DICARI, PEMIMPIN YANG PEMIMPIN

10.18 bs 0 Comments

DALAM Amsal 11:14, jelas diungkapkan betapa pentingnya seorang pemimpin. Simaklah ucapan ini: “Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada”. Kehadiran seorang pemimpin sangat krusial, namun juga sangat rawan. Krusial, jika sang pemimpin adalah asli seorang pemimpin yang berjiwa pemimpin, namun sungguh berbahaya jika dia hanyalah pemimpin imitasi, yang naik hanya karena kolusi, dan nepotisme belaka. Pemimpin yang pemimpin, lahir dan bertumbuh dalam kancah kepemimpinan yang panjang. Dibentuk dengan sistematik dan teruji oleh waktu. Dia harus merupakan perpaduan harmoni antara intelektual yang tinggi dan kekuatan mental yang tangguh. Memiliki nilai-nilai moral yang terpuji, selalu berada di depan dan siap dengan berbagai konsekuensi yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Ungkapan “jika tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa” sangatlah tepat dan segera terlihat dalam sejarah kepemimpinan di berbagai belahan dunia ini. Pemimpin yang pemimpin tak pernah dilahirkan sekejap, atau karena sebuah kebetulan. Dia sudah ada sekalipun tak terlihat, dia sudah teruji sekalipun tak formal. Alam, pergaulan, kehidupan keseharian, benturan, kesakitan, tekanan, kalah dan menang, menjadi ujian terbaik bagi seorang pemimpin sejati. Sungguh tak bisa dibayangkan perjalanan sebuah bangsa tanpa seorang pemimpin yang mumpuni. Tak sedikit tercatat dalam sejarah, sebuah bangsa yang kuat, maju, dan hebat, di kemudian hari terpuruk, hilang dari gegap gempita kemegahannya, bahkan sangat ironis kondisinya.

Pemimpin pertama yang berhasil memberikan kejayaan bagi bangsanya, ternyata tak menemukan pengganti yang pas. Sekelompok manusia serakah menyodorkan pemimpin yang tak berkualitas untuk naik, dan mereka berharap akan bisa mengeduk keuntungan darinya. Kolusi, nepotisme gelap mata berlanjut, pembodohan dan penghianatan tak terhindar, Negara pun meluncur ke kehancuran secara drastis. Pemimpin, tak lagi menjadi pemimpin. Dia hanya boneka mainan sekelompok orang serakah. Yang diambil darinya hanyalah figur kepemimpinan yang diwarisinya, tapi jiwa kepemimpinan tak pernah dimilikinya.

Dalam kisah kerajaan, ambisi ibu ratu atau petinggi istana yang korup seringkali bersatu untuk menghabisi masa pemerintahan raja tua yang bijak. Raja yang sangat dicintai rakyatnya karena kebaikannya dan kebijakan hebat dalam memerintah, tapi sekaligus kurang disukai oleh ibu ratu dan petinggi istana yang gila hormat dan gila harta. Pemimpin yang pemimpin bukanlah pemimpin tanpa musuh. Dicintai rakyat di satu sisi, namun juga bisa jadi dibenci petinggi di lain sisi. Kebenaran dan keadilan yang coba ditegakkan selalu memiliki dwi-konsekuensi, yakni, dicintai dan dibenci. Ketika sang pemimpin yang pemimpin wafat, pengganti yang tak berkualitas pemimpin naik, mudah menduga ke mana arah negara atau kerajaan. Ya, bukan pada kemajuan melainkan kemunduran. Tak lagi ada pemimpin yang pemimpin, yang ada hanya pemimpin yang tak memimpin, melainkan merusak dan menghabisi apa yang ada.

Republik kita tercinta, Indonesia, di waktu lampau dihormati, dan berada di atas negara-negara ASEAN. Putra-putri Malaysia datang untuk studi ke Indonesia. Singapura bukanlah apa-apa. Namun, aneh bin ajaib, semakin hari kita tak semakin maju, sebaliknya tertinggal. Rasa tak aman semakin menggila, sementara panggung politik semakin tak menarik, sekalipun “semakin lucu” saja. Yang paling gres bisa kita saksikan di negara yang dikenal sebagai pengekspor BBM ini. Di perut bumi tercinta ini Tuhan menganugerahkan berlimpah cadangan minyak. Minyak yang tersedia masih cukup untuk jangka waktu yang panjang. Namun di saat bersamaan, Indonesia tercinta dipermalukan oleh para petingginya, karena kini kita berubah status menjadi pengimpor minyak. Mengapa bisa terjadi? Karena kilang tua semakin menurun produksinya, dan itu lumrah. Yang tak lumrah adalah ketidakmampuan kita untuk menemukan cadangan minyak yang baru, yang jelas ada di perut bumi ini, bukan di perut bumi lainnya. Dari kebutuhan BBM sebesar 1,5 juta barel, kita mengimpor hampir separohnya (produksi kita sekitar 900 ribu barel). Padahal produksi sebelumnya masih mencukupi kebutuhan. Dan, itu tadi, di perut bumi pertiwi masih banyak cadangan untuk mencukupi kebutuhan BBM bagi rakyat republik ini. Tapi, tak tergali.

