KEBANGUNAN YANG MEMBAHAYAKAN
MILENIUM 3 akan diwarnai oleh kebangunan dalam keagamaan. Sekilas kabar ini tampak menyenangkan, karena sangat menjanjikan. Ya, menjanjikan, karena dengan kebangunan dalam agama itu berarti manusia akan semakin baik dalam kualitas moral dan spritualnya. Dan perbaikan dalam moral dan spiritual itu juga akan menghadirkan perdamaian. Alangkah indahnya dunia, yang bukan saja damai, tapi juga berjalan di jalan yang benar. Alangkah manisnya relasi antara tiap pribadi.
Tapi sayang, itu cuma mimpi. Karena kebangunan agama di milenium 3 memiliki arti yang tak biasa. Kebangunan agama yang dimaksud adalah kecenderungan manusia “beragama”, dan juga bisa berarti kehadiran agama dalam wajah yang berbeda. Ya, agama dengan semangat new age. Di dalam semangat seperti ini pencarian akan “Tuhan” mengalami perubahan orientasi. Jika di waktu lampau manusia beragama menaklukkan diri pada kehendak “Tuhan”, maka kini manusialah yang menjadi “Tuhan”. Sementara ”Tuhan” itu sendiri hanyalah menjadi pemberi kuasa, atau apa saja, yang dibutuhkan manusia.
Dalam perspektif Alkitab, menarik, karena situasi seperti ini sudah diantisipasi. Dalam 2 Petrus 2: 1-20, Rasul Petrus dengan tegas menggambarkan mereka sebagai guru-guru palsu. Guru-guru ini semakin populer, disukai, karena menjanjikan hal-hal yang sangat disukai manusia berdosa. Mereka disebutkan menjanjikan kemerdekaan, padahal mereka sendiri tawanan dosa. Menawarkan berbagai kemudahan menghadapi hidup, padahal mereka mengeruk keuntungan dari hal itu. Mereka digambarkan sebagai orang yang sukses menipu. Mencari keuntungan dari memberitakan Injil, membuat mereka limpah harta. Gaya hidupnya wah, menggoda umat untuk menjadi pengikutnya karena dijadikan bukti keberhasilan yang diberkati Tuhan.
Dalam konteks masa kini, model yang mengumbar janji seperti ini melakukan pendekatan psikologi, bukan teologi. Mereka lebih pas menjadi motivator ketimbang gembala. Membangun percaya diri dengan janji, dan bukan penyerahan diri pada kehendak ilahi. Memanjakan umat dengan apa saja yang mereka mau pasti dapat, bukannya mengajarkan untuk mengerti apa yang Allah mau. “Apa yang dikehendaki umat, itu adalah kehendak Allah,” imbuh mereka, dengan memutarbalikkan kebenaran Firman Allah. Dan hebatnya, dalam perkembangannya secara kuantitas mereka melejit cepat. Pas, seperti apa yang dikatakan Alkitab, mereka berhasil memikat dan menyesatkan banyak orang.
Inilah kebangunan agama yang semu. Meninggi dalam kuantitas, namun kehilangan kualitas. Kuantitas selalu dijadikan bukti diberkati. Sementara Matius dalam pasal 24: 23-26, dalam konteks yang sama memperkaya penggambaran kesesatan ini. Di sini dikatakan bahwa mereka hadir dengan tanda-tanda yang dahsyat, dan mukjizat yang hebat. Bahkan dikatakan, sekiranya mungkin (namun tak mungkin), mereka ingin menyesatkan orang-orang pilihan sekalipun. Ini sebuah penggambaran betapa hebatnya pengaruh si penyesat ini. Nabi palsu yang berbicara atas nama kebenara ini (tapi dipalsukan), lagi-lagi memikat banyak pengikut. Mukjizat hebat mereka menjadi kartu as penyertaan Allah atas pelayanan mereka. Mukjizat memang sangat memikat, mulai dari kesembuhan hingga nubuatan alias peramalan. Bahkan tak sedikit pendeta dari baris ini yang bisa tahu tanggal lahir Anda, atau apa yang bersifat pribadi pada diri Anda. Persis seperti ahli baca garis tangan, yang bisa menebak banyak hal dalam diri, dan nyaris tepat semua.
