DERMAWAN MAKAN KORBAN
Ada-ada saja peristiwa di negeri kita ini, tapi yang pasti, mirip dengan panggung politik yang mementaskan pertunjukan murahan. Di panggung politik, presiden menjadi perhatian bukan karena sejuta prestasi, melainkan karena blue energy, yang menyisakan blue scandal. Betapa tidak, di saat negeri ini krisis energi ternyata ada energi alternatif, yang bukan saja bersih limbah tapi juga mudah bahan bakunya. Air, ya sekali lagi air, mengambil posisi untuk menggantikan kedudukan minyak yang semakin mahal dan telah sukses mempersulit rakyat.
Sebuah terobosan besar yang membuktikan betapa hebatnya anak negeri dalam mencipta peluang. Namun, jangankan energi murah, yang ada justru pertikaian murahan, yang membuktikan, betapa kreatifnya kita berbuat salah. Kalau begini, siapa yang salah? Gampang saja, siapa yang mudah disalahkan? Si penemu, yang diceritakan menghilang pada waktu dibutuhkan, namun muncul kembali dengan kisah yang berbeda. Bukan soal tak mampu tangkisnya, tapi soal paten saya gugatnya.
Nah, sekali lagi siapa yang salah. Yang pasti, presiden punya banyak staf ahli, ahli seleksi, tapi rupa-rupanya juga ahli mencipta berita sensasi. Belum selesai dengan blue energy, menyusul kisah supertoy. Yang ini adalah kisah tentang benih padi unggulan, yang digembar-gemborkan mampu berbuah berlipat kali ganda, dan bisa dipanen hingga tiga kali. Wow, masa depan cerah, setelah sekian lama harus makan beras impor, kini kita bisa swasembada, bahkan akan berlebih, alias ekspor. Ini juga berarti kabar baik bagi rakyat kecil yang selama ini makan raskin, alias beras miskin. Tiba saatnya rakyat mengonsumsi “rasbat”, alias beras bermartabat. Tapi, apa hendak dikata, cepat datangnya berita, cepat pula berlalunya. Seperti angin yang menyambar dan terasa menyapu wajah, namun kemudian segera sirna entah ke mana. Lagi-lagi, Presiden dilibatkan di sana.
RI 1, adalah pejabat tertinggi di republik ini, harus dua kali salah dalam tenggang waktu yang sangat dekat. Semua menteri, dan instansi terkait angkat bicara, dan menjelaskan duduk perkaranya. Herannya, semakin dijelaskan, justru semakin tak jelas aturan main yang sesungguhnya, dan argumentasi yang diberikan menjadi bias. Ini bisa dimengerti, karena sesungguhnya yang diperlukan adalah pengakuan jujur, bahwa staf ahli salah, kurang akurat dengan data yang ada. Menteri salah, karena tak terlibat sepenuhnya, namun berani dan mau menjelaskan yang salah agar tampak benar dan masuk akal. Sementara Presiden salah, karena terlalu mudah mengiyakan hal yang sesungguhnya tak sederhana, yaitu sebuah terobosan yang menyangkut masa depan bangsa. Bukankah isu-isu seperti ini seharusnya diteliti seakurat mungkin, dan diuji keabsahan teori dan prakteknya?
Jika, para pemimpin mudah berbuat salah, sungguh tak terbayangkan dengan generasi muda kita. Pantas jika mereka suka tawuran untuk membenarkan tindakannya yang salah. Karena hanya dengan tawuran mereka terlihat berani, sekaligus menutupi kesalahnya dengan mengalihkan persoalan yang sesungguhnya. Ini namanya kreatif meniru yang salah, tapi selalu susah lulus untuk hal yang benar. Lalu di panggung sosial, masih hangat kisah tentang melayangnya 21 nyawa di Pasuruan, Jawa Timur demi uang Rp 30 ribu. Sangat murah, semurah para pemimpin mengucapkan janji, tanpa peduli konsekuensinya, apalagi harus menepatinya.