Kita punya cadangan gas yang juga sangat banyak, tapi juga selalu dikeluhkan kekurangan, karena kebutuhan ekspor yang mesti dipenuhi. Padahal gas yang juga masih banyak itu bisa dipergunakan untuk angkutan umum, dan biayanya lebih rendah dibandingkan BBM. Lalu, apa yang terjadi dengan rakyat yang memerlukan BBM setiap hari? Jawabanya mudah sekali, naikkan harga, karena harga minyak dunia naik terus (kita mengimpor kekurangan kebutuhan dengan harga minyak dunia). Siapa yang salah? Mudah sekali, harga minyak yang terus naik. Bukankah, kita masih punya persediaan minyak yang cukup tapi belum digali? Masak rakyat harus menanggung salah kelola para pemimpin yang selalu menerima fasilitas negara, lewat pajak dari rakyat? Ssstttt… jangan kencang-kencang, karena pemimpin tak mungkin salah. Yang bisa mengaku salah dan bertanggung jawab atas ketidakbenaran hanyalah pemimpin yang pemimpin.

Nah, masalahnya, apakah kita punya pemimpin yang pemimpin? Jika musim kampanye, semua sih mengakunya begitu, namun dalam kenyataan kita sudah berpengalaman untuk sama-sama yakin bahwa kebanyakan bohong, bahkan seringkali bohong yang sempurna. Pemimpin yang pemimpin semakin langka ditemui. Sebagai rakyat kita juga punya salah yang tidak kecil, yaitu terlalu mudah percaya pada janji yang tak pernah diuji. Tapi apa mau dikata, penduduk kita yang buta huruf saja masih cukup banyak, apalagi yang tidak lulus SD mendominasi para pemilih, jadi memang mudah untuk diakali. Nah, ini dimanfaatkan oleh pemimpin yang bukan pemimpin, maklum manipulasi buat mereka sah. Yang punya hati nurani itu kan hanya pemimpin yang pemimpin.

Tak ada jalan lain kecuali mengamati dengan cermat, mengkritisi dan jika perlu mensomasi pemimpin yang bukan pemimpin. Di sini diperlukan suara kenabian, yang menyuarakan kebenaran tanpa pamrih, dan tanpa takut. Gereja dituntut kehadirannya dalam dunia nyata, dan tak bersembunyi di balik “mimbar suci” tanpa pernah membumi. Mereka yang selalu mengaku dibisiki Tuhan, entah bisikan apa yang mereka dengar, tapi yang pasti mereka tak terlihat, dan suaranya tak terdengar membela rakyat miskin. Bahkan sebaliknya mereka malah terus menumpuk kekayaan. Mirip dengan pemimpin yang bukan pemimpin. Ironis bukan? Di arena suci saja para pemimpin tak lagi suci, bagaimana lagi di arena abu-abu, di mana kemunafikan merajalela dengan nama diplomasi.

Jika tak ada pemimpin yang pemimpin, bukankah itu berarti ancaman bagi negara? Bukankah itu berarti kejatuhan akan segera tiba? Anda tahu kan jawabannya. Yang pasti mari bahu-membahu mengoreksi yang salah, termasuk gereja yang harus berani lebih dulu introspeksi, dan memperbaiki diri. Turun membumi dan turut serta secara nyata membereskan persoalan yang ada. Siapa tahu para petinggi negeri itu ada di gereja Anda, ingatkan dan bantu dia berkarya. Semoga pemimpin yang pemimpin segera tampak ke permukaan, agar republik yang diberkati Tuhan ini tak menjadi malu, miskin dalam kekayaannya. Ya Indonesiaku, miskin karena tak mampu mengelola anugerah Allah yang melimpah.