Kebenaran Tak Memerlukan Pengakuan

22.45 bs 0 Comments

Pdt. Bigman Sirait

Pada tahap pra-modern, mistik sangat berkembang sehingga semua orang cenderung bertuhan. Hal itu antara lain karena realita kehidupan pada waktu itu semua orang sangat bergantung pada alam semesta. Dengan sendirinya pula, kondisi keberagamaan yang sangat kuat pengaruhnya, mendominasi kehidupan banyak manusia. Kemudian pada gelombang kedua yaitu modern, di mana terjadi penemuan mesin-mesin, cakrawala pikir manusia pun berkembang luar biasa. Struktur pemikiran ini menimbulkan suatu kepongahan dalam diri (pikiran) manusia untuk menjangkau Allah. Terjadilah era yang disebut rasional.
Kemudian di era yang berikutnya lagi, berkembang pemikiran posmo dan isme, di mana yang menjadi titik utama adalah perasaan, bukan lagi pada kemampuan berpikir. Dalam pemikiran ini, kemampuan merasa (feeling) menjadi segala-galanya. Maka peranan agama kembali bergeser. Yang paling utama adalah yang ada di dalam, yaitu perasaan.


Namun jangan pernah menganggap kalau kekristenan “mati”di dalam mistik, rasio atau perasaan. Sebab kekristenan justru hidup. Namun yang membuat repot atau menjadi masalah adalah kekristenan itu—di dalam tahap-tahap-nya—juga dipengaruhi oleh paham mistis, rasionalisme, maupun paham yang sangat mengagung-agungkan perasaan. Nah, kehidupan-kehidupan semacam ini mewarnai—atau lebih tepat—menodai ke-kristenan. Tetapi jangan salah mengerti, hal ini bisa terjadi bukan karena Alkitab kurang kuat, atau kebenarannya kurang tepat, tetapi karena ketidakmampuan kita sendiri menjawab realita yang berkembang pada jaman kita masing-masing.


Kebenaran yang hakiki itu adalah Alkitab. Tetapi tidak sedikit kekristenan membuka lubang, sehingga ajaran-ajaran yang salah itu datang, masuk dan memengaruhi kekristenan. Tugas utama kita adalah memengaruhi yang lain-lainnya itu supaya sejalan dengan nilai-nilai kekristenan, karena kita disebut sebagai garam dan terang dunia. Garam mengasinkan dan memberi keawetan pada apa yang dijangkaunya, dan terang mene-rangi segala celah yang mampu dijangkaunya. Begitulah seharusnya orang Kristen.
Yohanes 4: 20-24 berbicara tentang seorang perempuan Samaria yang berdialog dengan Yesus tentang nenek moyangnya yang menyembah di atas gunung. Dan Yesus mengoreksi pendapat perempuan itu dengan mengatakan bahwa Allah itu roh, maka barang siapa menyembahnya harus dalam roh dan kebenaran. Kalimat yang diucapkan Yesus kepada perempuan Samaria itu ternyata menggema di sepanjang jaman: Bahwa seharusnyalah kita menyembah Bapa di dalam roh dan kebenaran. Karena apa? Allah itu roh, dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya di dalam roh dan kebenaran.
BACA SELENGKAPNYA