KETIKA YANG BUTA MELIHAT DAN YANG MELEK TIDAK
Kisah dalam Yohanes 9, sejatinya menimbulkan aroma tak sedap di kehidupan beragama Yahudi. Betapa tidak, di sana ada orang buta yang tak bisa melihat sejak lahirnya. Dia tak pernah mampu menikmati keindahan dunia ciptaan Allah. Dia tak pernah bisa membedakan benda, apalagi mengenal keceriaan warna. Si buta hidup hanya meraba dan coba merasakan perbedaan tiap benda yang disentuhnya berdasarkan pengalaman dari hari ke hari. Bertahun-tahun hidup dijalaninya, masa depan tidak dipahaminya. Mimpi untuk bisa melihat, tak mampu diangankannya. Realita masa itu tak menyediakan apa pun yang mungkin untuk lebih meningkatkan nilai kehidupan. Pekerjaan sebagai pengemis, telah menjadi pilihan satu-satunya yang dipunyainya, yang lain tidak ada. Bagi orang beragama dia tercela, buta divonis sebagai buah dosa. Sudah menderita, terpuruk pula.
Sistem nilai agama seringkali tampil mengerikan, tanpa perasaan. Allah tak mengajarkan, tapi para pemimpin menafsirkan sendiri namun mengatasnamakan Allah. Sebuah penyelewengan yang terus berjalan sepanjang sejarah keagamaan.
Ketika tiba hari yang tak terbayangkan oleh si buta, seluruh jalan hidupnya total berubah. Si buta bertemu dengan Yesus Kristus yang saat itu sedang melintas dan bersimpati kepadanya. Yesus meludah ke tanah dan mengaduknya, lalu mengoleskannya ke mata orang buta itu. Tak perlu mencari tahu manfaat ludah bercampur tanah, juga tak perlu tahu mengapa Yesus melakukan itu. Yesus Kristus bisa menyembuhkan penyakit apa saja, dan Dia juga bisa berkata: “Melihatlah!”, maka orang buta melihat. Yesus menyembuhkan dengan banyak cara, tapi yang pasti, itu semua tergantung pada Diri-Nya. Si buta disuruh membasuh diri ke kolam Siloam yang berarti: yang diutus. Bagaikan orang yang diutus dan taat melakukan apa yang diperintahkan oleh yang mengutus, si buta kini langsung melihat dengan jelas. Tak terbilang rasa bahagia memenuhi dadanya, yang pasti tak tergambarkan dengan apa pun.
Anehnya, tak demikian dengan para pemimpin agama, mereka justru tak suka dengan semuanya. Mereka coba membungkam si buta, termasuk orang tuanya yang memang menjadi takut karenanya. Tetapi yang pasti, tetangganya yang banyak tahu betul riwayat si buta yang kini telah bisa melihat itu. Bahkan ada yang tidak bisa mengerti bagaimana orang buta mendadak bisa melihat, sehingga mereka berkata, “Bukan dia tapi memang mirip dengannya”. Si buta dengan berani bersaksi bahwa Yesuslah yang menyembuhkannya, dan dia menyebut Yesus sebagai seorang nabi. Fakta semakin banyak orang yang percaya kepada Yesus Kristus membuat para pemimpin agama semakin gelisah, bahkan menambah tumpukan amarah di dalam dada. Para pemimpin agama tak suka dengan kenyataan kesembuhan ini. Mereka tak bisa menerima bahwa Yesus telah melakukan , membuat si buta melihat. Genderang perang mereka tabuh, Yesus coba mereka pojokkan. Ironis, tetapi itulah kenyataannya. Si buta yang telah melihat, telah menjadi sama dengan orang yang melihat yang tidak pernah buta.
