PERJALANAN KE NERAKA

10.11 bs 0 Comments




BAGI penggemar travelling, sebuah perjalanan tentulah sangat menyenangkan. Apalagi ke lokasi baru yang penuh petualangan. Pengalaman demi pengalaman, terus bermunculan dari sebuah perjalanan ke perjalanan lainnya. Kisah demi kisah pun menjadi semakin panjang dan menyenangkan. Tapi ini, perjalanan ke neraka, siapa yang suka? Namun jangan buru-buru berburuk sangka bahwa kisah ini sensasi belaka. Memang ada banyak orang yang mengaku telah melakukan perjalanan ke neraka. Aneh, tapi itulah pengakuan mereka. Aneh karena Alkitab tak pernah sekalipun memberi ajaran, atau contoh seperti itu.  
Bahkan Yesus sendiri pun, yang Tuhan itu, dikisahkan oleh Petrus pergi ke neraka, namun bukan sebagai sebuah perjalanan tentang pengalaman, melainkan memproklamirkan Injil. Ya, memproklamirkan Injil ke manusia jaman Nuh, yang dulu menolak untuk percaya dan membangun bahtera. Proklamasi ini sekaligus menjadi hukuman bagi mereka yang tidak percaya, dan bahwa Nuh benar dalam percayanya. Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi penghukuman bagi yang menolak, dan keselamatan bagi yang percaya.  Di waktu lampau, terhadap berita para nabi, maupun di masa pelayanan Yesus Kristus, dan juga bagi generasi masa kini.
Itulah yang diceritakan Petrus dalam suratnya (1 Petrus 3: 18–22). Jadi bukan sebuah perjalanan ke neraka (sebuah pengalaman), melainkan memproklamasikan Injil. Bukan sensasi seperti kebanyakan pengakuan saat ini, yang minim atau bahkan tanpa kebenaran ajaran Alkitab. Sementara kisah yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah perjalanan menuju, tapi bukan sudah tiba, lalu berkisah. Adalah pemimpin agama yang terlibat di sini. Yesus bukan saja mengkritik mereka, bahkan dengan sangat tegas dan tuntas pemimpin agama digambarkan sebagai si buta yang tak berdaya (bukan cerita Si Buta dari Gua Hantu yang perkasa itu). Mereka adalah pemimpin buta yang memimpin umat dalam kebutaannya. Sangat mudah diprediksi, ke mana arah dan di mana mereka akan berakhir. Ya, dalam kekacauan perjalanan dan hancur di akhir tujuan. Kehidupan umat Tuhan digambarkan sebagai orang buta yang memimpin orang buta.
Berjalan tanpa arah namun mereka merasa tepat arah. Sebuah gambaran yang pas tentang fenomena kehidupan orang beragama. Pemimpin buta yang tidak melek kebenaran, yang dengan berani menyebut diri suci tanpa dosa. Mereka berani mencerca dan mengutuki orang yang tak sejalan dengan dirinya. Ketika menyebut diri suci, mereka justru mengumbar kata-kata yang tak suci. Sungguh ironi situasi diri mereka, tapi itulah pemimpin buta yang tak mampu melihat diri sendiri. Persembahan bagi mereka menjadi lebih penting daripada kerelaan hati.
Angka selalu menjadi ukuran mereka, dan timbal balik menjadi janji yang dikumandangkan. Semua diintimidasi untuk memberi kepada Tuhan, sekalipun tak jelas ke mana arah persembahan uang mengalir. Yang pasti mereka tambah makmur dan jaya, sementara umat kehilangan kesadaran untuk memberi dengan sukarela. Umat memberi, namun semakin menggila untuk berharap menerima kembali berlipat kali. Mereka semakin buta untuk mengerti arti sukarela. Kerelaan dalam memberi, yang menjadi syarat utama persembahan semakin tersisihkan. Hitung-hitungan semakin akrab, seakan mereka menemukan kebenaran yang tersembunyi.
