Budaya yang Sepadan dengan Alkitab
Pdt. Bigman Sirait
DALAM kesempatan ini kita akan mencoba melihat bagaimana relasi budaya manusia dala Manusia berkembang biak menjadi masyarakat dunia, diberi kemampuan mengelola dunia, menguasai dunia ini. Namun sayangnya, manusia jatuh ke dalam dosa. Dan dosa merusak seluruh sistem pada kehidupan manusia, yang mengakibatkan manusia tidak lagi hidup memuliakan Allah. Bagaimana iman Kristen menyoroti budaya? Bagaimana kita melihat budaya? Budaya harus kita tempatkan pada proporsi yang pas, dan ukurannya adalah Alkitab, tidak ada yang lain. Ketika Tuhan menciptakan manusia untuk beranak-cucu di muka bumi, Tuhan juga memerintahkan manusia untuk mengasihi sesama seperti dirinya sendiri (Mat 22: 39).
Jadi, budaya adalah konteks di mana manusia berelasi satu dengan yang lain. Budaya adalah konteks mengatur relasi itu sendiri sehingga manusia saling menopang, bergotong-royong untuk menciptakan suatu sistem masyarakat yang penuh dengan cinta kasih. Suatu sistem masyarakat yang saling mendukung. Salah satu definisi budaya adalah suatu tatanan nilai/adat istiadat, yang mengatur kehidupan. Tapi, antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok lain, budayanya bisa berbeda, karena budaya sangat berkaitan dengan pengalaman hidup suku itu, dan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan seperti letak geografis, dan sebagainya. Budaya yang tinggi akan menghasilkan nilai hidup yang tinggi. Namun, sekalipun seseorang berbudaya tinggi, tidak berarti dia bisa dibenarkan Alkitab. Atau sebaliknya, orang yang berbudaya luhur, sekalipun bukan Kristen, bisa lebih baik dibanding orang Kristen yang tak punya budaya.
Tapi di sini kita tidak membicarakan budaya sebagai satu kaitan dengan keimanan. Kita berbicara mengenai budaya sebagai refleksi orang beriman. Kalau Anda orang beriman, harus mampu merefleksikannya. Jadi, budaya itu harus kita junjung tinggi. Tetapi budaya yang seperti apa? Tentu saja yang sepadan atau sejalan dengan Alkitab. Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada Allah. Hal ini seharusnya direfleksikan budaya. Manusia harus tahu diri, tahu di-untung bahwa dirinya adalah ciptaan Allah. Sebagai makhluk yang dijadikan Allah, manusia harus mengabdi pada Allah. Seluruh nilai, tindakan, pemikiran, mesti di-compare kembali dengan Allah. Dengan demikian, tindakannya yang mencerminkan kasih Allah menjadi budaya hidupnya.
BACA SELENGKAPNYAJadi, budaya adalah konteks di mana manusia berelasi satu dengan yang lain. Budaya adalah konteks mengatur relasi itu sendiri sehingga manusia saling menopang, bergotong-royong untuk menciptakan suatu sistem masyarakat yang penuh dengan cinta kasih. Suatu sistem masyarakat yang saling mendukung. Salah satu definisi budaya adalah suatu tatanan nilai/adat istiadat, yang mengatur kehidupan. Tapi, antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok lain, budayanya bisa berbeda, karena budaya sangat berkaitan dengan pengalaman hidup suku itu, dan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan seperti letak geografis, dan sebagainya. Budaya yang tinggi akan menghasilkan nilai hidup yang tinggi. Namun, sekalipun seseorang berbudaya tinggi, tidak berarti dia bisa dibenarkan Alkitab. Atau sebaliknya, orang yang berbudaya luhur, sekalipun bukan Kristen, bisa lebih baik dibanding orang Kristen yang tak punya budaya.
Tapi di sini kita tidak membicarakan budaya sebagai satu kaitan dengan keimanan. Kita berbicara mengenai budaya sebagai refleksi orang beriman. Kalau Anda orang beriman, harus mampu merefleksikannya. Jadi, budaya itu harus kita junjung tinggi. Tetapi budaya yang seperti apa? Tentu saja yang sepadan atau sejalan dengan Alkitab. Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada Allah. Hal ini seharusnya direfleksikan budaya. Manusia harus tahu diri, tahu di-untung bahwa dirinya adalah ciptaan Allah. Sebagai makhluk yang dijadikan Allah, manusia harus mengabdi pada Allah. Seluruh nilai, tindakan, pemikiran, mesti di-compare kembali dengan Allah. Dengan demikian, tindakannya yang mencerminkan kasih Allah menjadi budaya hidupnya.