Tapi ternyata, di antara orang yang hidup melihat banyak orang yang buta yang tidak bisa melihat kebenaran dan ketuhanan Yesus Kristus. Dan, lebih mengerikan lagi mereka adalah pemimpin agama. Jika begini, bagaimana memahami makna yang terjadi ini. Ketika si buta disembuhkan, dia menjadi melihat. Namun ternyata melihat tak selalu menjadi hal yang luar biasa, karena justru karena melihat banyak orang berbuat dosa, seperti pencuri, pembunuh, dan lain sebagainya. Bahkan para pemimpin agama yang melihat itu pun ternyata malah buta rohani, karena tak bisa melihat kebenaran. Mereka terjebak pada konsep keberagaman yang sempit. Mereka hanya sibuk dengan urusan ritual, tapi mengabaikan yang terpenting yaitu spiritual. Entah bagaimana mereka menjalani hari-harinya. Jika melihat ternyata juga banyak masalah, lalu apa bedanya dengan buta tak melihat. Jika perbedaannya hanya soal melihat apa yang ada, apa hebatnya. Jika melihat lalu berbuat dosa, dan akhirnya binasa, untuk apa? Sebaliknya, jika buta, tetapi berbuat benar, dan akhirnya selamat, bukankah itu luar biasa?
Nah, memang nyata, si buta telah melihat. Tapi yang mana sesungguhnya makna . Orang buta bisa melihat? Kini teknologi telah memungkinkannya. Tak kurang pula cerita “orang pintar” yang bisa melakukannya. Jadi sekali lagi yang mana sesungguhnya sejati. Tak bisa disangkal lagi, ternyata mukjizat tak bisa berhenti hanya pada buta melihat, melainkan percaya dan mempercayakan diri pada Allah. Mukjizat buta melihat hanyalah alat antara saja, untuk membawa orang percaya kepada Yesus Kristus. Iman yang menjadikan orang percaya, di sanalah mukjizat yang sejati. Ya, buat apa mengalami mukjizat tapi tak menjadi pengikut Yesus Kristus yang serius?
Karena itu, ini menjadi catatan penting bagi umat beragama di masa kini. Di satu sisi yang tak percaya adanya mukjizat tetap ada, dan barisan mereka juga tak pendek. Bangga menyebut diri sebagai orang yang rasional, kaum liberal ini selalu sinis dengan realita mukjizat. Namun, di sisi lain yang percaya mukjizat, tak berarti benar seratus persen. Karena banyak yang hanya suka mukjizat, tapi tak suka hidup berserah kepada Yesus Kristus. Bahkan, mereka menyebut diri sebagai orang beriman kuat, hingga bisa memerintahkan apa saja, untuk dilakukan dalam nama Yesus. Bersembunyi di balik kata mukjizat, bersembunyi di balik nama Yesus, mereka menjadi dukun-dukun rohani. Sementara umat terus diiming-iming dengan mukjizat dan bukannya percaya serta menyangkal diri dan memilkul salib. Sejatinya, para dukun-dukun rohani ini menjual mukjizat sebagai produk agama, sebagaimana juga terjadi pada banyak agama lainnya.
Kita harus percaya, mukjizat itu tetap ada, namun itu sepenuhnya ada dalam kedaulatan Allah untuk melakukannya, jadi bukan pemaksaan kehendak oleh manusia. Tuhan bisa membiarkan mukjizat terjadi atas nama-Nya, namun Dia murka atas orang yang melakukannya (band, Matius 7: 21-23). Mereka melakukan mukjizat dalam nama Yesus di dunia, tetapi ditolak Yesus untuk masuk surga. Orang-orang seperti ini memang hidup kaya raya, karena mukjizat yang mereka lakukan menjadi daya tarik yang sangat kuat. Bandingkanlah dengan Yesus dan juga para rasul, yang melakukan banyak mukjizat, namun tak satu pun mereka yang kemudian menjadi kaya raya. Umat yang selalu ingin jalan mudah, bagaikan orang yang membangun di atas pasir, cepat membangunnya cepat pula rubuhnya. Jika Tuhan menghendaki mukjizat terjadi di dalam kehidupan kita, itu mudah. Yang penting adalah sikap iman yang benar, yang bersyukur jika mukjizat terjadi, namun itu bukan menjadi tujuan hidupnya. Tujuan hidup orang percaya adalah hidup memuliakan Allah, dengan melakukan semua perintahnya.