Kini umat yang memang suka fenomena mukjizat, tak lagi perlu ke dukun untuk sebuah kesembuhan. Juga tak perlu ke paranormal untuk sebuah prakiraan akan masa depan. Semuanya kini juga ada, dan tersedia di gereja, oleh banyak pendeta. Tak jelas lagi ukuran atau tanda seorang pelayan. Tapi tak perlu heran, karena Alkitab memang sudah mengatakan, dan semuanya tepat seratus persen, bukan nyaris mirip.
Sukses menjaring pengikut, kebangunan ini seakan tak terbantah. Fenomena perkembangannya sangat mencengangkan, bukan saja jumlah pengikut yang banyak, tetapi juga tumpukan harta yang semakin menggila. Aset gereja, yang praktis dalam penguasaan pribadi terus bertambah, kekayaan para pendeta sudah melewati batas kewajaran. Di Amerika tidak sedikit pendeta yang diaudit dinas pajak, karena kekayaan yang mencurigakan. Betul sekali apa yang dikatakan Yesus, “Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih”. Jorgan-jorgan psikologi, mukjizat yang silih berganti, menjadi trend dalam kebangunan agama di lingkungan Kristen. Di agama lain, hal ini juga setali tiga uang. New age, memang sukses menghadirkan agama dalam wajah baru, di mana umat yang selama ini hanya pengikut Allah, kini telah diberi kuasa untuk menjadi Allah.
Kebangunan agama di masa kini didominasi psikologi di satu sisi. Psikologi mengeksplorasi perasaan habis-habisan. Nalar dijungkirbalikkan, rasa dikemukakan, atas nama sentuhan “Roh Kudus”. Apa saja yang mau diucapkan menjadi sah, cukup dengan menambah mantera, “Kata Roh Kudus”, atau “Roh Kudus mengatakan kepada saya”. Maka, apa pun yang dikatakan oleh pengkhotbah semua mengaminkannya. Mengapa? Karena setiap yang diucapkannya adalah “nubuatan” tentang sukses. Jika ada teguran, itu pun dalam rangka menggapai sukses tersebut. Di berbagai agama lain terjadi hal yang sama, namun tentu saja dengan “Allah” yang berbeda, sesuai keyakinan mereka. Lalu fenomena mukjizat juga tampil sebagai terobosan kemudahan. Bayangkan jika Anda menderita sakit menahun, lalu mendadak sembuh dalam sekejap, oleh sebuah ucapan dahsyat. Atau, terobosan atas bisnis yang macet. Ringkas cerita, berbagai kemudahan ditawarkan, bukankah itu sangat menyenangkan?
Karena itu tak mengherankan jika pengikut “agama baru” ini semakin hari semakin panjang saja. Pendeta tak perlu lagi belajar teologi, asal fasih lidah cukup sudah untuk menjadi motivator. Jemaat yang telah gelap mata akibat kuatnya tekanan hidup, sudah malas berpikir apalagi harus menyelidiki kebenaran yang sejati. Dan di sisi lain, kebenaran dianggap sebagai sesuatu yang sulit dijalankan di masa kini yang memang semakin abu-abu. Atau pendeta dengan latar belakang perdukunan, atau paranormal, atau yang lebih modern melatih diri dengan kemampuan hipnotis, memakai kemampuannya. Cukup dengan mengganti baju, dengan bersaksi sudah bertobat, maka mukjizat dengan mengatasnamakan Yesus meluncur deras.
Kok bisa, bukankah ini penipuan? Ya, Anda benar, ini penipuan. Hanya saja, mungkin Anda lupa, Yesus sendiri telah mengatakan ada orang yang menjual nama-Nya untuk mukjizat, kesembuhan, bahkan pengusiran setan. Mungkin Anda makin bingung karena setan diusir. Bukankah itu berarti dari Tuhan? Lagi-lagi harus Anda pahami Matius 7: 21-23, bahwa itu bisa terjadi, karena Yesus sendiri yang mengatakannya. Namun, nanti, di hari penghakiman mereka akan ditolak dan dibuang. Anda pasti kecele jika saat itu tiba, karena telah percaya dan mengikut yang salah.
Karena itu, sekarang, selagi di bumi, hati-hatilah terhadap fenomena ini. Bijaklah dan jangan tertipu. Karena yang pasti akan banyak yang tertipu, tapi semoga bukan Anda. Jadi, jangan heran dengan kebangunan dalam berbagai agama yang belum pernah terjadi dalam sejarah, namun awas jangan pula lupa, ini membahayakan. Kebangunan yang palsu, memelintir kebenaran. Tampak menyenangkan dan penuh pembuktian, namun tipuan setan. Kebenaran semakin langka, dan kurang disukai, di dunia yang penuh dosa dan kepalsuan ini. Awas kebangunan agama yang membahayakan. Semoga Anda bijak.
