PANTANG MUNDUR, MENENDANG TERATUR
Fenomena kepemimpinan selalu menyisakan ruang debat yang menggelisahkan. Setiap orang selalu amat sangat yakin, bahwa dia adalah orang yang terbaik, namun tak pernah mau mendengar baik-baik, apa pendapat orang lain. Berbeda, selalu dianggap malapetaka, sama itu adalah mimpinya. Akibatnya, menekan, memaksa, bahkan memberi stempel jahat, atau jika perlu musuh negara, menjadi warna yang dianggap biasa. Inilah mental feodal yang merasuk kebanyakan para pemimpin, yang berlaku bagai penjajah dan penguasa terhadap sesama bangsanya. Apa yang mereka cari dalam hidupnya, tak lebih dari tumpukan materi yang tak boleh kelas teri. Pemimpin seperti ini menjadi momok bagi masa depan bangsa, tapi ironisnya, mereka selalu panjang masa edarnya.
Dengarlah, apa kata mereka soal pantang mundur. “Pantang mundur adalah falsafah nenek moyang kita, mereka terus berjuang mengusir penjajah, bahkan dengan mempertaruhkan nyawa. Saya tidak akan mundur hanya karena tekanan,” teriak mereka bagai pahlawan. Celakanya, mereka ada di situasi yang sangat berbeda dengan nenek moyang kita, yang memang terkenal gagah berani, dan berjuang tanpa pamrih. Para pemimpin ini tak sedang memperjuangkan kepentingan bangsa. Yang ada, mereka sedang mempertahankan posisi agar tak lengser dari kursi kekuasaan. Mereka telah mencederai hakekat seorang pemimpin yang seharusnya mengayomi, menjadi menggerogoti. Melukai hati rakyat yang telah memberikan mandat untuk menciptakan keadilan dan kemakmuran dalam kebersamaan. Apa yang mereka lakukan? Alih-alih adil dan makmur, yang muncul justru kepincangan hukum, dan kemiskinan yang semakin merata. Tiap ucapan tak lebih dari basa-basi. Mengapa? Karena jika memang ingin mewujudkan, tak ada penghalang yang menghadang. Lakukan, bukan hanya katakan.
Nah, “pantang mundur” menjadi slogan recehan, dan dijadikan tempat persembunyian, untuk mempertahankan kekuasaan, bukan memberi kebebasan. Mereka pantang mundur dari kursi sekalipun terbukti korupsi. Pembelaan dirinya cenderung memalukan, tapi sayang, mereka memang sudah kehabisan rasa malu. Maju terus, pantang mundur, maka apapun direkayasa agar tetap berkuasa. Sebuah situasi yang sangat memprihatinkan, dan inilah yang sedang terjadi di sekitar kita. Degradasi moral telah meluncur tajam menuju titik nadir yang mematikan. Ya, mematikan hati nurani. Bagaimana tidak! Yang mampu bertahan sekalipun dilumuri jutaan kesalahan dan kepalsuaan, tetap saja dianggap pemenang, bahkan dirayakan, paling tidak oleh kelompoknya. Pantang mundur, di sanalah mereka menjungkirbalikkan fakta, dan terus menodai kebenaran. Situasi yang terus terulang terjadi telah mencipta rasa apatis yang tinggi pada rakyat di seluruh pelosok negeri.
Kini terlalu sulit mencari pemimpin yang bisa dipercaya. Jika ada, itu adalah yang terbaik di antara calon-calon yang kurang baik, yang memang rata-rata kualitasnya patut diragukan. Ada yang kaya dengan slogan, tapi miskin dalam pembuktian karya. Yang lain sangat tinggi senioritasnya, tapi sangat rendah track record-nya. Perpaduan yang memadai, antara kemampuan memimpin dengan perilaku terpuji dan teruji sangat langka. Di sisi lain, menendang teratur menjadi senjata andalan untuk mengamankan posisi. Berbagai tudingan dengan mudah dilemparkan untuk memberangus mereka yang berbeda pendapat, apalagi bersifat kritis dan mengkritik secara terbuka. Mencari celah, merekayasanya menjadi kesalahan, dan kemudian menjadikannya tuduhan, sudah merupakan keahlian mereka. Untuk menendang teratur, mereka punya sejuta jurus, sekalipun untuk berlaku benar mereka sangat kabur. Kemampuan bertahan yang ada pada pemimpin pantang mundur, menendang teratur, adalah memberangus dengan menyelewengkan kekuasaan yang ada. Mereka melecehkan kedaulatan rakyat yang memilihnya, dan memberikan mandat pada mereka.
