CERMAT MELIHAT, CEPAT MEMBACA, TEPAT MEMUTUSKAN

10.22 bs 0 Comments

MELIHAT, adalah kata akrab di telinga tiap kita. Melihat berarti tidak buta, mata berfungsi dengan baik. Namun melihat yang kasat mata, dengan melihat makna di baliknya adalah dua hal yang berbeda. Melihat fenomena itu mudah, setiap orang yang tak buta mampu menjalankannya. Tapi melihat noumenanya, apa yang ada di balik fenomena, tidak semua bisa melakukannya. Orang buta bisa saja tak mampu melihat fenomena, namun bisa merasakan noumenanya. Untuk fenomena Anda cukup mengandalkan mata, tapi untuk memahami noumena, Anda harus memiliki bijaksana, dan kepekaan rasa terhadap makna.

Dalam kisah Alkitab, ada seorang yang buta sejak lahirnya yang disembuhkan Tuhan Yesus. Yang menarik dalam kisah ini bukan soal mukjizat kesembuhannya, melainkan kalimat yang diucapkan Yesus kepada orang Farisi yang tidak percaya pada mukjizat nyata itu. Tuhan Yesus berkata kepada orang Farsisi, ”Sekiranya kamu buta kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata : Kami melihat, maka tetaplah dosamu” (Yohanes 9: 41). Orang Farsisi itu memang tak buta, mereka bisa melihat, tapi justru itulah masalahnya. Mereka dengan jelas bisa melihat fenomena yang tak terbantah bahwa orang yang tadinya buta itu telah melihat oleh kuasa keilahian Yesus Kristus, namun mereka tak mau percaya pada realita kasat mata. Bagaimana mungkin mereka melihat noumena di balik semuanya? Yang kasat mata saja tak mampu, apalagi mencari makna. Sebaliknya bagi si orang buta, kebutaannya justru membawa dia melihat noumena, yaitu kebenaran dan kuasa ilahi dalam Yesus Kristus. Dia kini melihat, matanya tak lagi buta, namun ternyata bukan itu yang terpenting, melainkan kini dia melihat dan memahami makna tertinggi dari hidup ini. Yaitu melihat Yesus Kristus dan percaya kepada-Nya.

Kalau soal melihat, alias tak buta, orang Farisi melek sejak lahirnya namun buta mata rohaninya. Mereka ada dalam kegelapan yang menakutkan, berjalan dengan mata telanjang menuju titik mengerikan. Hidup penuh celaan, menghina sesama. Merasa murid Musa namun berperilaku tak mulia. Percaya pada Taurat namun bertindak sesat. Nah, orang Farisi tepat digambarkan sebagai orang yang melihat tak cermat, maka jangan berharap mereka akan mampu membaca noumena yang ada, apalagi bertindak tepat. Ironis, Farisi pemimpin agama tapi tak mampu membaca makna. Rohaniawan tapi tak bisa melihat masalah kejiwaan, masalah kerohanian. Karena itu tak heran, jika si buta yang telah disembuhkan Yesus dapat berkata dengan jitu kepada Farisi yang mengaku suci, murid Musa. ”Aneh juga bahwa kamu tak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku”.

Kita tahu, jika orang itu tidak datang dari Allah Ia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Merasa terpojok, bukannya Farisi sadar diri, malah bertindak bodoh sekali. Mutu rohani mereka dengan segera tampak nyata, buta total, dan hasilnya mereka justru mengusir si buta yang telah melek itu. Farisi pemimpin melek yang buta terhadap kebenaran. Mereka membuat keputusan ironis sebagai pemimpin agama. Bukannya mengajak orang untuk hidup benar, malah sebaliknya mengusir orang benar. Pemimpin sakit, dengan daya rusak yang efektif. Bom waktu perusak masa depan yang benar. Tapi inilah realita dalam kehidupan di kolong langit ini. Yang benar bisa tersisih, diusir oleh banyaknya jumlah orang melek yang buta rasa. Fenomena mencengangkan, sekaligus menyedihkan. Sayangnya, tak banyak yang menyadari hal ini, bahkan hanyut oleh arus ini. Pemimpin yang buta terhadap kebenaran, sangat fasih dalam kemunafikan, dan selalu berhasil melahirkan penipuan. Pemimpin seperti ini hanya memperkaya diri di balik retorika membela rakyat. Karena pembela rakyat yang sejati adalah pemimpin yang cermat melihat, cepat membaca, dan tepat bertindak untuk menolong rakyatnya.

