Dosa Telah Menjadi Tuan atas Manusia
Pdt. Bigman Sirait
Kondisi manusia berdosa adalah kondisi yang terpisah dari Allah. Kondisi yang terpisah dari Allah membuat manusia hidup hanya oleh dan untuk dirinya. Sehingga ketika manusia itu diukur dari ukuran-ukuran Allah, maka tidak ada yang benar, tidak ada yang baik. Itu sebab dalam Alkitab secara konsisten dikatakan Allah-lah yang mencari kita. Kristus-lah yang datang ke dunia meninggalkan surga, bukan kita yang meninggalkan bumi datang ke surga. Bukan kita mencari Allah, tetapi Allah mencari kita. Jadi dalam hal ini kita melihat manusia berdosa tidak lagi memiliki modal apa pun dalam hidupnya, untuk mencari Allah. Dia tidak lagi memunyai bekal apa pun untuk tampil menjadi orang yang menyenangkan Allah, karena seorang pun tidak ada yang benar. Oleh karena itu semua Kristen harus menyadari bahwa dirinya adalah orang berdosa yang tanpa pengharapan, namun kemu-dian ditolong oleh kasih dan karunia Allah. Bagaimana keadaan manusia berdosa? Manusia berdosa secara positif tidak lagi mampu berbuat baik. Ketika manusia berkata bahwa dia mampu berbuat baik, itu berdasarkan ukurannya. Contoh, jika di tengah malam yang gelap gulita dinyalakan sebuah lilin, maka akan muncul terang. Lalu kita simpul-kan bahwa lilin yang menyala itu memberi terang. Tetapi jika kita menyalakan lilin di bawah terik matahari apakah lilin menambah terang? Tidak! Lilin itu menyala tetapi tidak menambah terang. Api lilin itu memang panas, tetapi soal terang dia tidak berperan sama sekali. Dia ditimpa oleh besarnya terang matahari. Kalau begitu, lilin itu sebenarnya memberi terang atau tidak? Jawabnya, “ya” kalau gelap gulita, tetapi “tidak” kalau terang.
Begitulah kita dengan Tuhan. Kita merasa baik, tetapi “tidak” kalau dilihat dari kebaikan Tuhan. Kita merasa benar, namun “tidak” jika dilihat dari kebenaran Tuhan. Kita cuma baik dan benar di dalam kegelapan hidup dunia, di dalam keberdosaan manusia. Dalam pergaulan masyarakat kita punya nilai-nilai, tetapi seluruh yang kita kerjakan, seluruh yang kita punya, jika diukur berdasarkan ukuran Allah, itu jauh dari apa yang Allah tetapkan sebagai standar benar dan baik.

