NATO - NATO, BANYAK KALI, BAH
MUNGKIN Anda berpikir, maksud judul ini seharusnya “Nano-nano, permen manis, asem, asin, yang laris manis”. Bukan, pasti sekali, bukan itu. NATO di sini tak kalah terkenalnya, tapi bukan pesaing permen, melainkan sebuah singkatan, yang berarti “No Action Talk Only”. Si Abang dari Medan bilang, “banyak cakap kerja tak ada”. Selalu mahir bersilat lidah. Apa pun masalahnya, jawabannya selalu “akan, akan dan akan”. Tak pernah dia menjawab itu sudah dikerjakan, apalagi sudah selesai. Tak akan dia berkata, “aku salah”, atau lebih-lebih lagi, “aku tak bisa”.
Dalam dunia perpolitikan, jenis begini dengan mudah segera ditemukan, dan dalam jumlah banyak. Mereka hanya mampu berdebat kusir, tanpa solusi yang terukur. Saling menyerang dan bertahan, tapi tak jelas apa yang mau digapai. Merasa diri paham semua persoalan, walaupun hanya tahu dari apa kata orang, tanpa pernah tahu apa yang menjadi latar belakang pemikirannya.
Bang NATO, celakanya, banyak yang menduduki posisi strategis. Mereka muncul sebagai pemimpin dadakan, yang naik ke kursi kekuasaan lewat jalan pembodohan dan pengesahan segala cara. Di kursi kekuasaan, dia hanya menikmati kenikmatan yang ada, bahkan hampir pasti, menghabisi setiap persediaan yang ada. Dia turun dari jabatan, semua yang tadinya ada lenyap sudah, yang tersisa hanya barang rongsokan yang tak berharga. Pemimpin NATO, memiliki ciri khas yang tak tersembunyikan. Pintar bicara, mahir berkelit, itu kesan pertama yang tampak nyata. Pemimpin NATO, jika bicara, di mana saja, khususnya di media, pasti akan menggunakan kata “akan”. Kalau ditanya soal kekerasan, maka dia menjawab, ”kita akan menegakkan hukum”.
Negara kita negara hukum, dan semua orang sama di hadapan hukum. Tak peduli dia siapa, tapi yang pasti harus menaatinya. Jadi siapa pun yang melanggar hukum akan ditindak. Sebuah jawaban yang sangat heroik, tampak tegas dan lugas. Tapi ironisnya, saat dia bicara hukum sudah dilanggar, korban sudah jatuh dengan sia-sia. Kekerasan bukan saja telah terjadi, tapi meninggalkan bukti yang sangat pasti. Namun pemimpin NATO, masih berkata ”akan, akan, dan akan bertindak”. Berteriak lantang hukum akan ditegakkan, saat bersamaan membiarkan pelanggaran. Berteriak ”akan”, waktu korban sudah berjatuhan. ”Pemimpin NATO, betul-betul cuma bisa cakap saja, tapi tak kerja, payah kali bah,” kata orang Medan. Sementara si pelaku kekerasan tetap melenggang tanpa rasa salah, merasa diri benar, karena tak terjaring hukum. Si pemimpin tetap pula berdalih ”pasti akan ditindak”. Tak jelas apa yang ditunggunya untuk bertindak.
Tapi yang jelas memang itulah gaya si pemimpin NATO. Jangan mimpi dia akan bertindak. Yang ada malah diwawancarai dan berteori sejuta cara untuk meniadakan kekerasan. Lagi-lagi saat itu kekerasannya sedang terjadi. Jika merasa terpojok, jurus berikutnya akan keluar, lagi-lagi berkata, ”Kita harus mengumpulkan bukti” (padahal bukti tercecer di mana-mana). Bukti sudah lebih dari cukup, tetap saja si pemimpin NATO tak bertindak, karena sejatinya dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Atau, kalaupun tahu, dia tak punya nyali untuk melakukannya, sekalipun sangat bernyali untuk tetap berbicara. Dan, yang paling ironis, dia berbicara hukum atas si pelaku kekerasan. ”Kita tak bisa menangkap begitu saja,” kilahnya. ”Ada koridor hukum yang harus diperhatikan dan dihormati,” imbuhnya. Sementara korban, tak jelas apa hak hukumnya. Jelas dia sudah menjadi korban dari pelaku kekerasan, malah hak hukum si pelaku yang dijaga, padahal hukum dengan jelas mengatur agar pelaku kekerasan ditindak atas nama hukum. Memang gila si pemimpin NATO, menurut pemimpin waras. NATO-nya si pemimpin model inilah yang membuat pelaku kekerasan makin menjadi-jadi. Sementara si pemimpin NATO, tambah NATO saja.