Pemimpin seperti inilah yang akan melahirkan negara bermasa depan, rakyat berpengharapan.

Di republik kita, Indonesia tercinta, dengan mudah kita akan menemukan pemimpin baik di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, yang fasih berbicara, dan hebat dalam memengaruhi massa untuk menyakini janjinya. Tapi sangat sulit, bahkan kita cenderung frustrasi dan akhirnya apatis akan menemukan pemimpin sejati yang setia dan mewujudkan janji. Semua hanya terlibat dalam debat yang tak berujung. Saling mencerca dan membela diri tanpa argumentasi yang sehat. Menghantam kelemahan lawan untuk menunjukkan keunggulan diri, sekalipun semuanya tak ada korelasinya dengan kemajuan bersama. Ironisnya, untuk bersama hanya satu semangatnya, yaitu hancur bersama, karena tak rela melihat kenyataan bahwa lawan bisa berdiri sendiri. Habisi, atau mati bersama jika perlu, asal bukan dia. Rakyat menderita, mereka tak akan pernah peduli. Negara krisis, tak masalah, asal dan sekali lagi asal bukan dia.

Pemimpin seharusnya cermat membaca, paling tidak kehadiran diri dalam realita yang ada. Sadari kemampuan diri, dan jangan hanyut oleh ambisi sekadar menduduki kursi. Beri kesempatan pada yang lebih mampu, dan kalaupun harus bertanding, tak perlu mengumbar aib, tapi demonstrasikanlah keunggulan diri dan rencana yang teruji. Sementara rakyat digugat jika tak ingin sekadar diperalat, supaya cermat melihat, siapa sesungguhnya yang berkelas pemimpin. Mungkin Anda tak suka penampilannya, cara bicaranya, atau bahkan suku, hingga agamanya, namun Anda harus belajar dewasa bahwa negara apa pun, di mana pun, butuh pemimpin yang pemimpin. Abaikan selera diri, jangan terjebak fenomena karena itu bisa jadi sangat berbahaya.

Semoga Anda dan saya bisa menjadi bagian dari kemajuan bangsa kita yang tercinta ini. Mari kita cermati para pemimpin dalam tiap kata dan tindakannya. Apakah mereka cermat melihat realita kasat mata yang dihadapi bangsa ini. Yang selalu berbicara fakta dan bukan mengelak dari realita. Yang hanya suka berapolegetika, mengatakan ”kita kuat”, padahal lemah, ”kita tak miskin”, padahal rakyat kesulitan uang untuk belanja. Yang berjanji menyejahterakan rakyat, namun hanya sesaat. Hanya untuk menenangkan amuk masa, atau teknik murahan untuk mengalihkan isu yang dianggap mengancam kursi kekuasaan.

Lihatlah pemimpin yang mampu cepat membaca arah jaman. Sebagai contoh, soal energi yang masih menjadi isu hangat saat ini. Bukan soal berapa harganya, karena sudah hampir pasti minyak tak akan pernah bertambah murah. Pasti naik terus, walaupun akan diselingi fluktuasi turun-naik yang temporari. Mengapa? Karena penduduk bumi terus bertambah, yang artinya kebutuhan energi akan terus bertambah, sementara persedian akan terus menurun. Energi alternatif ternyata bukan jalan keluar yang mulus. Misalnya jagung yang bisa dibuat menjadi energi alternatif, akan mengakibatkan harga komoditi pangan akan meninggi, karena demand naik tinggi. Akibat penambahan fungsi bahwa jagung bukan lagi sekadar makanan tapi juga sumber energi. Belum lagi lahan yang semakin berkurang, karena jumlah manusia semakin bertambah.

Jadi pemimpin harus cepat membaca realita ini, karena jika terlambat dan salah bertindak, maka bangsa ini akan jadi pengemis di masa mendatang. Dengan cepat membaca, dan tepat bertindak, maka masa depan akan berpihak kepada kita. Pertanyaannya memang sangat serius, siapa dia, pemimpin yang cermat melihat, cepat membaca dan tepat bertindak? Entahlah, saya sendiri masih mencari dan terus menyeleksi. Semoga Anda juga, sehingga kita dapat senada memilih pemimpin yang memang pemimpin. Selamat mencermati, semoga tak terpolusi janji.q