Jangan Diperalat Harta

22.43 bs 0 Comments


Pdt. Bigman Sirait

Di abad pertengahan pernah ada ordo-ordo yang sangat unik. Mereka yakin bahwa di dalam kesulitan dan kemiskinanlah kebenaran itu ada dan nyata. Berdasarkan keyakinan itu, banyak dari mereka—yang tadinya kaya-raya—menjual seluruh harta bendanya, sampai akhirnya tidak memiliki apa-apa lagi. Lalu hasil penjualan harta benda yang jumlahnya sangat banyak itu diberikan kepada orang-orang miskin. Mereka sendiri pun akhirnya hidup sebagai orang miskin. Mereka seperti anti terhadap harta duniawi.

Selain itu ada juga di antara mereka yang hidup secara askese (menyiksa diri), mengubur diri ke dalam tanah sebatas leher. Ada juga yang sengaja tidur di atas pohon selama berbulan-bulan sampai kulitnya menempel dengan kulit pohon itu. Saking lamanya kulitnya menyatu dengan pohon, belatung pun mulai muncul. Semakin banyak belatung di sana, semakin hebat dan ajaiblah dia menurut anggapannya.

Konsep-konsep semacam ini pernah hidup di abad pertengahan. Tetapi kita tidak perlu meniru mereka. Kita tidak perlu ekstrim kiri atau ekstrim kanan. Tidak usah bercita-cita jadi orang superkaya misalnya untuk bisa melayani. Sebaliknya kita tidak perlu hidup miskin dengan maksud membuktikan kalau Tuhan hidup di dalam diri kita. Apa yang Tuhan percayakan kepada kita, silakan lakukan. Sebaliknya apa yang tidak dipercayakan oleh-Nya, jangan lakukan. Tetapi dengan kecerdikan yang telah dititipkan oleh Tuhan kepada kita, sadarlah kita bahwa itu semua bukan semata untuk menghidupi diri kita sendiri, namun kecerdikan yang ada pada kita harus kita amalkan sebagai saluran berkat bagi orang lain.

Dalam Amsal 19: 17 dikatakan, “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, (maka dia) memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu.” Memiutangi Tuhan, adalah istilah yang sangat menarik. Sebab bagaimana mungkin manusia membuat Tuhan berhutang kepada manusia? Padahal intinya adalah Tuhan akan menyatakan cinta kasih kepada orang yang menyalurkan cinta kasih itu. Jadi dengan demikian, memiutangi dalam konteks ini bukan membuat Tuhan mempunyai kewajiban membayar utang kepada manusia. Istilah itu hanya untuk melukiskan bahwa Tuhan akan mengasihi kita dan membimbing kita sebagai orang yang mengasihi Dia.
Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Artinya, orang beriman pasti berbuat sesuatu yang berguna bagi sesama dan menyenangkan hati Tuhan. Jika punya uang atau harta, itu akan dipakai untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Dan itu dilakukan sebagai luapan rasa syukur yang Tuhan taruh di dalam batinnya. Maka orang yang sadar bahwa dosanya sudah diampuni, akan berbuat banyak, memberi banyak, untuk kemuliaan Tuhan.

BACA SELENGKAPNYA