Adalah sebuah keluarga dengan niat baik ingin berbagai, namun kurang baik dalam melaksanakan niat baiknya. Dan, tambah tidak baik lagi, karena niatan ingin berbagi, bukannya dengan datang mengunjungi yang susah, malah meminta mereka mengantri. Maka yang sudah susah hidup, semakin susah lagi karena harus mengantri tanpa terkendali. Banyaknya orang yang datang untuk uang yang tidak seberapa, dengan segera menunjukkan betapa susahnya rakyat. Rakyat hanya tak miskin di dalam pidato pejabat negara yang memang terkenal mudah mengumbar kata. Antrian yang tak terkendali dengan segera mengubah suasana, dari maksud mendapatkan rupiah menjadi kehilangan nyawa. Sang dermawan gelagapan, tak mampu mengendalikan massa yang memang sangat membutuhkan uang, dan juga terbiasa mengantri berdesakan demi uang.
Lihat saja pembagian uang bantuan langsung tunai (BLT), telah sukses melatih mereka menjadi penerima tanpa kerja, cukup dengan mengantri saja. Mental sudah semakin terbentuk, karena itu, apa pun yang namanya pembagian pasti akan mendapat serbuan, apalagi uang tunai. Hitung-hitung ini bonus tambahan mengantri dan menerima tanpa harus kerja. Sayangnya dalam kisah sang dermawan, dia tak memiliki cukup orang untuk mengatur masa yang banyak, sekalipun cukup nyali untuk mengumpulkannya. Belum pembagian selesai, korban mulai berjatuhan, dari pingsan karena kurang udara, keletihan, hingga kehilangan nyawa. Tragis, karena korban bukannya satu orang melainkan puluhan. Sungguh tak sebanding dengan apa yang mereka perjuangkan.
Dengan segera seluruh media elektronik, cetak, melahap berita ini dari berbagai sudut untuk disuguhkan kepada orang banyak. Pendapat para ahli dikumpulkan, mulai dari sosiolog, psikolog, hingga teolog. Semua sumbang pendapat. Dan, seperti biasanya, para pejabat tinggi negara segera membuat temu pers. Bagaikan ahli mereka mengurai segala sesuatunya, termasuk pengalaman mereka, yang diklaim sejak dulu kala. Sayangnya mereka sama sekali tak ahli untuk menolong dan mendidik rakyat, agar tak terbiasa dengan budaya meminta dengan mengantri di situasi yang bisa membahayakan diri. Yang ada, mereka malah terlatih oleh keputusan para pejabat untuk mengantri.
Para pemimpin memang suka bicara banyak, namun kurang berbuat banyak. Terlalu banyak mengomentari apa saja, seakan berlomba dan takut tertinggal tak memberi komentar. Memberikan pengarahan dan wejangan setelah peristiwa, padahal, seharusnya sebelumnya, sebagai antisipasi. Dermawan itu memang telah mengakibatkan korban yang tak diinginkannya. Semoga tiap orang belajar, jika ingin berbagi tak perlu demonstrasi. Biarlah tangan kananmu memberi, tanpa harus diketahui oleh tangan kirimu, demikian ajaran Kitab Injil. Sementara para pemimpin, juga ternyata tak kurang yang pamer, merogoh uang pribadi. “Untuk dibagikan kepada rakyat kecil,” kata mereka. Padahal rakyat menjadi kecil karena mereka gagal membesarkannya, atau malah mereka yang membuatnya. Di sisi lain, uang yang dibagi sebagai uang pribadi tak jelas asal- usulnya, tapi semoga bukan hasil korupsi, sekalipun sangat mungkin, dan bahkan sangat dekat dengan aroma itu.
Para pemimpin tak perlu repot diri berderma uang pribadi, karena bukan itu yang diingini rakyat. Cukup dengan menjadi pemimpin yang seharusnya, maka para pemimpin dapat memperbaiki tingkat kehidupan rakyat. Berilah diri Anda, bukan uang Anda. Berilah waktu Anda, bukan surat perintah. Dan berilah karya Anda, bukan janji-janji.
Promosi diri bagi pemimpin sejati adalah aib terbesar, karena pemimpin sejati dikenal karena prestasinya yang teruji, dan perilaku yang terpuji. Jika banyak pemimpin di negeri ini yang rajin mempromosikan diri, itu tak lebih karena mereka memang bukan pemimpin sejati. Semoga Anda dapat mengenalinya, dan berkesempatan mempermalukannya lewat prestasi Anda, agar menjadi pelajaran demi kebaikan. Pemimpin bukan dermawan yang suka berbagi, karena dia memang bukan pengusaha atau orang kaya, melainkan pemimpin yang ada di depan, dan selalu siap memimpin dengan sejuta risiko, demi rakyat yang dicintainya. Semoga pemimpin menolong korban, bukan memakan korban.