Berbicara tentang kesulitan ekonomi pun sama saja. Jelas rakyat kesulitan, kelaparan, tak merasa aman, apalagi nyaman. Pemimpin NATO hanya berteriak heroik supaya rakyat tahan lapar, tahan banting. Padahal dia sendiri tak lapar apalagi terbanting. Rakyat dimintanya optimis. ”Jangan pesimis, maju terus pantang mundur,” katanya. Dia sendiri tak maju-maju, terus hanya bicara tanpa bertindak.
NATO, betul-betul NATO. ”Sakit perutku melihat dia,” kata beberapa kawan. Yang lain malah menimpali, aku malah ingin muntah mendengar cakapnya itu. Gilanya, si pemimpin NATO tak punya kepekaan terhadap perasaan rakyat kebanyakan. Kenapa? Maklumlah, yang ada di pikirannya sederhana saja. Aku sudah bicara, itu berarti aku sudah bekerja. ”Bicara, kan juga bekerja,” kilahnya. Ya, namanya juga pemimpin NATO, ya memang cuma bisa bicara. Bahkan menunjukkan rasa prihatin pun hanya dengan bicara. Turun ke bawah, menyapa rakyat jelata, merasa prihatin, dan meminta pemda untuk mengatasinya. Janji pun (baca: bicara), ditebar, harapan rakyat muncul ke permukaan, semua tampak senang. Namun, penantian tak kunjung datang, kekecewaanlah yang ada. Tapi di seberang sana, di tempat lain, sang pemimpin merasa telah berbuat. Dia sudah datang berkunjung, dan diliput kilatan cahaya blitz para kuli tinta. Belum lagi berbagai kamera video yang meliputnya. Semua tampak indah dalam laporannya, hebat dalam liputannya, tapi ironis di kenyataannya. Penderitaan rakyat hanya dieksploitasi untuk populeritas diri sendiri. Dia terkenal, rakyat terpental. Dia tertawa di antara derai air mata rakyat yang menderita. Lagi-lagi, dan lagi-lagi, dia merasa sudah mengambil bagian dalam penderitaan rakyat, hanya dengan bicara dan sedikit air mata dengan bantuan bawang atau yang sejenisnya. Dan yang pasti, media sudah melambungkannya. Maklumlah, pemimpin. Payahnya, di gereja, hal yang sama juga mudah merekamnya.
Pemimpin NATO, hanya bisa menyampaikan khotbah tanpa pernah bisa mewujudkannya. Berbicara seribu janji kebenaran, tapi tak bertindak benar. Menyatakan kemurahan, tapi tak pernah berbagi dikenyataan. Betullah kritik tajam Yakobus terhadap orang Kristen di waktu lampau, yang hanya banyak bicara tapi tak bertindak nyata. Yakobus (2: 20,26), berkata; Iman tanpa perbuatan adalah mati. Di waktu itu terlalu banyak orang Kristen gagah dalam pernaytaan imannya, tapi tak kelihatan dalam penyataan imannya. Umat belajar dari pemimpin NATO, pengkhotbah tanpa tindakan nyata. Akhirnya, itu pun tampak nyata dalam realita kehidupan sehari-hari. Ke manakah arah dunia ini? Si pemimpin NATO pasti segera berkata-kata tanpa henti, mau ke mana kita pergi? Entah itu atas nama ideologi, bahkan teologi. Tapi yang pasti itu cuma bicara, karena mereka toh tak pernah melangkah ke sana. Jangan lupa mereka hanya bicara.