Tapi sayang, itu cuma mimpi. Karena kebangunan agama di milenium 3 memiliki arti yang tak biasa. Kebangunan agama yang dimaksud adalah kecenderungan manusia “beragama”, dan juga bisa berarti kehadiran agama dalam wajah yang berbeda. Ya, agama dengan semangat new age. Di dalam semangat seperti ini pencarian akan “Tuhan” mengalami perubahan orientasi. Jika di waktu lampau manusia beragama menaklukkan diri pada kehendak “Tuhan”, maka kini manusialah yang menjadi “Tuhan”. Sementara ”Tuhan” itu sendiri hanyalah menjadi pemberi kuasa, atau apa saja, yang dibutuhkan manusia.
Dalam perspektif Alkitab, menarik, karena situasi seperti ini sudah diantisipasi. Dalam 2 Petrus 2: 1-20, Rasul Petrus dengan tegas menggambarkan mereka sebagai guru-guru palsu. Guru-guru ini semakin populer, disukai, karena menjanjikan hal-hal yang sangat disukai manusia berdosa. Mereka disebutkan menjanjikan kemerdekaan, padahal mereka sendiri tawanan dosa. Menawarkan berbagai kemudahan menghadapi hidup, padahal mereka mengeruk keuntungan dari hal itu. Mereka digambarkan sebagai orang yang sukses menipu. Mencari keuntungan dari memberitakan Injil, membuat mereka limpah harta. Gaya hidupnya wah, menggoda umat untuk menjadi pengikutnya karena dijadikan bukti keberhasilan yang diberkati Tuhan.
Dalam konteks masa kini, model yang mengumbar janji seperti ini melakukan pendekatan psikologi, bukan teologi. Mereka lebih pas menjadi motivator ketimbang gembala. Membangun percaya diri dengan janji, dan bukan penyerahan diri pada kehendak ilahi. Memanjakan umat dengan apa saja yang mereka mau pasti dapat, bukannya mengajarkan untuk mengerti apa yang Allah mau. “Apa yang dikehendaki umat, itu adalah kehendak Allah,” imbuh mereka, dengan memutarbalikkan kebenaran Firman Allah. Dan hebatnya, dalam perkembangannya secara kuantitas mereka melejit cepat. Pas, seperti apa yang dikatakan Alkitab, mereka berhasil memikat dan menyesatkan banyak orang.
Inilah kebangunan agama yang semu. Meninggi dalam kuantitas, namun kehilangan kualitas. Kuantitas selalu dijadikan bukti diberkati. Sementara Matius dalam pasal 24: 23-26, dalam konteks yang sama memperkaya penggambaran kesesatan ini. Di sini dikatakan bahwa mereka hadir dengan tanda-tanda yang dahsyat, dan mukjizat yang hebat. Bahkan dikatakan, sekiranya mungkin (namun tak mungkin), mereka ingin menyesatkan orang-orang pilihan sekalipun. Ini sebuah penggambaran betapa hebatnya pengaruh si penyesat ini. Nabi palsu yang berbicara atas nama kebenara ini (tapi dipalsukan), lagi-lagi memikat banyak pengikut. Mukjizat hebat mereka menjadi kartu as penyertaan Allah atas pelayanan mereka. Mukjizat memang sangat memikat, mulai dari kesembuhan hingga nubuatan alias peramalan. Bahkan tak sedikit pendeta dari baris ini yang bisa tahu tanggal lahir Anda, atau apa yang bersifat pribadi pada diri Anda. Persis seperti ahli baca garis tangan, yang bisa menebak banyak hal dalam diri, dan nyaris tepat semua.
Kini umat yang memang suka fenomena mukjizat, tak lagi perlu ke dukun untuk sebuah kesembuhan. Juga tak perlu ke paranormal untuk sebuah prakiraan akan masa depan. Semuanya kini juga ada, dan tersedia di gereja, oleh banyak pendeta. Tak jelas lagi ukuran atau tanda seorang pelayan. Tapi tak perlu heran, karena Alkitab memang sudah mengatakan, dan semuanya tepat seratus persen, bukan nyaris mirip.