Sebuah terobosan besar yang membuktikan betapa hebatnya anak negeri dalam mencipta peluang. Namun, jangankan energi murah, yang ada justru pertikaian murahan, yang membuktikan, betapa kreatifnya kita berbuat salah. Kalau begini, siapa yang salah? Gampang saja, siapa yang mudah disalahkan? Si penemu, yang diceritakan menghilang pada waktu dibutuhkan, namun muncul kembali dengan kisah yang berbeda. Bukan soal tak mampu tangkisnya, tapi soal paten saya gugatnya.
Nah, sekali lagi siapa yang salah. Yang pasti, presiden punya banyak staf ahli, ahli seleksi, tapi rupa-rupanya juga ahli mencipta berita sensasi. Belum selesai dengan blue energy, menyusul kisah supertoy. Yang ini adalah kisah tentang benih padi unggulan, yang digembar-gemborkan mampu berbuah berlipat kali ganda, dan bisa dipanen hingga tiga kali. Wow, masa depan cerah, setelah sekian lama harus makan beras impor, kini kita bisa swasembada, bahkan akan berlebih, alias ekspor. Ini juga berarti kabar baik bagi rakyat kecil yang selama ini makan raskin, alias beras miskin. Tiba saatnya rakyat mengonsumsi “rasbat”, alias beras bermartabat. Tapi, apa hendak dikata, cepat datangnya berita, cepat pula berlalunya. Seperti angin yang menyambar dan terasa menyapu wajah, namun kemudian segera sirna entah ke mana. Lagi-lagi, Presiden dilibatkan di sana.
RI 1, adalah pejabat tertinggi di republik ini, harus dua kali salah dalam tenggang waktu yang sangat dekat. Semua menteri, dan instansi terkait angkat bicara, dan menjelaskan duduk perkaranya. Herannya, semakin dijelaskan, justru semakin tak jelas aturan main yang sesungguhnya, dan argumentasi yang diberikan menjadi bias. Ini bisa dimengerti, karena sesungguhnya yang diperlukan adalah pengakuan jujur, bahwa staf ahli salah, kurang akurat dengan data yang ada. Menteri salah, karena tak terlibat sepenuhnya, namun berani dan mau menjelaskan yang salah agar tampak benar dan masuk akal. Sementara Presiden salah, karena terlalu mudah mengiyakan hal yang sesungguhnya tak sederhana, yaitu sebuah terobosan yang menyangkut masa depan bangsa. Bukankah isu-isu seperti ini seharusnya diteliti seakurat mungkin, dan diuji keabsahan teori dan prakteknya?
Jika, para pemimpin mudah berbuat salah, sungguh tak terbayangkan dengan generasi muda kita. Pantas jika mereka suka tawuran untuk membenarkan tindakannya yang salah. Karena hanya dengan tawuran mereka terlihat berani, sekaligus menutupi kesalahnya dengan mengalihkan persoalan yang sesungguhnya. Ini namanya kreatif meniru yang salah, tapi selalu susah lulus untuk hal yang benar. Lalu di panggung sosial, masih hangat kisah tentang melayangnya 21 nyawa di Pasuruan, Jawa Timur demi uang Rp 30 ribu. Sangat murah, semurah para pemimpin mengucapkan janji, tanpa peduli konsekuensinya, apalagi harus menepatinya.
Adalah sebuah keluarga dengan niat baik ingin berbagai, namun kurang baik dalam melaksanakan niat baiknya. Dan, tambah tidak baik lagi, karena niatan ingin berbagi, bukannya dengan datang mengunjungi yang susah, malah meminta mereka mengantri. Maka yang sudah susah hidup, semakin susah lagi karena harus mengantri tanpa terkendali. Banyaknya orang yang datang untuk uang yang tidak seberapa, dengan segera menunjukkan betapa susahnya rakyat. Rakyat hanya tak miskin di dalam pidato pejabat negara yang memang terkenal mudah mengumbar kata. Antrian yang tak terkendali dengan segera mengubah suasana, dari maksud mendapatkan rupiah menjadi kehilangan nyawa. Sang dermawan gelagapan, tak mampu mengendalikan massa yang memang sangat membutuhkan uang, dan juga terbiasa mengantri berdesakan demi uang.
