BAIT ALLAH TANPA ALLAH BAIT

10.13 bs 0 Comments

SEBUAH ironi yang memilukan, Bait Allah kok tanpa kehadiran Allah di dalam bait-Nya. Tapi itulah kenyataan yang diungkapkan Kitab Injil, ketika Yesus Kristus menyucikan bait Allah. Penyucian terhadap bait yang suci. Apa yang salah? Mari menelusuri sejenak perjalanan Bait Allah yang megah itu. Dibangun oleh Salomo pada masa pemerintahanya sekitar tahun 1000 SM. Pembangunan Bait Allah ini memakan waktu 46 tahun (Yohanes 2: 20), dengan biaya yang sangat besar (1 Tawarikh 29). Ide pendirian datang dari Daud (1 Tawarikh 17), namun oleh kehendak Allah, pelaksanaannya oleh Salomo anaknya.

Kesadaran Daud untuk membangun Bait Allah sangat mendalam. Dia merasa gelisah memiliki rumah mewah, sementara Bait Allah masih dalam bentuk kemah. Namun sekalipun demikian, Allah mengingatkan Daud bahwa Dia adalah Allah yang tak membutuhkan gedung. Dia Allah yang melintasi ruang dan waktu. Allah yang besar, yang kehadiran-Nya tak bisa dikurung oleh bangunan manusia yang sebesar atau semegah apa pun. Allah tak berdiam di dalam bait yang megah, melainkan atas kehendak-Nya sendiri. Dia berada di antara orang yang diperkenan oleh-Nya, yaitu mereka yang percaya dengan segenap hati, bukan sekadar beragama.

Semua fakta ini dengan mudah ditemukan dalam Perjanjian Lama (PL), bagaimana Allah menyatakan kebencian-Nya terhadap ibadah Israel yang hanya ucapan bibir saja. Bait Allah, di kemudian hari dirusak kerajaan Babel ketika berhasil menguasai Yehuda (sekitar 500 SM), dan menjadikan penduduk Yehuda sebagai orang buangan di Babel (lihat kisah Daniel dan kawan-kawan). Pada waktu itu Israel telah terpecah menjadi dua kerajaan: di utara, Israel (pemberontakan), di selatan, Yehuda (keturunan Daud). Lalu, sekembali dari pembuangan, dalam tiga era, pimpinan Zerubabel, Ezra dan Nehemia, pembangunan kembali Bait Allah dituntaskan oleh Nehemia.

Pada masa pelayanan Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia, dari garis Yehuda (band. Filipi 2: 5-10, Matius 1), melayani di tengah umat, Bait Allah, terletak di Yerusalem, telah menjadi pusat ibadah. Bait Allah hanya ada satu, sementara yang lain yang ada di setiap kota disebut sinagoga, yang berarti tempat bertemu/berkumpul. Bait Allah sangat krusial dalam kehidupan beragama orang Yahudi. Ada beberapa perayaan penting bagi orang Yahudi yaitu, Paskah, Pentakosta, Pondok Daun, dan lain-lain. Khusus ketika Paskah dan Pentakosta, orang Yahudi perantauan yang biasa disebut Diaspora, pasti mudik dari perantauan, berkunjung ke Yerusalem untuk beribadah di Bait Allah. Begitu juga mereka yang tinggal diluar kota Yerusalem. Hal ini membuat Yerusalem penuh sesak setiap hari raya besar Yahudi, khususnya Bait Allah.

Karena itu tak heran jika banyak pedagang ternak dan penukar uang menggelar bisnis di Bait Allah. Para penukar uang mengincar Yahudi Diaspora dengan rate yang jelas menguntungkan para pedagang. Begitu juga para penjual ternak, menjual di atas harga pasar, tapi dijamin lulus seleksi layak, untuk dijadikan korban bakaran. Dan, yang lebih canggih lagi, para pedagang ini di-back up oleh kekuatan resmi, yaitu para pemimpin agama, para imam di Bait Allah, untuk menjual lebih mahal. Harga mahal dengan legalitas para pemimpin agama membuat umat tak punya pilihan lain, kecuali belanja mahal. Keuntungan yang diraup tak kecil, cukup untuk mempertebal pundi-pundi para imam, yang selalu menghamburkan kata-kata suci Alkitab, dengan mengatakan “Ini kehendak Allah, sudah dikonfirmasi, dan untuk kesucian”. Namun yang pasti ini tumpukan keuntungan. Gila betul!

