Natal di Antara Kehancuran dan Pengharapan
Pdt.Bigman Sirait
Memahami makna Natal bukan hal sederhana. Tetapi fenomena Natal, itulah yang hidup sekarang. Apa beda makna dengan fenomena? Istilah makna adalah memahami kedalaman daripada Natal, memahami pesan yang ingin Tuhan sampaikan. Sementara fenomena adalah sebuah gejala yang ditangkap oleh indra manusia lalu dijadikan semacam satu ukuran.
Fenomena menyebabkan seluruh atribut Natal mewarnai dan menguasai, bahkan menenggelamkan makna Natal, sehingga boleh dikatakan, gereja kehilangan arah itu. Gereja mengidentikkan Natal dengan damai, artinya tidak ada perang, tidak ada kesulitan, tidak ada pertikaian. Gereja mengidentikkan Natal dengan sukacita, artinya bahwa apa yang kita mau, ada. Gereja mengidentikkan Natal dengan kebahagiaan, artinya seluruhnya menjadi lain dari hari yang lain. Semua kesalahpahaman ini sudah berlanjut, sehingga Natal lebih banyak menjadi penantian para bisnismen, industri-industri, daripada penantian akan Tuhan. Gereja pun terjerumus ke dalam perkara yang lebih menakutkan lagi. Natal identik dengan semacam showbiz.
Sekarang Natal dipergelarkan dalam bentuk wah. Itu tidak salah, yang menjadi salah jika hal itu diwujudkan dengan biaya yang luar biasa. Pada saat bersamaan, berapa banyak orang menanti maut karena kelaparan? Berapa banyak orang meratap dan merintih? Damai hanya ada di dalam gedung gereja. Pengharapan hanya ada di dalam khotbah, bukan dalam kenyataan. Bukankah itu suatu kegentingan di mana orang Kristen perlu merenung ulang, apa itu Natal?
Coba kita renungkan. Apakah kita harus kasihan kepada orang-orang yang tidak bisa merayakan Natal seperti kita karena mengalami banyak kendala? Mungkin perayaan Natal kita akan membawa kita ke neraka, tetapi mungkin Natal yang dirayakan dalam keprihatinan akan membawa mereka ke sorga. Natal yang serba kecukupan dan luar biasa mungkin membuat kita lupa sungguh-sungguh berdoa. Tetapi Natal penuh tangisan dan airmata, doa yang dinaikkan bisa menjadi gegap gempita di dalam sorga.
Bagaimana dengan Natal pertama? Natal yang sangat simbolik dengan kehancuran, Di sana muncul tokoh bernama Herodes. Dia memerintahkan sesuatu yang sangat menakutkan dan mengerikan dan tidak pernah terbayangkan, dan menjadi satu noda yang menyakitkan bagi Betlehem: membunuh anak-anak di bawah usia dua tahun!
Kehancuran di Natal pertama itu apa? Yang pertama adalah banjir darah, kematian anak-anak di bawah usia 2 tahun. Mereka harus mengalami pembunuhan, mati demi ambisi Herodes yang tidak ingin ada saingan. Menakutkan dan mengerikan. Natal pertama harus dibayar dengan darah.
Bagaimana jika sekarang ada bom? Marilah berdoa, kalaupun bom itu meledak semoga kita masuk sorga. Kenapa mesti pusing? Kita toh tidak bisa melarang, kita tidak bisa marah. Orang mau marah silakan, itu urusan mereka. Tetapi bagaimana menyatakan cinta kasih, itu tanggung jawab kita. Itu sebab bagi saya tidak terlalu masalah ketika menyikapi apa yang sedang terjadi. Bagi saya, tidak terlalu penting apa yang sedang terjadi di dunia, tetapi bagaimana kita berjalan dan bekerja melakukan apa yang Tuhan mau.