Sukses menjaring pengikut, kebangunan ini seakan tak terbantah. Fenomena perkembangannya sangat mencengangkan, bukan saja jumlah pengikut yang banyak, tetapi juga tumpukan harta yang semakin menggila. Aset gereja, yang praktis dalam penguasaan pribadi terus bertambah, kekayaan para pendeta sudah melewati batas kewajaran. Di Amerika tidak sedikit pendeta yang diaudit dinas pajak, karena kekayaan yang mencurigakan. Betul sekali apa yang dikatakan Yesus, “Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih”. Jorgan-jorgan psikologi, mukjizat yang silih berganti, menjadi trend dalam kebangunan agama di lingkungan Kristen. Di agama lain, hal ini juga setali tiga uang. New age, memang sukses menghadirkan agama dalam wajah baru, di mana umat yang selama ini hanya pengikut Allah, kini telah diberi kuasa untuk menjadi Allah.
Kebangunan agama di masa kini didominasi psikologi di satu sisi. Psikologi mengeksplorasi perasaan habis-habisan. Nalar dijungkirbalikkan, rasa dikemukakan, atas nama sentuhan “Roh Kudus”. Apa saja yang mau diucapkan menjadi sah, cukup dengan menambah mantera, “Kata Roh Kudus”, atau “Roh Kudus mengatakan kepada saya”. Maka, apa pun yang dikatakan oleh pengkhotbah semua mengaminkannya. Mengapa? Karena setiap yang diucapkannya adalah “nubuatan” tentang sukses. Jika ada teguran, itu pun dalam rangka menggapai sukses tersebut. Di berbagai agama lain terjadi hal yang sama, namun tentu saja dengan “Allah” yang berbeda, sesuai keyakinan mereka. Lalu fenomena mukjizat juga tampil sebagai terobosan kemudahan. Bayangkan jika Anda menderita sakit menahun, lalu mendadak sembuh dalam sekejap, oleh sebuah ucapan dahsyat. Atau, terobosan atas bisnis yang macet. Ringkas cerita, berbagai kemudahan ditawarkan, bukankah itu sangat menyenangkan?
Karena itu tak mengherankan jika pengikut “agama baru” ini semakin hari semakin panjang saja. Pendeta tak perlu lagi belajar teologi, asal fasih lidah cukup sudah untuk menjadi motivator. Jemaat yang telah gelap mata akibat kuatnya tekanan hidup, sudah malas berpikir apalagi harus menyelidiki kebenaran yang sejati. Dan di sisi lain, kebenaran dianggap sebagai sesuatu yang sulit dijalankan di masa kini yang memang semakin abu-abu. Atau pendeta dengan latar belakang perdukunan, atau paranormal, atau yang lebih modern melatih diri dengan kemampuan hipnotis, memakai kemampuannya. Cukup dengan mengganti baju, dengan bersaksi sudah bertobat, maka mukjizat dengan mengatasnamakan Yesus meluncur deras.
Kok bisa, bukankah ini penipuan? Ya, Anda benar, ini penipuan. Hanya saja, mungkin Anda lupa, Yesus sendiri telah mengatakan ada orang yang menjual nama-Nya untuk mukjizat, kesembuhan, bahkan pengusiran setan. Mungkin Anda makin bingung karena setan diusir. Bukankah itu berarti dari Tuhan? Lagi-lagi harus Anda pahami Matius 7: 21-23, bahwa itu bisa terjadi, karena Yesus sendiri yang mengatakannya. Namun, nanti, di hari penghakiman mereka akan ditolak dan dibuang. Anda pasti kecele jika saat itu tiba, karena telah percaya dan mengikut yang salah.
Karena itu, sekarang, selagi di bumi, hati-hatilah terhadap fenomena ini. Bijaklah dan jangan tertipu. Karena yang pasti akan banyak yang tertipu, tapi semoga bukan Anda. Jadi, jangan heran dengan kebangunan dalam berbagai agama yang belum pernah terjadi dalam sejarah, namun awas jangan pula lupa, ini membahayakan. Kebangunan yang palsu, memelintir kebenaran. Tampak menyenangkan dan penuh pembuktian, namun tipuan setan. Kebenaran semakin langka, dan kurang disukai, di dunia yang penuh dosa dan kepalsuan ini. Awas kebangunan agama yang membahayakan. Semoga Anda bijak.