Sementara para pemimpin membuat semuanya menjadi, dan bertambah gelap, semakin jauh dari terang, sekalipun berbajukan kebenaran. Namun, kepalsuan tetap saja tak tersembunyikan. Kebutaan tambah hari tambah parah dan cenderung tak tersembuhkan. Di situasi seperti ini para pemimpin semakin tenggelam dalam aroma busuk kemunafikan. Menyedihkan dalam perspektif kebenaran Allah, namun bagi mereka yang menjalani tersedia sejuta dalih untuk membenarkan diri. Ironi keagamaan yang dipimpin oleh pemimpin yang berada dalam kebutaan. Inilah perjalanan yang sangat mencekam, bergerak pasti menuju kebinasaan tanpa pernah menyadari bahaya yang mengancam. Neraka semakin nyata di tiap ayunan langkah pemimpin buta. Merasa benar sendiri, suci diri, paling berkarunia, dan serba tahu rencana Allah, membuat mereka semakin gelap mata, buta berat.
Mata hanya mampu melihat angka, keuntungan diri, kekayaan yang terus menumpuk semakin tinggi. Bukan saja gaya hidup, hati pun turut meninggi. Tawa riang diperdengarkan, tapi terdengar mengerikan. Semakin hari mereka semakin suka menyanyikan lagu pujian untuk Allah, namun hanya di mulut saja. Mereka pergi beribadah, namun hanya untuk memastikan berkat Allah tak terlambat tiba. Mereka terus memberi persembahan, namun dalam perhitungan ketat jumlah yang kelak akan diterima. Pemimpin terus membimbing mereka, namun bukan ke arah kehendak Allah melainkan mendaulat Allah. Pemimpin tak mengajar mereka untuk bertanya “Allah mau apa?”, melainkan mereka ditanya “mau apa?” Pemimpin berkata dalam wibawa orang buta, Allah pasti mengabulkan tiap apa yang mereka minta. Tak jelas yang mana ayatnya di Alkitab, tapi sangat jelas ke mana arahnya. Pemimpin terus mengumbar janji yang tak dijanjikan Allah, tapi memang mereka sangat jeli untuk memutarbalikkan kebenaran.
Kini, di sekitar hidup ini, agama terus menunjukkan diri dalam identitas yang semakin sulit dimengerti. Menjauhi kebenaran sejati, dan membangun kebenaran sendiri dengan cara menggagahi kebenaran Alkitab. Semakin hari pemimpin buta semakin berani dan percaya diri memanipulasi. Dia berpikir tak ada yang terjadi, tak ada yang celaka, sekalipun dia sadar banyak berdusta, namun besarnya keuntungan yang didapatkan membuatnya tetap berada di sana. Semakin hari pemimpin buta semakin kehilangan hati nurani, hingga terdengar bunyi lonceng kematian.
Ya, nurani pemimpin buta telah mati, dan, keberanian berbuat dosa semakin menggila. Kenikmatan dosa semakin menguasai dirinya, dan dia merasa tenang ada di sana. Peringatan tak lagi diacuhkannya, bahkan teguran atas dosa dianggapnya sebagai penghinaan yang luar biasa. Pemimpin buta bukannya menyadari diri, sebaliknya dia merancang kejahatan untuk menutupi ketelanjangannya dalam dalih kebenaran dan tuntutan agama.
Yesus Kristus telah menjadi korban si pemimpin buta. Dia yang suci, yang benar, dijadikan pesakitan dan dijatuhi hukuman yang mengerikan. Bukan saja soal matinya, tapi ketidakadilan yang sangat gila. Fakta ini harus terus diingat oleh gereja di sepanjang masa, bahwa kepalsuan, ketidakadilan, kejahatan terhadap kebenaran, akan terus terjadi dalam kehidupan bergereja. Dan ini perlu untuk dipahami, bahwa kemunafikan pemimpin agama akan semakin berkembang dan tampak berhasil dalam nilai kuantitatif.
Awas jangan tertipu, nilai nilai kuantitas sangat mungkin menggelapkan mata. Sementara, nilai nilai kualitas yang dituntut Alkitab, yaitu hidup berbuah akan semakin langka. Bahkan tampak tak populer, tak banyak pengikutnya, dan juga jadi sasaran fitnah, yaitu, tak maju karena tak diberkati. Ah, mungkin dahi Anda berkerut , tapi itulah pesan Alkitab, yang jahat tambah jahat dan sukses besar, namun akhirnya itulah yang menghancurkan mereka (band Mazmur 73). Semoga Anda tak terjebak bujuk rayu pemimpin buta, melainkan tetap setia pada nilai nilai abadi kebenaran sejati. Sehingga langkah Anda jelas menuju surga, bukan ke neraka. Selamat tak buta.q