
KEBEBASAN adalah “dewa modern” yang sangat diagung-agungkan oleh para penganutnya. Betapa tidak, karena sang dewa dengan senang hati mengangkat para pengikutnya menjadi sama dengan dirinya. Hal ini sungguh berbeda dengan konsep agama samawi yang percaya bahwa ada Allah yang berkuasa, Allah yang menciptakan seisi dunia, termasuk manusia tentunya. Allah yang berdaulat harus disembah umat. Dia Allah yang murka jika umat berbuat dosa, yang melakukan hal-hal yang dilarang Allah. Setiap hal yang tidak memenuhi standar Allah, tidak tepat dengan yang ditetapkan-Nya, itu adalah dosa. Dalam konteks agama samawi ini, ruang gerak manusia terasa sempit, terlalu banyak larangan. Dan hal itu diprotes mereka yang selalu ingin kebebasan tanpa batas.
Nah, realita ini membuat banyak umat mundur teratur, dan merapatkan barisan ke arah dewa yang bernama kebebasan: Dewa yang memberi mereka ruang tanpa batas, ekspresi tanpa aturan, dan berbagai wujud kebebasan yang sebebas-bebasnya. Aktualisasi kebebasan muncul pada berbagai aspek kehidupan. Dalam dunia seks, “pesta besar” digelar, homoseks (guy untuk yang pria dan lesbian untuk yang wanita), diberi label pilihan hidup. “Homoseks bukan dosa,” itu kilah mereka. Tiap orang memiliki kebebasan, menyukai apa yang mereka sukai, termasuk yang disebut agama sebagai penyimpangan. Hedonisme adalah kepercayaan mereka. Banyak nilai-nilai luhur moral yang dilahirkan agama, dijungkirbalikkan, dikikis oleh anak-anak dewa kebebasan. Mereka membangun suatu aturan yang tidak beraturan.
Semakin hari, barisan mereka semakin panjang, dan ekspresi mereka semakin menggila. Agama menjadi bahan tertawaannya. Keteraturan, dianggap suatu kebodohan. “Produk masa lampau,” kilah mereka. Pakaian tak lagi dibutuhkan, karena ketelanjangan bukan lagi persoalan. Tuhan bukan lagi yang di sana (ilahi), tapi yang di sini (diri sendiri). Lahirnya majalah Playboy di tahun lima puluhan, adalah wujud ejekan kepada kaum puritan yang mengumandangkan kesalehan beragama di Amerika. Memang, harus diakui, ada hal yang kurang bijak dari kaum puritan pada waktu itu, yang menjadi celah untuk pengejekan. Jadi, tidaklah mengherankan, jika kemudian muncul pelecehan terhadap agama. Di waktu lampau, di Amerika muncul film The Last Temptation, yang mengisahkan Yesus Kristus birahi pada perempuan Samaria (dalam konteks Yoh 4). Ini cukup mengguncang umat Kristen waktu itu, sekalipun tidak menimbulkan perusakan di sana-sini. Dan, uniknya, ternyata tidak sedikit para pendeta berpaham liberal menganggap film itu sah-sah saja. Wow, ternyata virus kebebasan itu telah merasuk jiwa pendeta-pendeta “berdarah” liberal.
read more...Ditulis untuk
Tabloid Reformata/www.reformata.com