Lihat saja pembagian uang bantuan langsung tunai (BLT), telah sukses melatih mereka menjadi penerima tanpa kerja, cukup dengan mengantri saja. Mental sudah semakin terbentuk, karena itu, apa pun yang namanya pembagian pasti akan mendapat serbuan, apalagi uang tunai. Hitung-hitung ini bonus tambahan mengantri dan menerima tanpa harus kerja. Sayangnya dalam kisah sang dermawan, dia tak memiliki cukup orang untuk mengatur masa yang banyak, sekalipun cukup nyali untuk mengumpulkannya. Belum pembagian selesai, korban mulai berjatuhan, dari pingsan karena kurang udara, keletihan, hingga kehilangan nyawa. Tragis, karena korban bukannya satu orang melainkan puluhan. Sungguh tak sebanding dengan apa yang mereka perjuangkan.
Dengan segera seluruh media elektronik, cetak, melahap berita ini dari berbagai sudut untuk disuguhkan kepada orang banyak. Pendapat para ahli dikumpulkan, mulai dari sosiolog, psikolog, hingga teolog. Semua sumbang pendapat. Dan, seperti biasanya, para pejabat tinggi negara segera membuat temu pers. Bagaikan ahli mereka mengurai segala sesuatunya, termasuk pengalaman mereka, yang diklaim sejak dulu kala. Sayangnya mereka sama sekali tak ahli untuk menolong dan mendidik rakyat, agar tak terbiasa dengan budaya meminta dengan mengantri di situasi yang bisa membahayakan diri. Yang ada, mereka malah terlatih oleh keputusan para pejabat untuk mengantri.
Para pemimpin memang suka bicara banyak, namun kurang berbuat banyak. Terlalu banyak mengomentari apa saja, seakan berlomba dan takut tertinggal tak memberi komentar. Memberikan pengarahan dan wejangan setelah peristiwa, padahal, seharusnya sebelumnya, sebagai antisipasi. Dermawan itu memang telah mengakibatkan korban yang tak diinginkannya. Semoga tiap orang belajar, jika ingin berbagi tak perlu demonstrasi. Biarlah tangan kananmu memberi, tanpa harus diketahui oleh tangan kirimu, demikian ajaran Kitab Injil. Sementara para pemimpin, juga ternyata tak kurang yang pamer, merogoh uang pribadi. “Untuk dibagikan kepada rakyat kecil,” kata mereka. Padahal rakyat menjadi kecil karena mereka gagal membesarkannya, atau malah mereka yang membuatnya. Di sisi lain, uang yang dibagi sebagai uang pribadi tak jelas asal- usulnya, tapi semoga bukan hasil korupsi, sekalipun sangat mungkin, dan bahkan sangat dekat dengan aroma itu.
Para pemimpin tak perlu repot diri berderma uang pribadi, karena bukan itu yang diingini rakyat. Cukup dengan menjadi pemimpin yang seharusnya, maka para pemimpin dapat memperbaiki tingkat kehidupan rakyat. Berilah diri Anda, bukan uang Anda. Berilah waktu Anda, bukan surat perintah. Dan berilah karya Anda, bukan janji-janji.
Promosi diri bagi pemimpin sejati adalah aib terbesar, karena pemimpin sejati dikenal karena prestasinya yang teruji, dan perilaku yang terpuji. Jika banyak pemimpin di negeri ini yang rajin mempromosikan diri, itu tak lebih karena mereka memang bukan pemimpin sejati. Semoga Anda dapat mengenalinya, dan berkesempatan mempermalukannya lewat prestasi Anda, agar menjadi pelajaran demi kebaikan. Pemimpin bukan dermawan yang suka berbagi, karena dia memang bukan pengusaha atau orang kaya, melainkan pemimpin yang ada di depan, dan selalu siap memimpin dengan sejuta risiko, demi rakyat yang dicintainya. Semoga pemimpin menolong korban, bukan memakan korban.

