagus, mau dan mampu silakan maju, tak ada istilah minoritas di sini. Tak ada rekayasa peraturan, baik yang tak tertulis maupun yang tak tertulis. Apalagi ancam mengancam untuk menghancurkan. Bravo Amerika! Amerika untuk Amerika, bukan partai, golongan apalagi perorangan. Semua bertanding untuk negara yang satu dan yang sama. Itu sebab tak ada yang resah siapa pun pemenangnya.

John McCain, capres berkulit putih, yang senior sebagai senator, namun juga yang kalah, juga tak resah apalagi ngambek ala pemimpin Indonesia. Alih-alih marah dengan menggerakkan massanya, McCain malah memberikan pujian simpatik terhadap Obama, sekalipun semasa kampanye saling serang dan berusaha saling menjatuhkan. Menang atau kalah dalam pemilu itu biasa, tapi siapa yang dipercaya dan dipilih rakyat berhak menuju kursi tertinggi, karena mandat tertinggi ada pada rakyat, tidak peduli apa agama dan warna kulitnya. Para pemimpin yang dewasa menghargai perbedaan dan rasa kebangsaan yang dijunjung tinggi.

Negeri kita yang diwarnai sejarah Sumpah Pemuda: “Satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air”, seringkali ternoda oleh perilaku tak terpuji dari banyak pemimpin. Isu mayoritas-minoritas seringkali jadi ancaman perpecahan. Agama yang seharusnya teduh dan memberi rasa damai, bisa jadi momok yang menakutkan. Perbedaan-perbedaan yang ada selalu dipertajam demi isu-isu murahan, dan celakanya selalu banyak warga yang termakan. Kita memang masih kanak-kanak yang meributkan perbedaan, dan belum cukup dewasa dalam menyikapinya, apalagi menikmatinya. Indonesia memang bukan Amerika, tapi kita adalah manusia yang sama, yang hanya berbeda warna kulitnya saja. Sudah seharusnya kita membuktikan pada dunia, bahwa Indonesia sangat beradab, seturut dengan falsafah kebangsaan kita, Pancasila, dasar negara yang menciptakan tatanan hidup harmoni di mana kita diajak hidup saling menghargai.

Para pemimpin seharusnya mampu tampil sebagai model untuk seluruh rakyat, bukan sebaliknya. Pemimpin harus belajar menghargai perbedaan dan mengedepankan kualitas kepemimpinan. Mengakui dan menghargai kemampuan dan keunggulan seseorang adalah keharusan bagi manusia beradab. Pemimpin hendaknya selalu terpanggil mengutamakan kepentingan bangsa, bukan kroni ataupun keluarganya. Dengan demikian rakyat akan belajar dari para pemimpinnya untuk menghargai perbedaan, tak lagi terjebak soal isu mayoritas dan minoritas. Siapa pun dia, sebagai anak bangsa yang berkualitas harus diberi kesempatan memimpin. Sebaliknya, siapa pun dia, jika tak berkualitas harus sadar diri untuk mengundurkan diri, bukannya menciptakan kekacauan demi keuntungan pribadi.

Siapa pun yang menjadi pemimpin seharusnya bukan soal mayoritas atau minoritas, Amerika telah mengajarinya. Bilakah hal ini terjadi di republik tercinta, Indonesia kita? Entahlah, ini sebuah tanya yang perlu waktu lama untuk menjawabnya. Tapi ini sebuah keniscayaan. Tinggal kita, jika bersama dan berbuat untuk bangsa, pasti kita cepat belajar dan menjadi pintar. Tapi jika terus berputar soal mayoritas, minoritas, maka kita hanya akan tinggal di awang-awang harapan yang tak akan pernah terwujudkan. Tanggung jawab kemajuan negeri ini ada di tangan kita bersama, dan ini menuntut kedewasaan kita semua. Semoga agama yang yang kita percaya, yang selalu kita dengungkan sebagai yang paling benar, terbukti dengan menjadikan kita dewasa dan mampu hidup saling menghargai. Atau satu waktu, sejarah akan membuktikan bahwa ternyata kita hanyalah orang yang selalu menindas yang lain atas nama mayoritas.

Semoga kemenangan Barack Obama yang minoritas sebagai presiden kulit hitam pertama Amerika menginspirasi kita. Tapi ingat, di negaranya, di depan hukum, di kehidupan masyarakat Amerika, Barack Obama bukan minoritas, dia adalah seorang Amerika yang berhak atas apa yang ada dan berlaku di negara itu. Bukankah seharusnya demikian juga di Indonesia? Atau UUD, UU, atau produk hukum lainnya di Indonesia, hanyalah untuk sekelompok orang? Saya kira tidak. Dan saya percaya, banyak di antara kita yang ingin menjadi orang dewasa, yang menikmati perbedaan dalam kehangatan kebersamaan.