Miskin Harta, Kaya Cinta Kasih
Pdt. Bigman Sirait
Setiap orang Kristen harus menyadari bahwa sebagai orang percaya dia diberi anugerah oleh Allah untuk ambil bagian menolong banyak orang, bukan mengurung diri di menara gereja untuk memuaskan diri sendiri dan berkisah tentang keberhasilannya tanpa peduli orang lain. Untuk itu Injil harus melebar, menjangkau setiap orang di berbagai sudut. Maka pelayanan itu sangat penting bagi kehidupan gereja, karena gereja yang tidak memiliki misi (misioner) tidak dapat lagi disebut sebagai gereja, karena gereja dipanggil justru untuk melakukan pelayanan di tengah-tengah masyarakat.
Di dalam 2 Kor 8: 1-5 dibeberkan tentang tindakan jemaat Makedonia yang sangat luar biasa. Secara ekonomi mereka mengalami kesulitan dan kepahitan. Orang-orang Makedonia tidak memiliki cukup uang, maka mereka dikatakan sangat miskin. Tetapi di sisi lain mereka sangat kaya, bukan kaya harta tetapi kaya di dalam cinta kasih, kemurahan, kepedulian pada orang lain. Mereka begitu mudah menolong orang lain, sekalipun miskin dalam keuangan. Mereka hanya kaya akan kemurahan. Ada banyak orang kaya di dalam keuangan, tetapi miskin dalam kemurahan. Ada banyak gereja terjebak dalam dilema seperti ini: mampu membangun diri tetapi tidak mampu membagi diri.
Apa yang dilakukan orang Makedonia memang sangat luar biasa. Mereka telah mendahului dan bekerja lebih dari apa yang dikerjakan orang Korintus. Secara finansial kemampuan jemaat Korintus di atas Makedonia, tetapi semangat Makedonia jauh di atas semangat Korintus. Oleh karena itulah apa yang dikerjakan oleh jemaat Makedonia, menjadi pemikiran yang sangat serius bagi kita. Di tengah kondisi yang sulit dan pahit, pencobaan berat dalam berbagai penderitaan, namun sukacita mereka meluap. Meskipun mereka sangat miskin namun kaya dalam kemurahan. Mereka memberi menurut kemampuan, bahkan melampaui kemampuan mereka. Mereka bagai janda miskin dalam kitab Injil, yang memberikan persembahan dari apa yang dia tidak punya. Artinya, ketika dia memberikan apa yang ada padanya maka habislah persediaan. Entah bagaimana dengan hari esok bahkan hari ini, bukan jadi pertanyaan baginya. Tindakan itu membuat Yesus memberikan apresiasi atau penghargaan luar biasa.
Sama seperti jemaat Makedonia, yang ketika memberi persembahan tidak bertanya bagaimana hidup mereka nanti, tetapi apa yang mereka lakukan sekarang. Sebuah pemikiran yang sangat jenius di dalam kekristenan. Bagi saya, kejeniusan itu bukan karena bisa menemukan teori fisika. Jenius bisa juga bagaimana Anda bisa menangkap betul-betul pimpinan Allah dan bertindak secara luar biasa. Karena banyak orang Kristen yang jadi bodoh di hadapan Tuhan, selalu mengeluh, selalu merasa kurang ini dan itu, seakan Tuhan tidak hidup, tidak mampu menolong dia.
Tetapi orang-orang di Makedonia saya katakan jenius karena mereka tahu bahwa Allah yang hidup itu yang sudah menebus mereka, maka urusan kecil bagi Dia untuk memampukan, mencukupkan kebutuhan mereka. Karena itu Paulus juga melukiskan bagaimana orang-orang Makedonia mampu menangkap bahwa Kristus Yesus ialah Allah yang mahakaya yang mau hidup miskin, supaya di dalam kemiskinan-Nya kita menjadi kaya. Itu bukan membicarakan bahwa Allah menjadi miskin, dan di dalam kemiskinannya itu kita menjadi kaya—kaya uang, tapi kaya cinta kasih.