Pemimpin NATO tak akan pernah habis, bahkan cenderung menjamur di berbagai arena kepemimpinan, termasuk kepemimpinan rohani sekalipun. Tapi, awas, itu bukan alasan untuk memperpanjangnya. Kita yang waras justru ditantang untuk menjadi pemimpin yang berbicara dan bertindak nyata. Berkhotbah dan melakukannya. Ora Et Labora, itu semangatnya. Semoga kita tak NATO, melainkan TANTO, TAlk aNd acTiOn. Tapi, apalah arti sebuah singkatan, karena yang penting adalah tindakan dan kenyataan. Bukankah begitu kawan? Selamat menjadi pemimpin yang bertindak.
Dalam dunia perpolitikan, jenis begini dengan mudah segera ditemukan, dan dalam jumlah banyak. Mereka hanya mampu berdebat kusir, tanpa solusi yang terukur. Saling menyerang dan bertahan, tapi tak jelas apa yang mau digapai. Merasa diri paham semua persoalan, walaupun hanya tahu dari apa kata orang, tanpa pernah tahu apa yang menjadi latar belakang pemikirannya.
Bang NATO, celakanya, banyak yang menduduki posisi strategis. Mereka muncul sebagai pemimpin dadakan, yang naik ke kursi kekuasaan lewat jalan pembodohan dan pengesahan segala cara. Di kursi kekuasaan, dia hanya menikmati kenikmatan yang ada, bahkan hampir pasti, menghabisi setiap persediaan yang ada. Dia turun dari jabatan, semua yang tadinya ada lenyap sudah, yang tersisa hanya barang rongsokan yang tak berharga. Pemimpin NATO, memiliki ciri khas yang tak tersembunyikan. Pintar bicara, mahir berkelit, itu kesan pertama yang tampak nyata. Pemimpin NATO, jika bicara, di mana saja, khususnya di media, pasti akan menggunakan kata “akan”. Kalau ditanya soal kekerasan, maka dia menjawab, ”kita akan menegakkan hukum”.
Negara kita negara hukum, dan semua orang sama di hadapan hukum. Tak peduli dia siapa, tapi yang pasti harus menaatinya. Jadi siapa pun yang melanggar hukum akan ditindak. Sebuah jawaban yang sangat heroik, tampak tegas dan lugas. Tapi ironisnya, saat dia bicara hukum sudah dilanggar, korban sudah jatuh dengan sia-sia. Kekerasan bukan saja telah terjadi, tapi meninggalkan bukti yang sangat pasti. Namun pemimpin NATO, masih berkata ”akan, akan, dan akan bertindak”. Berteriak lantang hukum akan ditegakkan, saat bersamaan membiarkan pelanggaran. Berteriak ”akan”, waktu korban sudah berjatuhan. ”Pemimpin NATO, betul-betul cuma bisa cakap saja, tapi tak kerja, payah kali bah,” kata orang Medan. Sementara si pelaku kekerasan tetap melenggang tanpa rasa salah, merasa diri benar, karena tak terjaring hukum. Si pemimpin tetap pula berdalih ”pasti akan ditindak”. Tak jelas apa yang ditunggunya untuk bertindak.
Tapi yang jelas memang itulah gaya si pemimpin NATO. Jangan mimpi dia akan bertindak. Yang ada malah diwawancarai dan berteori sejuta cara untuk meniadakan kekerasan. Lagi-lagi saat itu kekerasannya sedang terjadi. Jika merasa terpojok, jurus berikutnya akan keluar, lagi-lagi berkata, ”Kita harus mengumpulkan bukti” (padahal bukti tercecer di mana-mana). Bukti sudah lebih dari cukup, tetap saja si pemimpin NATO tak bertindak, karena sejatinya dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Atau, kalaupun tahu, dia tak punya nyali untuk melakukannya, sekalipun sangat bernyali untuk tetap berbicara. Dan, yang paling ironis, dia berbicara hukum atas si pelaku kekerasan. ”Kita tak bisa menangkap begitu saja,” kilahnya. ”Ada koridor hukum yang harus diperhatikan dan dihormati,” imbuhnya. Sementara korban, tak jelas apa hak hukumnya. Jelas dia sudah menjadi korban dari pelaku kekerasan, malah hak hukum si pelaku yang dijaga, padahal hukum dengan jelas mengatur agar pelaku kekerasan ditindak atas nama hukum. Memang gila si pemimpin NATO, menurut pemimpin waras. NATO-nya si pemimpin model inilah yang membuat pelaku kekerasan makin menjadi-jadi. Sementara si pemimpin NATO, tambah NATO saja.