Apakah hiruk-pikuk seperti ini hanya ada di dunia politik? Ternyata tidak! Apakah akhir-akhir ini saja? Ternyata juga tidak! Nun jauh di sana, di bentang waktu ribuan tahun lampau, para pemimpin agama Yahudi ternyata berperilaku sama. Mereka merekayasa berbagai cara untuk membungkam Yesus Kristus, yang terus-menerus, secara konsisten, menyuarakan kebenaran yang tidak mengenal kompromi. Telinga para pemimpin agama, bukan saja menjadi merah, bahkan “kehitam-hitaman”. Tumpukan amarah, karena merasa ditelanjangi kebusukannya yang memang sangat busuk, membuat mereka hanya berpikir tentang satu perkara: Bunuh Dia! Sadis, mencengangkan, karena pemimpin agama yang sehari-harinya berbicara kebenaran ternyata penuh kepalsuan. Mereka selalu berbicara tentang cinta kasih dan kepeduliaan, ternyata penuh kebencian dan sangat cinta diri. Maka, dirancanglah sebuah tuduhan yang penuh intrik. Saksi dusta dipersiapkan, sekalipun sangat berlawanan dengan sepuluh hukum, yang mengatur agar jangan mengucapkan saksi dusta. Tapi si pengajar dan pengawas hukum, telah menjadi pelaku pelanggar hukum, bahkan pencipta sumber masalah. Mereka merekrut saksi dusta dengan iming-iming suap, lagi-lagi pelanggaran. Pengadilan dimulai, pentas kemunafikan dipertontonkan.
Yesus Kristus yang benar diserang, dizalimi, dan difitnah, tanpa ada ruang pembelaan apalagi pembuktian kesalahan. Hukuman dijatuhkan, tak tangung-tanggung, para pemimpin agama mematok kematian. Ya, Yesus Kristus dihukum mati, disalibkan. Untuk itu para pemimpin agama Yahudi melibatkan dan mendesak gubernur Roma, yaitu Pilatus untuk mengambil keputusan yang berbeda dengan keyakinannya. Menurut hemat Pilatus si Roma, Yesus Kristus tak terbukti bersalah, tapi kekalapan pemimpin agama yang Yahudi, yang sejatinya tak bersahabat dengan gubernur Roma, membuat putusan yang tak berdasar dijatuhkan. Semua mereka, pemimpin agama, Pilatus, sama-sama bernyali pantang mundur, maka mereka dengan segera menendang teratur dalam situasinya masing-masing.
Bagaimana dengan pemimpin agama di masa kini? Ternyata cerita terus berulang. Pemimpin menipu jemaat, pemimpin menjual aset gereja, pemimpin yang memelintir ayat-ayat suci demi kepentingan diri, terus datang silih berganti. Semua pantang mundur, sekalipun aroma busuk mereka sudah terendus. Berbagai rekayasa disiapkan, agar mereka tak tersingkirkan. Fitnah ditebar, atas nama hamba Tuhan, yang memang seringkali ampuh. Maklum, pemimpin seribu tipu memang banyak yang meluncur aman, karena kebanyakan umat setali tiga uang dengannya. Barter kepentingan menjadi negosiasi, kontrak tak tertulis berjalan mulus. Yang benar, lagi-lagi tersingkir, menjadi terdakwa lewat pengadilan yang tak adil. Penggerakan massa pun bisa dilakukan, karena banyaknya orang frustasi yang tak jelas karya. Mereka semangat, karena bisa melampiaskan emosi dengan berjubahkan kebenaran. Belum lagi yang berkolusi dalam rupiah yang memang selalu mengikat. Atas nama memuliakan Tuhan, peredaran uang bisa deras memenuhi pundit-pundi. Maka jangan heran, jika pemimpin pantang mundur, menendang teratur, selalu ada dan tak akan pernah habis, karena sangat diminati di jaman penuh kemunafikan ini.
Awas, jangan terjebak di sana, atau Anda menjadi putus asa karenanya. Dunia memang sedang menuju ujungnya, semoga Anda dan saya bisa menjadi pemimpin alternatif, karena mutu. Bukan karena sekadar kekecewaan masyarakat yang kemudian memilih dalam kebingungan. Selamat tidak menjadi, pemimpin pantang mundur, menendang teratur. Semoga gereja tetap gereja, dan pemimpinnya menjadi model yang benar dan baik, tak gila popularitas, harta, takhta dan wanita.