Kisah Fanny Crosby adalah kesaksian yang amat sangat menguatkan. Buta sejak usia 5 tahun tak membuat dia kecewa. Dia tumbuh menjadi seorang beriman, yang sepanjang hidupnya telah mencipta 8.000 lagu rohani. Ketika diwawancarai, reporter bertanya, “Jika Tuhan memberi Anda hidup sekali lagi, apa yang akan Anda minta?” Fanny menjawab, “Aku akan meminta agar Tuhan tetap mengijinkan aku buta namun beriman teguh kepada-Nya dan selalu memuliakan Dia”. Apakah Fanny tak percaya mukjizat? Tentu saja dia percaya, bahkan dia memilikinya, yaitu yang lebih besar lagi iman kepada Anak Allah, di dalam setiap kondisi.
Mukjizat masih ada, tapi mukjizat itu apa menurut Anda, sebuah perenungan yang perlu bukan?
Sistem nilai agama seringkali tampil mengerikan, tanpa perasaan. Allah tak mengajarkan, tapi para pemimpin menafsirkan sendiri namun mengatasnamakan Allah. Sebuah penyelewengan yang terus berjalan sepanjang sejarah keagamaan.
Ketika tiba hari yang tak terbayangkan oleh si buta, seluruh jalan hidupnya total berubah. Si buta bertemu dengan Yesus Kristus yang saat itu sedang melintas dan bersimpati kepadanya. Yesus meludah ke tanah dan mengaduknya, lalu mengoleskannya ke mata orang buta itu. Tak perlu mencari tahu manfaat ludah bercampur tanah, juga tak perlu tahu mengapa Yesus melakukan itu. Yesus Kristus bisa menyembuhkan penyakit apa saja, dan Dia juga bisa berkata: “Melihatlah!”, maka orang buta melihat. Yesus menyembuhkan dengan banyak cara, tapi yang pasti, itu semua tergantung pada Diri-Nya. Si buta disuruh membasuh diri ke kolam Siloam yang berarti: yang diutus. Bagaikan orang yang diutus dan taat melakukan apa yang diperintahkan oleh yang mengutus, si buta kini langsung melihat dengan jelas. Tak terbilang rasa bahagia memenuhi dadanya, yang pasti tak tergambarkan dengan apa pun.
Anehnya, tak demikian dengan para pemimpin agama, mereka justru tak suka dengan semuanya. Mereka coba membungkam si buta, termasuk orang tuanya yang memang menjadi takut karenanya. Tetapi yang pasti, tetangganya yang banyak tahu betul riwayat si buta yang kini telah bisa melihat itu. Bahkan ada yang tidak bisa mengerti bagaimana orang buta mendadak bisa melihat, sehingga mereka berkata, “Bukan dia tapi memang mirip dengannya”. Si buta dengan berani bersaksi bahwa Yesuslah yang menyembuhkannya, dan dia menyebut Yesus sebagai seorang nabi. Fakta semakin banyak orang yang percaya kepada Yesus Kristus membuat para pemimpin agama semakin gelisah, bahkan menambah tumpukan amarah di dalam dada. Para pemimpin agama tak suka dengan kenyataan kesembuhan ini. Mereka tak bisa menerima bahwa Yesus telah melakukan , membuat si buta melihat. Genderang perang mereka tabuh, Yesus coba mereka pojokkan. Ironis, tetapi itulah kenyataannya. Si buta yang telah melihat, telah menjadi sama dengan orang yang melihat yang tidak pernah buta.
Tapi ternyata, di antara orang yang hidup melihat banyak orang yang buta yang tidak bisa melihat kebenaran dan ketuhanan Yesus Kristus. Dan, lebih mengerikan lagi mereka adalah pemimpin agama. Jika begini, bagaimana memahami makna yang terjadi ini. Ketika si buta disembuhkan, dia menjadi melihat. Namun ternyata melihat tak selalu menjadi hal yang luar biasa, karena justru karena melihat banyak orang berbuat dosa, seperti pencuri, pembunuh, dan lain sebagainya. Bahkan para pemimpin agama yang melihat itu pun ternyata malah buta rohani, karena tak bisa melihat kebenaran. Mereka terjebak pada konsep keberagaman yang sempit. Mereka hanya sibuk dengan urusan ritual, tapi mengabaikan yang terpenting yaitu spiritual. Entah bagaimana mereka menjalani hari-harinya. Jika melihat ternyata juga banyak masalah, lalu apa bedanya dengan buta tak melihat. Jika perbedaannya hanya soal melihat apa yang ada, apa hebatnya. Jika melihat lalu berbuat dosa, dan akhirnya binasa, untuk apa? Sebaliknya, jika buta, tetapi berbuat benar, dan akhirnya selamat, bukankah itu luar biasa?