Berbicara tentang kesulitan ekonomi pun sama saja. Jelas rakyat kesulitan, kelaparan, tak merasa aman, apalagi nyaman. Pemimpin NATO hanya berteriak heroik supaya rakyat tahan lapar, tahan banting. Padahal dia sendiri tak lapar apalagi terbanting. Rakyat dimintanya optimis. ”Jangan pesimis, maju terus pantang mundur,” katanya. Dia sendiri tak maju-maju, terus hanya bicara tanpa bertindak.
NATO, betul-betul NATO. ”Sakit perutku melihat dia,” kata beberapa kawan. Yang lain malah menimpali, aku malah ingin muntah mendengar cakapnya itu. Gilanya, si pemimpin NATO tak punya kepekaan terhadap perasaan rakyat kebanyakan. Kenapa? Maklumlah, yang ada di pikirannya sederhana saja. Aku sudah bicara, itu berarti aku sudah bekerja. ”Bicara, kan juga bekerja,” kilahnya. Ya, namanya juga pemimpin NATO, ya memang cuma bisa bicara. Bahkan menunjukkan rasa prihatin pun hanya dengan bicara. Turun ke bawah, menyapa rakyat jelata, merasa prihatin, dan meminta pemda untuk mengatasinya. Janji pun (baca: bicara), ditebar, harapan rakyat muncul ke permukaan, semua tampak senang. Namun, penantian tak kunjung datang, kekecewaanlah yang ada. Tapi di seberang sana, di tempat lain, sang pemimpin merasa telah berbuat. Dia sudah datang berkunjung, dan diliput kilatan cahaya blitz para kuli tinta. Belum lagi berbagai kamera video yang meliputnya. Semua tampak indah dalam laporannya, hebat dalam liputannya, tapi ironis di kenyataannya. Penderitaan rakyat hanya dieksploitasi untuk populeritas diri sendiri. Dia terkenal, rakyat terpental. Dia tertawa di antara derai air mata rakyat yang menderita. Lagi-lagi, dan lagi-lagi, dia merasa sudah mengambil bagian dalam penderitaan rakyat, hanya dengan bicara dan sedikit air mata dengan bantuan bawang atau yang sejenisnya. Dan yang pasti, media sudah melambungkannya. Maklumlah, pemimpin. Payahnya, di gereja, hal yang sama juga mudah merekamnya.
Pemimpin NATO, hanya bisa menyampaikan khotbah tanpa pernah bisa mewujudkannya. Berbicara seribu janji kebenaran, tapi tak bertindak benar. Menyatakan kemurahan, tapi tak pernah berbagi dikenyataan. Betullah kritik tajam Yakobus terhadap orang Kristen di waktu lampau, yang hanya banyak bicara tapi tak bertindak nyata. Yakobus (2: 20,26), berkata; Iman tanpa perbuatan adalah mati. Di waktu itu terlalu banyak orang Kristen gagah dalam pernaytaan imannya, tapi tak kelihatan dalam penyataan imannya. Umat belajar dari pemimpin NATO, pengkhotbah tanpa tindakan nyata. Akhirnya, itu pun tampak nyata dalam realita kehidupan sehari-hari. Ke manakah arah dunia ini? Si pemimpin NATO pasti segera berkata-kata tanpa henti, mau ke mana kita pergi? Entah itu atas nama ideologi, bahkan teologi. Tapi yang pasti itu cuma bicara, karena mereka toh tak pernah melangkah ke sana. Jangan lupa mereka hanya bicara.
Pemimpin NATO tak akan pernah habis, bahkan cenderung menjamur di berbagai arena kepemimpinan, termasuk kepemimpinan rohani sekalipun. Tapi, awas, itu bukan alasan untuk memperpanjangnya. Kita yang waras justru ditantang untuk menjadi pemimpin yang berbicara dan bertindak nyata. Berkhotbah dan melakukannya. Ora Et Labora, itu semangatnya. Semoga kita tak NATO, melainkan TANTO, TAlk aNd acTiOn. Tapi, apalah arti sebuah singkatan, karena yang penting adalah tindakan dan kenyataan. Bukankah begitu kawan? Selamat menjadi pemimpin yang bertindak.