Ya, dan itulah realita Bait Allah, bait suci dengan sejuta praktek yang tak suci. Muka manis, mulut memuji, tapi, hati menipu, menjadi sebuah perpaduan hebat untuk merusak kebenaran. Ternyata di Bait Allah yang megah itu, di sana tak ada Allah Bait. Bait suci itu ternyata sama sekali tak suci. Allah telah menyatakan sejak awal rencana pendirian Bait Allah, bahwa Dia Allah yang tak tinggal dalam gedung buatan manusia. Dia Allah yang menilik hati, bukan rupa. Para pemimpin agama Yahudi telah mengkudeta Bait Allah. Allah dipinggirkan dan mereka berkuasa. Kok bisa? Bukankah mereka tetap memanggil nama Allah?

Ya, inilah kepalsuan agama. Nama Allah disebut, tapi tidak takluk kepada-Nya. Kehadiran-Nya direkayasa dengan kata-kata yang sangat rohani, tapi kepalsuan merajalela. Yesus Kristus kepala gereja yang sejati, datang, menghardik dan menjungkirbalikkan meja para pedagang. Sebuah tindakan perlawanan dalam rangka penyucian bait suci. Yesus tak segan menjadi musuh bersama para pemimpin agama yang mabuk kaya. Dia menempatkan diri menjadi pemimpin sejati dalam kesendirian-Nya melawan dosa. Dia menghardik dalam amarah yang suci, “Kalian menjadikan rumah Bapa-Ku sebagai sarang penyamun!” Tentu tak ada bajak laut di sana, tapi ada pemimpin agama yang lebih jahat dari para bajak laut. Bajak laut selalu jujur untuk memaki dan hidup dalam pesta pora. Berbeda dengan pemimpin agama, yang selalu berkata suci, “Ini kehendak Allah, bukan kehendak saya, saya hanya hamba”, tapi hidupnya jorok, tak jujur, dan penuh dengan nafsu kekuasaan dan kekayaan.

Bait Allah tanpa Allah Bait, karena noda dosa yang tercecer di tiap sudut bait suci oleh para pemimpin agama. Yesus Kristus melakukan tindakan demonstratif, untuk mengembalikan peran Bait Allah sebagaimana mestinya. Dia ingin meluruskan penyimpangan oleh para pemimpin agama. Namun apa yang terjadi? Para pemimpin agama bukannya kembali ke jalan yang benar, tapi malah merancang perlawanan yang bengis dan sangat mengerikan. Merasa sumber penghasilannya terganggu, keaslian mereka muncul ke permukaan. Rancangan jahat dipersiapkan, mulai dari yang kasar hingga yang paling halus. Memperdaya dan menyuap tampak nyata. Dalam nafsu yang semakin menggila mereka memerangkap Yesus dengan membeli Yudas, si pengkhianat yang juga rakus uang itu. Seluruh tindakan mereka, menjadi buah yang nyata betapa palsunya para pemimpin agama ini. Kehadiran mereka di Bait Allah sungguh telah meniadakan Allah Bait yang memalingkan muka melihat perilaku mereka (band. Yesaya 29:13-24, 59:1-3).

Bait Allah penuh dengan dosa kemunafikan, bait suci tak lagi suci. Bait Allah hanya tinggal gedung saja, tak heran jika Yesus menubuatkan kehancurannya, oleh Kaisar Roma yaitu Titus, yang membuatnya rata dengan tanah di tahun 70 AD (Matius 24:1-2). Ya, Bait Allah telah tanpa Allah Bait, para pemimpin agama telah memalsukannya. Yesus Kristus memberikan peringatan penting, bahwa Dialah Bait Allah yang sejati (Yohanes 2:21), di mana ada Allah Bait itu. Sebuah peringatan penting di masa kini, di mana di banyak gereja Yesus Kristus tak lagi menjadi kepala, dan tak hadir di sana. Karena di banyak gereja, ternyata semangat para imam di waktu lampau tetap hidup dan bersemi. Gereja menjadi milik pribadi, atas nama pendeta. Atau dibuat atas nama gereja, tapi pendiri dan pengurusnya adalah lingkar keluarga atau penjilat yang setia. Manipulasi berkat Allah, dengan mengintimidasi umat agar menyerahkan uang lebih banyak. Menjadi kaya raya dengan dalih “ini bukti diberkati Allah”.

Apakah ada Allah di sana? Yang pasti pohon dikenal dari buahnya, kata Injil (Matius 7: 15-23). Semoga kita bijak dalam percaya kepada Yesus Kristus, kepala gereja, berani benar seperti Dia, tanpa takut terkucil. Menjadi besar itu mudah, menjadi benar itulah gereja. Semoga Anda mampu memaknainya. Kiranya Yesus kepala gereja masih ada di Gereja.q