Nah, memang nyata, si buta telah melihat. Tapi yang mana sesungguhnya makna . Orang buta bisa melihat? Kini teknologi telah memungkinkannya. Tak kurang pula cerita “orang pintar” yang bisa melakukannya. Jadi sekali lagi yang mana sesungguhnya sejati. Tak bisa disangkal lagi, ternyata mukjizat tak bisa berhenti hanya pada buta melihat, melainkan percaya dan mempercayakan diri pada Allah. Mukjizat buta melihat hanyalah alat antara saja, untuk membawa orang percaya kepada Yesus Kristus. Iman yang menjadikan orang percaya, di sanalah mukjizat yang sejati. Ya, buat apa mengalami mukjizat tapi tak menjadi pengikut Yesus Kristus yang serius?
Karena itu, ini menjadi catatan penting bagi umat beragama di masa kini. Di satu sisi yang tak percaya adanya mukjizat tetap ada, dan barisan mereka juga tak pendek. Bangga menyebut diri sebagai orang yang rasional, kaum liberal ini selalu sinis dengan realita mukjizat. Namun, di sisi lain yang percaya mukjizat, tak berarti benar seratus persen. Karena banyak yang hanya suka mukjizat, tapi tak suka hidup berserah kepada Yesus Kristus. Bahkan, mereka menyebut diri sebagai orang beriman kuat, hingga bisa memerintahkan apa saja, untuk dilakukan dalam nama Yesus. Bersembunyi di balik kata mukjizat, bersembunyi di balik nama Yesus, mereka menjadi dukun-dukun rohani. Sementara umat terus diiming-iming dengan mukjizat dan bukannya percaya serta menyangkal diri dan memilkul salib. Sejatinya, para dukun-dukun rohani ini menjual mukjizat sebagai produk agama, sebagaimana juga terjadi pada banyak agama lainnya.
Kita harus percaya, mukjizat itu tetap ada, namun itu sepenuhnya ada dalam kedaulatan Allah untuk melakukannya, jadi bukan pemaksaan kehendak oleh manusia. Tuhan bisa membiarkan mukjizat terjadi atas nama-Nya, namun Dia murka atas orang yang melakukannya (band, Matius 7: 21-23). Mereka melakukan mukjizat dalam nama Yesus di dunia, tetapi ditolak Yesus untuk masuk surga. Orang-orang seperti ini memang hidup kaya raya, karena mukjizat yang mereka lakukan menjadi daya tarik yang sangat kuat. Bandingkanlah dengan Yesus dan juga para rasul, yang melakukan banyak mukjizat, namun tak satu pun mereka yang kemudian menjadi kaya raya. Umat yang selalu ingin jalan mudah, bagaikan orang yang membangun di atas pasir, cepat membangunnya cepat pula rubuhnya. Jika Tuhan menghendaki mukjizat terjadi di dalam kehidupan kita, itu mudah. Yang penting adalah sikap iman yang benar, yang bersyukur jika mukjizat terjadi, namun itu bukan menjadi tujuan hidupnya. Tujuan hidup orang percaya adalah hidup memuliakan Allah, dengan melakukan semua perintahnya.
Kisah Fanny Crosby adalah kesaksian yang amat sangat menguatkan. Buta sejak usia 5 tahun tak membuat dia kecewa. Dia tumbuh menjadi seorang beriman, yang sepanjang hidupnya telah mencipta 8.000 lagu rohani. Ketika diwawancarai, reporter bertanya, “Jika Tuhan memberi Anda hidup sekali lagi, apa yang akan Anda minta?” Fanny menjawab, “Aku akan meminta agar Tuhan tetap mengijinkan aku buta namun beriman teguh kepada-Nya dan selalu memuliakan Dia”. Apakah Fanny tak percaya mukjizat? Tentu saja dia percaya, bahkan dia memilikinya, yaitu yang lebih besar lagi iman kepada Anak Allah, di dalam setiap kondisi.
Mukjizat masih ada, tapi mukjizat itu apa menurut Anda, sebuah perenungan yang perlu bukan?

