Hidup Baru, Merdeka dalam Tuhan

22.38 bs 0 Comments

Pdt. Bigman Sirait

HIDUP baru adalah sebuah akibat dari kelahiran baru yang dikerjakan oleh Roh Kudus, dan memberi sebuah status baru kepada manusia. Sesudah manusia dilahirkan baru, maka dia mendapat suatu hidup yang baru, bukan lagi hidup yang lama. Namun hidup yang baru ini harus dipahami pada areal kerohanian kualitatif—bukan kuantitatif. Artinya, hidup baru bukan suatu perubahan fisik atau psikis: orang yang tadi jelek menjadi cantik, atau orang yang temperamental menjadi sanguistik atau melankolik. Perubahan karena hidup baru adalah memiliki arah hidup sesuai yang dikehendaki Allah. Kini orientasinya kepada Tuhan, bukan kepada diri. Hidup yang lama sudah mati, kebangkitan Kristus menghidupkan dia, sehingga oleh kuasa Roh Kudus dia mempunyai suatu kelahiran yang baru. Hidupnya berpusat kepada kehendak Allah.

Efesus 4: 17-20 mengatakan, “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka…….”

Hidup yang baru adalah anu-gerah yang sangat luar biasa yang diberi kepada manusia. Hidup yang baru adalah hidup yang berpindah dari lama ke baru. Orang yang lahir baru akan memperlihatkan kualitas hidup yang jauh berbeda dibanding yang dulu. Hidup lama yang berorientasi kepada diri, menjadi hidup baru yang berorientasi ke-pada Allah. Hidup lama yang digambarkan Alkitab sebagai suatu kehidupan yang tidak mengenal Allah, adalah hidup dengan pikiran yang sia-sia. Hidup dalam pengertian yang gelap, jauh dari perse-kutuan dengan Allah, karena kebodohan, dan karena kedegilan hati mereka. Mereka bodoh.

Orang yang sudah mempunyai kehidupan baru, sudah dilahirkan baru, bukan lagi orang bodoh. Namun penger-tian bodoh di sini juga jangan disalah mengerti. Bodoh di sini adalah bodoh secara rohani, bukan matematis. Ini bukan me-nyangkut IQ jongkok atau tidak. Orang yang sangat pintar, ahli matematika, jago fisika, intelek-tual, bisa menjadi orang yang paling bodoh dalam hal pengenalan akan Allah, karena dia akan berkata, “Tidak ada Allah”. Dia menjadi ateis.

Tetapi ketika orang dilahirkan baru, dia punya kemampuan berpikir yang hebat, karena mampu menangkap dan mengerti siapa Allah, dan apa yang menjadi kehendak-Nya. Ini suatu kemampuan berpikir yang sudah diperbaharui Roh Allah dan diberi kemampuan dan kekuatan oleh Roh Allah sehingga dia tidak lagi menjadi bodoh untuk mengenal siapa Allah. Sekarang dia tahu siapa Allah itu. Orang yang hidup dalam status baru, melihat ke belakang adalah melihat kebencian dan kegelapan. Maka ia selalu berpacu ke depan untuk menjangkau pengharapan yang Tuhan sediakan, dan dia selalu berjalan dalam iman.